Argumen dari Kesadaran

Argumen dari kesadaran berangkat dari fakta yang langsung: kita adalah subjek yang mampu akan interioritas. Ia bertanya apakah materi yang tidak sadar cukup untuk menjelaskan pengalaman yang dialami ini, atau apakah ia mengandaikan sebab yang sadar.

Ignispedia

Kita dapat mengamati otak seseorang yang sedang kesakitan. Namun, mengamati otaknya tidak sama dengan merasakan sakitnya. Artikel ini menjelaskan mengapa perbedaan itu penting dalam pencarian akan Allah. Artikel ini juga membahas pengalaman lain yang akrab bagi kita: suara batin yang mengingatkan kita pada kebaikan, bahkan ketika kita lebih ingin melupakannya.

Kata kesadaran di sini merujuk pada dua hal. Hati nurani moral adalah kemampuan kita untuk mengenali yang baik dan yang jahat dalam tindakan kita. Pengalaman subjektif adalah apa yang kita alami dari dalam, dari sudut pandang kita sendiri. Merasakan sakit, mencicipi kopi, atau mengingat saat yang membahagiakan adalah beberapa contohnya.

Kedua pengalaman ini menimbulkan pertanyaan yang sama. Apakah dunia yang hanya terdiri dari materi tanpa kesadaran cukup untuk menjelaskan adanya pribadi-pribadi yang merasakan, memahami, dan mengasihi? Argumen dari kesadaran menjawab bahwa keberadaan Allah membuat adanya pribadi-pribadi ini lebih mudah dipahami. Argumen ini mengajak kita mengikuti gagasan tersebut selangkah demi selangkah.

Materialisme adalah pandangan bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya bersifat fisik. Menurut pandangan ini, kehidupan batin kita dapat dijelaskan sepenuhnya oleh materi dan cara kerjanya. Para pendukung argumen ini menolak pernyataan terakhir tersebut. Mereka sepenuhnya mengakui pentingnya otak, sambil mempertanyakan apa yang sebenarnya dijelaskan oleh uraian tentang otak.

Kecerdasan buatan adalah sistem komputer yang mampu, misalnya, menghasilkan kalimat atau menyelesaikan tugas tertentu. Istilah ini juga sering disingkat AI. Mesin semacam itu dapat berbicara tentang rasa sakit. Namun, apakah itu cukup untuk menunjukkan bahwa mesin tersebut merasakan sakit? Pertanyaan ini akan membantu kita memahami perbedaan antara menjalankan suatu proses dan mengalami sesuatu.

Newman: di hadapan siapa hati nurani menempatkan kita?

John Henry Newman adalah seorang kardinal Katolik. Ia dikanonisasi pada 2019. Dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 1870, ia mengembangkan penalaran yang berangkat dari hati nurani moral kita.[1] Titik awalnya sangat nyata: kita dapat merasa wajib berbuat baik, bahkan ketika kita tidak ingin melakukannya.

Kewajiban ini tidak sekadar menyerupai selera pribadi. Lebih menyukai suatu warna daripada warna lain tidak mengikat kita seperti ketika kita mengenali suatu ketidakadilan. Hati nurani kita juga dapat bertentangan dengan kepentingan kita saat itu. Hati nurani dapat meminta kita memperbaiki kesalahan yang tidak diketahui siapa pun.

Jadi, hati nurani tidak sama dengan pendapat mayoritas. Hati nurani dapat menuntun kita untuk menolak apa yang diterima banyak orang. Bahkan, hati nurani dapat bertentangan dengan hukum negara. Newman tertarik pada kewibawaan batin ini, yang kita rasakan tidak dapat kita ubah sesuka hati.

Namun, ia terutama memperhatikan perasaan yang menyertai keputusan kita. Setelah berbuat salah, kita dapat merasa malu dan menyesal. Setelah memperbaiki kesalahan, kita dapat kembali merasa damai. Perasaan-perasaan ini bukan sekadar informasi tentang apa yang telah kita lakukan: kita merasa bahwa hal itu menyangkut diri kita secara pribadi.

Sebuah perbandingan membantu kita memahami gagasannya. Ketika jatuh, kita tidak merasa malu di hadapan gaya gravitasi. Kesalahan matematika tidak membuat kita merasa bersalah di hadapan aturan matematika. Sebaliknya, kesalahan moral dapat membuat kita merasa harus mempertanggungjawabkan diri di hadapan seseorang.

Melanggar suara hati nurani berarti bertindak melawan kebaikan yang ditunjukkannya kepada kita. Newman merumuskan penalarannya sebagai berikut:

“Jika, sebagaimana kenyataannya, kita merasakan tanggung jawab, merasa malu dan takut melanggar suara hati nurani, hal itu berarti ada Seseorang yang kepadanya kita bertanggung jawab, di hadapan-Nya kita merasa malu, dan yang tuntutan-Nya atas kita kita takuti.”

John Henry Newman, An Essay in Aid of a Grammar of Assent, bab V, § 1.[2]

Jadi, ia tidak sekadar mencari aturan untuk membedakan yang baik dari yang jahat. Ia mempertanyakan hubungan kita dengan aturan itu. Mengapa pelanggaran terhadapnya terasa seperti tanggung jawab pribadi? Mengapa hati nurani seolah menempatkan kita di hadapan tatapan seseorang, bukan di hadapan rumus yang tidak bersifat pribadi?

Bagi Newman, keberadaan Allah yang bersifat pribadi membantu menerangkan pengalaman ini. Kita bukan sekadar berhadapan dengan daftar larangan. Ada Seseorang yang mengenal kita dan memanggil kita untuk berbuat baik. Kedamaian yang kembali setelah kita memperbaiki kesalahan pun mendapat makna sebagai hubungan yang dipulihkan.

Penalaran ini bukan pembuktian matematika. Penalaran ini tidak menjadikan setiap rasa malu sebagai bukti pasti akan Allah. Penalaran ini menawarkan cara memahami seluruh pengalaman moral kita. Menurut Newman, pengalaman itu lebih mudah dipahami jika kita benar-benar bertanggung jawab di hadapan pribadi yang mampu mengenal kita.

Ajaran Katolik sejalan dengan gagasan ini. Katekismus menggambarkan hukum yang ditemukan manusia di lubuk hati nuraninya, tanpa ia sendiri yang menetapkannya. Suara ini memanggilnya untuk mengasihi, melakukan yang baik, dan menghindari yang jahat.[3] Jadi, suara itu mengarahkan kita pada kebaikan yang perlu dilakukan, bukan hanya pada kesalahan yang telah terjadi.

Jalan ini sejalan dengan argumen moral. Argumen itu mempertanyakan dasar dari kewajiban yang sungguh berlaku, bahkan ketika kita ingin menghindarinya. Newman sendiri menekankan perjumpaan pribadi yang diisyaratkan oleh kewajiban tersebut. Ia berusaha memahami mengapa hati nurani berbicara kepada kita seolah-olah kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita.

Lewis: mengapa kita dapat memercayai akal budi kita?

C. S. Lewis menawarkan jalan lain yang dekat dengan jalan sebelumnya. Akal budi adalah kemampuan kita untuk menelaah gagasan agar dapat mengenali apa yang benar. Kita menggunakannya ketika membandingkan argumen atau memeriksa perhitungan. Lewis bertanya bagaimana kemampuan ini dapat dijelaskan jika pikiran kita sepenuhnya dihasilkan oleh mekanisme tanpa kecerdasan.

Mengatakan bahwa penalaran berlangsung di dalam otak saja belum cukup. Kita masih perlu memahami apa yang membuat suatu penalaran menjadi penalaran yang baik. Sebuah pikiran dapat muncul dalam benak kita dan ternyata salah. Pikiran lain dapat benar karena sesuai dengan kenyataan dan didukung alasan yang baik.

Biokimia mempelajari reaksi kimia dalam makhluk hidup. Atom adalah unsur penyusun materi yang sangat kecil. “Arus buta” atom di sini berarti gerakan tanpa kecerdasan maupun maksud.

Lewis merangkum persoalannya dalam sebuah perbandingan yang kuat:

“Jika pikiran sepenuhnya bergantung pada otak, otak pada biokimia, dan biokimia, pada akhirnya, pada arus atom yang tanpa makna, saya tidak memahami bagaimana pemikiran pikiran-pikiran itu dapat memiliki makna lebih daripada suara angin di pepohonan.”

C. S. Lewis, “Is Theology Poetry ?”, dimuat kembali dalam The Weight of Glory.[4]

Kata penting di sini adalah “sepenuhnya”. Lewis tidak menyangkal bahwa otak dan reaksi kimia ikut berperan dalam pemikiran. Ia bertanya apakah uraian ini cukup untuk menjelaskan nilai pemikiran itu. Menjelaskan bagaimana suatu keyakinan muncul belum menunjukkan mengapa keyakinan tersebut layak dianggap benar.

Bayangkan dua orang berbeda pendapat tentang suatu perhitungan. Mengukur aktivitas listrik otak mereka saja tidak akan menentukan siapa yang benar. Kita harus menelaah langkah perhitungan mereka dan memeriksa kesimpulannya. Yang menentukan jawaban yang benar adalah penalarannya, bukan sekadar adanya aktivitas otak.

Jadi, persoalan ini juga menyangkut pembelaan terhadap materialisme. Orang yang membela pandangan ini meminta agar argumennya diakui sebagai argumen yang sah. Menurut Lewis, dengan begitu ia memercayai akal budi, padahal penjelasannya sendiri tentang dunia justru melemahkan dasar kepercayaan itu. Ia harus menjelaskan mengapa mekanisme tanpa kecerdasan dapat menghasilkan pemikiran yang mampu mengenali kebenaran.

Keberatan ini bukan berarti bahwa semua pemikiran yang memiliki riwayat fisik pasti salah. Kesimpulan itu terlalu terburu-buru. Keberatan ini membedakan dua pertanyaan: bagaimana suatu pikiran muncul, dan mengapa pikiran itu memiliki dasar yang benar? Lewis berpendapat bahwa penjelasan yang lengkap harus menjawab keduanya.

Dari situ, ia menarik kesimpulan yang menuntut kita berpikir lebih jauh. Jika penalaran kita sepenuhnya hanyalah rangkaian proses buta, kemunculannya tidak menjamin kebenarannya. Hal ini berlaku baik bagi keyakinan materialistis maupun keyakinan yang berlawanan. Jadi, menurut Lewis, penjelasan ini juga melemahkan argumen yang digunakan untuk membela materialisme. Penjelasan itu tidak memberi alasan untuk lebih memercayai argumen tersebut daripada argumen yang berlawanan.

Jawaban Kristen melihat kecerdasan kita sebagai sesuatu yang lebih dari mekanisme. Allah yang cerdas dapat menciptakan makhluk yang mampu mengenali kebenaran tertentu. Kepercayaan pada akal budi pun mendapat dasar dalam kecerdasan Sang Pencipta. Argumen ini tidak menggantikan pemeriksaan terhadap penalaran: argumen ini berusaha menjelaskan mengapa pemeriksaan itu bermakna.[5]

Pertanyaan ini juga berkaitan dengan argumen kehendak bebas, yang membahas kemampuan kita untuk memilih dan mempertanggungjawabkan tindakan kita. Dalam kedua hal ini, yang dipersoalkan adalah kedudukan pribadi manusia. Apakah kita hanya tempat terjadinya berbagai peristiwa, atau dapatkah kita sungguh memahami, menilai, dan memutuskan?

Otak yang dilihat dari luar dan kehidupan yang dialami dari dalam

Sekarang kita beralih dari hati nurani moral ke pengalaman yang kita alami. Neurosains adalah bidang penelitian yang mempelajari otak dan sistem saraf. Bidang ini dapat meneliti ingatan, persepsi, atau akibat cedera otak. Penelitian ini sangat penting untuk memahami kondisi tubuh yang memungkinkan kehidupan batin kita.

Pertanyaan filosofis dimulai ketika kita bertanya apakah uraian ini menjelaskan segalanya. Melihat bagian otak mana yang aktif saat seseorang kesakitan tidak sama dengan merasakan sakit itu. Mengamati seseorang yang melihat warna merah tidak sama dengan melihat warna merah sebagaimana ia melihatnya. Tetap ada perbedaan antara pengalaman yang diamati dan pengalaman yang dialami.

Otak sungguh berperan penting. Pertanyaannya adalah mengapa aktivitas otak disertai pengalaman yang dirasakan. Infografik orisinal Ignispedia yang dibuat dengan AI

Filsuf Thomas Nagel menggambarkannya dengan contoh kelelawar. Kita dapat mempelajari sistem saraf dan caranya berburu. Kita juga dapat mempelajari suara yang digunakannya, yang terlalu tinggi untuk didengar telinga kita. Pengetahuan ini menggambarkan hewan tersebut dari luar. Pengetahuan itu tidak langsung memberi kita pengalaman yang dirasakannya ketika hidup sebagai kelelawar.[6]

Seekor grand murin: Nagel bertanya seperti apa rasanya menjadi makhluk seperti itu. © Petr Vodička, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Ini tidak membuat pengetahuan tersebut menjadi tidak berguna. Pengetahuan itu hanya menjawab pertanyaan lain. Menjelaskan bagaimana suatu makhluk bekerja belum menjelaskan mengapa ada sesuatu yang dialami oleh makhluk itu. Persoalannya menyangkut sudut pandang dari dalam ini, bahkan ketika sudut pandang itu sangat berbeda dari sudut pandang kita.

Filsuf David Chalmers membuat pembedaan ini terkenal pada 1995. Ia berbicara tentang masalah-masalah “mudah” dan satu masalah “sulit” dalam kesadaran.[7] Masalah-masalah yang pertama menyangkut proses kerja otak: menyimpan informasi, mengarahkan perhatian, atau menghasilkan respons. Sebutan itu tidak berarti bahwa masalah-masalah tersebut mudah dipecahkan dalam praktik.

David Chalmers, yang membedakan masalah-masalah mudah dari masalah sulit kesadaran pada 1995. © DannyGolcman, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Masalah sulit mempertanyakan mengapa proses-proses tersebut disertai pengalaman. Mengapa persepsi warna tidak hanya berupa pengolahan informasi? Mengapa ada pula warna yang dilihat oleh seseorang? Bahkan uraian proses yang sangat rinci masih menyisakan pertanyaan ini untuk ditelaah.

Kehidupan batin juga mencakup beberapa aspek. Pertama, ada apa yang kita rasakan, seperti sakit atau rasa kopi. Ada pula kenyataan bahwa pikiran kita tertuju pada sesuatu. Memikirkan Roma bukan sekadar mengalami suatu peristiwa di dalam otak: pikiran itu berkaitan dengan sebuah kota.

Terakhir, ada orang yang mengalami semua ini. Kita tidak sekadar membicarakan rasa sakit, ingatan, dan keputusan yang terletak berdampingan. Seseorang dapat mengenali pengalaman-pengalaman itu sebagai pengalamannya sendiri. Ia mengingat, memahami, dan memutuskan dalam satu kehidupan batin yang sama.

Filsuf Frank Jackson menawarkan contoh lain. Ia membayangkan seorang ilmuwan bernama Marie, yang mengetahui segala hal yang dapat diketahui secara fisik tentang penglihatan warna. Namun, sepanjang hidupnya ia tinggal di ruangan hitam putih. Apa yang terjadi ketika ia melihat warna merah untuk pertama kalinya?

Pertanyaannya adalah apakah saat itu ia mempelajari sesuatu. Jika ia mempelajari sesuatu yang baru tentang warna merah, berarti pengetahuan fisiknya yang lengkap belum memberinya seluruh pengetahuan tersebut. Kemungkinan inilah yang perlu ditelaah melalui contoh itu. Contoh ini tidak menceritakan percobaan yang benar-benar dilakukan. Ini adalah situasi rekaan untuk menguji batas suatu penjelasan.[8]

Seberapa jauh penalaran ini berlaku masih diperdebatkan. Penalaran ini bukan bukti melawan materialisme yang diterima semua orang. Namun, penalaran ini membuat persoalan yang harus dipecahkan menjadi sangat jelas. Mengetahui seluruh rincian cara kerja sesuatu dan mengetahui pengalaman dari dalam tampaknya merupakan dua hal yang berbeda.

Adanya hubungan erat antara otak dan kesadaran tidak cukup untuk menghapus perbedaan ini. Anestesi adalah tindakan medis yang antara lain dapat membuat seseorang tertidur. Anestesi dapat menghentikan sementara pengalaman sadar. Lesi adalah cedera. Lesi pada otak dapat mengubah ingatan.

Fakta-fakta ini menunjukkan adanya ketergantungan yang nyata. Namun, menunjukkan bahwa dua hal berubah bersama belum menjelaskan apakah yang satu sepenuhnya menerangkan yang lain. Lavagna menggunakan perbandingan sederhana: seorang pelukis bergantung pada kuasnya untuk melukis, tetapi ia bukan kuasnya.[9]

Perbandingan ini hanya menggambarkan perbedaan antara bergantung pada sesuatu dan menjadi sesuatu yang sama. Perbandingan ini sendiri tidak membuktikan apa itu pikiran manusia. Persoalannya tetap bagaimana menjelaskan pribadi manusia secara utuh beserta pengalamannya.

Argumen ini: apakah kesadaran memerlukan sumber yang sadar?

Matthieu Lavagna menyajikan penalaran ini dalam Soyez rationnel, devenez catholique ! Titik awalnya adalah kemampuan kita untuk menyadari kehadiran diri kita sendiri.[10] Kita tidak sekadar mengalami berbagai peristiwa. Kita juga dapat mengenalinya, memahaminya, dan bertanya apa maknanya.

Sebab adalah sesuatu yang menghasilkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dihasilkan itu disebut akibat. Salah satu tujuan penjelasan adalah memahami bagaimana suatu sebab dapat menghasilkan akibat yang diamati. Di sini, akibat yang perlu dijelaskan adalah adanya pribadi-pribadi yang sadar dan cerdas.

Lavagna menyusun argumennya dalam tiga langkah.[11] Pertama, kita benar-benar memiliki kesadaran dan kecerdasan. Kedua, menurutnya, kenyataan yang sepenuhnya bersifat materi, tanpa kesadaran dan tanpa kecerdasan, tidak cukup untuk menjelaskan kemampuan-kemampuan ini. Karena itu, dasarnya harus dicari dalam kenyataan yang sadar dan cerdas, yang ia sebut Allah.

Langkah kedua merupakan inti perdebatan. Mengapa kenyataan tanpa kesadaran tidak dapat menghasilkan makhluk yang sadar? Lavagna menjawab dengan bertumpu pada prinsip kausalitas proporsional. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu sebab harus memiliki apa yang diperlukan untuk menjelaskan apa yang dihasilkannya.[12]

Prinsip ini tidak menuntut agar sebab tampak serupa dengan hasilnya. Seorang arsitek tidak memiliki batu bata dalam pikirannya. Ia memiliki rancangan yang memungkinkan batu bata disusun. Apa yang ia sumbangkan bagi bangunan itu ada dalam dirinya dengan cara yang berbeda dari keberadaannya dalam bangunan yang sudah selesai.

Tradisi filsafat membedakan beberapa cara suatu sebab memiliki apa yang dihasilkannya. Suatu sebab dapat memiliki sifat yang sama dengan akibatnya. Sebab itu juga dapat memiliki kemampuan untuk menghasilkannya, tanpa menyerupainya. Terakhir, apa yang ada dalam diri kita secara terbatas dapat hadir dalam Allah tanpa keterbatasan kita.

Allah bukan satu pribadi yang sadar di antara pribadi-pribadi lainnya. Ia adalah sumber yang mampu mengadakan pribadi-pribadi yang sadar.

Santo Thomas Aquinas. Prinsip yang digunakan menuntut agar suatu sebab memiliki apa yang diperlukan untuk menjelaskan akibatnya. Gambar domain publik.

Ketika diterapkan pada topik kita, prinsip ini mengarah pada pertanyaan yang jelas. Apa yang memungkinkan kenyataan yang sama sekali tidak sadar menghasilkan sudut pandang dari dalam? Apakah menambahkan rincian tentang susunan materi menjawab pertanyaan ini? Atau apakah kita tetap hanya menggambarkan apa yang terjadi, tanpa menjelaskan mengapa ada seseorang yang mengalaminya?

Para pendukung argumen ini berpendapat bahwa sumber yang sadar menjawab persoalan tersebut dengan lebih baik. Allah yang cerdas dapat menciptakan makhluk yang mampu memahami. Allah yang bersifat pribadi dapat menciptakan pribadi-pribadi yang mampu menjalin hubungan. Dengan demikian, pikiran bukanlah sesuatu yang asing bagi dasar keberadaan dunia.

Ini tidak berarti bahwa Allah adalah otak yang lebih besar daripada otak kita. Allah adalah pencipta pribadi-pribadi, bukan unsur materi yang ditambahkan ke dalam dunia.

Lavagna juga menekankan bahwa penciptaan ini masuk akal. Jika Allah ada, dapat dipahami bahwa Ia ingin menciptakan makhluk yang mampu mengenal dan mengasihi-Nya.[13] Kehidupan batin kita pun bukan kejutan yang tidak berkaitan dengan asal-usul dunia. Kehidupan batin itu sesuai dengan maksud Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan ajaran Kristen tentang manusia yang diciptakan menurut gambar Allah.

Langkah-langkah penalaran ini tetap perlu dipertahankan dengan alasan yang kuat. Menyadari bahwa kita memiliki kesadaran tidak memungkinkan kita langsung melompat ke semua pernyataan iman Katolik. Argumen ini pertama-tama menelaah penjelasan terbaik tentang kesadaran tersebut. Kekuatannya antara lain bergantung pada kesulitan yang dihadapi jawaban-jawaban lain.

Apakah materi dan susunannya sudah cukup?

Seorang materialis memiliki keberatan yang serius. Kehidupan mental kita sangat bergantung pada otak. Tidur, kelelahan, penyakit, cedera, atau zat tertentu dapat mengubah pengalaman kita. Mengapa mencari sesuatu selain cara kerja sistem saraf untuk menjelaskan apa yang berubah bersamanya?

Jadi, pandangan ini bertumpu pada pengamatan yang nyata. Pandangan ini tidak boleh digambarkan sebagai penolakan untuk berpikir. Pandangan ini mencari penjelasan yang menyeluruh, yang menganggap pikiran dan sensasi sebagai keadaan otak. Para pendukung argumen ini mengakui pengamatan tersebut, tetapi menolak bahwa pengamatan itu cukup untuk membuktikan bahwa keduanya adalah hal yang sama.

Jawaban mereka membedakan kondisi yang memungkinkan suatu pengalaman dan pengalaman itu sendiri. Menjelaskan jaringan saraf yang terlibat dalam rasa sakit menerangkan sebagian dari apa yang terjadi dalam tubuh. Kita masih perlu menjelaskan mengapa aktivitas itu terasa menyakitkan bagi seseorang. Pertanyaan ini tidak hilang hanya karena uraiannya menjadi lebih rinci.

Jawaban lain menggunakan istilah emergensi. Istilah ini berarti munculnya suatu sifat yang berkaitan dengan susunan suatu keseluruhan. Dalam kasus kita, gagasannya adalah bahwa kesadaran muncul ketika otak mencapai susunan yang cukup rumit. Usulan ini layak ditelaah, tetapi istilah tersebut mencakup beberapa penjelasan yang berbeda.

Emergensi lemah berarti suatu sifat yang pada prinsipnya dapat dijelaskan sepenuhnya oleh cara kerja fisik keseluruhan tersebut. Contoh klasiknya adalah sifat cair air. Molekul adalah kumpulan kecil atom yang saling terikat. Sifat cair ini berkaitan dengan cara molekul-molekul berperilaku bersama. Sifat itu tetap merupakan sifat fisik yang dapat kita amati dari luar.

Karena itu, perbandingannya dengan kesadaran menimbulkan kesulitan. Rasa sakit tidak hanya tampil sebagai perilaku bersama yang dapat diamati. Rasa sakit juga dirasakan. Agar perbandingan itu menjelaskan kesadaran, kita harus menunjukkan bagaimana susunan fisik menerangkan dimensi yang dialami ini, bukan hanya perilaku.

Sebaliknya, emergensi kuat menyatakan bahwa sifat yang benar-benar baru muncul, tanpa dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sifat-sifat fisik awalnya. Jadi, pandangan ini mengakui kenyataan mental yang tidak cukup dijelaskan oleh uraian fisik saja. Pandangan ini menanggapi kesadaran dengan serius, tetapi menjauh dari materialisme ketat yang dijelaskan di awal.

Jawaban ini kemudian menggeser pertanyaannya. Mengapa sifat baru itu muncul? Bagaimana hubungannya dengan susunan otak? Mengatakan bahwa sifat itu ada merupakan suatu langkah, tetapi langkah itu belum menjelaskan asal-usulnya. Karena itu, para pendukung argumen ini menuntut lebih dari sekadar pernyataan bahwa sesuatu muncul.

Terakhir, ada penggunaan istilah ini yang jauh lebih kabur. Kita dapat mengatakan bahwa kesadaran muncul, lalu berhenti menjelaskan. Dalam hal ini, istilah tersebut hanya memberi nama pada fenomena itu. Istilah itu tidak menunjukkan bagaimana susunan yang tidak memiliki sudut pandang dapat menjadi pengalaman yang dirasakan.

Jadi, kritik ini tidak menyangkut kerumitan otak. Tidak seorang pun perlu menyangkal kerumitan itu untuk mengajukan persoalan ini. Kritik tersebut menyangkut apa yang dianggap dapat dijelaskan oleh kerumitan itu. Menurut Lavagna, uraian yang lebih rinci tidak dengan sendirinya menunjukkan mengapa susunan ini harus disertai sesuatu yang dirasakan.[14]

Pertanyaan penentunya tetap terbuka untuk ditelaah: apakah kita hanya perlu lebih memahami mekanismenya? Atau haruskah kita juga mengakui adanya dimensi yang tidak tercakup dalam uraian mekanisme itu? Argumen dari kesadaran membela jawaban kedua. Argumen ini bertumpu pada perbedaan antara cara kerja yang dapat diamati dan adanya seseorang yang mengalaminya.

Jawaban lain: materi yang sadar, ilusi, dan mesin

Panpsikisme mengusulkan bahwa pada tingkat dasarnya, materi memiliki bentuk kehidupan mental yang sangat sederhana. Jadi, pandangan ini tidak membuat seluruh kesadaran muncul dari kenyataan yang sama sekali tidak memiliki unsur mental. Pandangan ini berusaha menanggapi kesulitan sebelumnya dengan serius. Ini bukan berarti setiap unsur materi berpikir seperti manusia.

Kelebihannya adalah bahwa unsur mental tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sama sekali asing bagi dasar kenyataan. Namun, pandangan ini menghadapi kesulitan baru. Bagaimana pengalaman-pengalaman sederhana yang tersebar dapat membentuk satu pribadi? Adanya banyak sudut pandang belum menunjukkan bagaimana muncul seseorang yang mengatakan “aku”.

Inilah yang disebut masalah kombinasi. Masalahnya adalah menjelaskan bagaimana pengalaman-pengalaman yang terpisah dapat menjadi satu pengalaman yang utuh. Menjumlahkan unsur-unsur tidak otomatis menjelaskan kesatuan diri orang yang mengingat, berjanji, atau mengasihi. Karena itu, panpsikisme harus menerangkan kesatuan pribadi ini.

Penjelasan melalui Allah menawarkan titik awal yang lain. Pribadi yang sadar bukan berasal dari pengalaman-pengalaman sederhana yang harus disatukan. Pribadi itu diciptakan oleh Roh yang mampu mengadakan pribadi-pribadi. Menurut para pendukung argumen ini, penjelasan tersebut lebih langsung menjawab adanya satu subjek yang utuh.

Ilusionisme adalah pandangan lain: pandangan ini menyangkal bahwa pengalaman batin kita benar-benar ada dalam arti kuat yang kita berikan kepadanya. Kita merasa memiliki kehidupan batin yang terdiri dari berbagai sensasi, tetapi kesan ini dianggap tidak menggambarkan kenyataan dengan tepat. Jawaban ini bertujuan mempertahankan penjelasan yang sepenuhnya bersifat materi.

Para pendukung argumen ini segera mengajukan keberatan. Bagaimana kita memahami kesan ini tanpa mengakui adanya sesuatu yang dialami? Sebuah ilusi tampaknya sudah mengandaikan bahwa ilusi itu tampak bagi seseorang. Jika teori ini menghapus semua yang dirasakan, teori ini tampaknya juga menghapus fakta yang seharusnya dijelaskannya.

Jadi, perbedaan pendapat ini menyangkut hal yang sangat mendasar. Dapatkah suatu penjelasan membawa kita untuk menyangkal pengalaman yang menjadi titik awalnya? Argumen dari kesadaran menjawab bahwa fakta dasar ini harus dipertahankan. Bahkan ketika aku meragukan apa yang kurasakan, ada sesuatu yang dialami dalam keraguan itu.

Kecerdasan buatan menghadirkan keberatan lain lagi. Sistem-sistem ini menghasilkan kalimat, menjawab pertanyaan, dan menjalankan tugas yang tampaknya memerlukan pemikiran. Bukankah kemampuannya menunjukkan bahwa pemikiran dapat bersifat mekanis? Tidak adil jika kita mengabaikan pertanyaan ini tanpa menelaah apa yang dilakukan sistem-sistem tersebut.

Namun, kemampuan melakukan sesuatu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengalaman batin. Mesin dapat menggambarkan rasa sakit tanpa membuktikan melalui gambaran itu bahwa ia merasakan sakit. Mesin dapat menjawab pertanyaan tentang warna merah tanpa menunjukkan bahwa ia melihat warna merah. Di sini kita kembali menemukan perbedaan antara proses yang berhasil dijalankan dan pengalaman yang dirasakan.

Hal ini tidak memungkinkan kita menjawab dengan mudah semua pertanyaan tentang kemungkinan kesadaran buatan. Jika kita menyatakan bahwa mesin dapat menjadi sadar, kita masih perlu menjelaskan apa yang akan membuatnya sadar. Mengapa cara kerjanya akan disertai sesuatu yang dirasakan? Kerumitannya atau kemampuannya berbicara tidak otomatis menjawab pertanyaan itu.

Jadi, kedua kemungkinan tersebut membawa kita kembali pada persoalan yang sama. Jika mesin berhasil tanpa merasakan apa pun, keberhasilan menjalankan tugas tidak cukup untuk menjelaskan kesadaran. Jika mesin merasakan sesuatu, pengalaman itu perlu dijelaskan. Dengan demikian, kecerdasan buatan membuat perbedaan ini lebih jelas, tanpa dengan sendirinya memberikan penyelesaiannya.

Apa yang ditegaskan Gereja tentang tubuh dan jiwa

Masih ada satu keberatan: jika pikiran melampaui materi, hubungannya dengan tubuh tetap perlu dijelaskan. Bagaimana kita memahami bahwa cedera tubuh dapat mengubah kehidupan mental?

Keberatan ini beralasan. Mengakui adanya kesulitan dalam materialisme tidak otomatis menyelesaikan semua pertanyaan tentang pikiran. Berbagai penjelasan harus dibandingkan beserta kesulitannya masing-masing. Penjelasan yang satu harus menerangkan pengalaman sadar dari sesuatu yang tidak sadar; penjelasan yang lain harus memahami hubungan antara pikiran dan tubuh.

Namun, pandangan Katolik tidak menggambarkan jiwa sebagai pilot yang terkurung di dalam mesin. Jiwa adalah yang menghidupkan tubuh manusia. Jiwa bersifat rohani: jiwa tidak dapat direduksi menjadi materi. Jiwa bukan pribadi kedua yang tinggal di dalam tubuh kita. Manusia adalah kesatuan tubuh dan jiwa.

Untuk menjelaskan hal ini, Katekismus menggunakan kata bentuk. Di sini, kata itu berarti apa yang menjadikan materi sebagai manusia yang hidup, bukan bentuk luarnya. Jadi, ini bukan soal menambahkan benda tak terlihat pada tubuh yang sudah lengkap. Tubuh dan jiwa termasuk dalam kesatuan pribadi yang sama.

“Kesatuan jiwa dan tubuh begitu mendalam sehingga jiwa harus dianggap sebagai ‘bentuk’ tubuh; artinya, berkat jiwa rohani, tubuh yang tersusun dari materi menjadi tubuh manusia yang hidup; roh dan materi, dalam manusia, bukanlah dua kodrat yang disatukan, melainkan penyatuannya membentuk satu kodrat tunggal.”

Katekismus Gereja Katolik, § 365.[15]

Kesatuan ini menjelaskan mengapa orang Kristen menanggapi peran otak dengan serius. Ingatan, persepsi, dan ungkapan kehidupan batin kita berakar dalam tubuh kita. Gangguan pada tubuh benar-benar dapat mengubahnya. Jadi, mengakui adanya jiwa rohani tidak membenarkan pengabaian terhadap penemuan tentang sistem saraf.

Gereja juga menegaskan bahwa setiap jiwa rohani diciptakan langsung oleh Allah. Jiwa itu tidak dihasilkan oleh orang tua.[16] Pernyataan ini tidak mengurangi peran mereka dalam kelahiran anaknya. Pernyataan ini menjelaskan bahwa dimensi rohani pribadi manusia tidak dapat dipahami sebagai hasil biologis semata.

Tubuh juga bukan penjara yang harus kita tinggalkan. Pribadi manusia secara utuh dipanggil kepada kebangkitan badan. Artinya, orang mati akan kembali memiliki kehidupan bertubuh. Dengan demikian, iman Katolik memegang bersama kenyataan tubuh, dimensi rohani, dan kesatuan pribadi.[17] Iman Katolik menolak mengorbankan salah satunya untuk mempertahankan yang lain.

Sejumlah peneliti otak juga telah menolak penjelasan tentang pikiran yang sepenuhnya bersifat materi. Di antara peneliti tersebut ada John Eccles, Wilder Penfield, dan Roger Sperry. Pandangan mereka bukan bukti akan Allah. Pandangan mereka menunjukkan bahwa mengenal otak melalui penelitian laboratorium tidak selalu membuat seseorang mereduksi pribadi manusia menjadi cara kerja otaknya.

Eccles dengan keras mengkritik penyederhanaan ini. Setelah penelitiannya tentang stimulasi otak, Penfield menilai bahwa penjelasan yang membedakan pikiran dan tubuh lebih masuk akal. Sperry juga menolak pandangan materialistis tentang pikiran.[18][19][20] Kesaksian mereka mendukung pembedaan yang penting: pengamatan ilmiah berperan penting, tetapi penafsiran filosofisnya tetap perlu ditelaah.

Penjelasan yang sungguh menjawab atau cara menutupi ketidaktahuan kita?

Kini kritik yang paling penting dapat dirumuskan. Kita sering tidak memahami cara kerja suatu fenomena sebelum akhirnya memahaminya dengan lebih baik. Mengapa kesadaran harus menjadi pengecualian? Bukankah menyebut Allah hanya menggantikan penelitian yang sulit dengan jawaban keagamaan?

Keberatan ini tepat sasaran jika penalarannya berbunyi: kita tidak tahu, maka jawabannya Allah. Namun, para pendukung argumen ini menawarkan hal lain. Mereka tidak sekadar menunjuk informasi tentang otak yang belum diketahui. Mereka berpendapat bahwa menggambarkan proses dan menjelaskan pengalaman yang dirasakan adalah dua tugas yang berbeda.

Contoh Marie membuat perbedaan ini menjadi nyata. Dalam situasi rekaan itu, Marie sudah memiliki seluruh pengetahuan fisik yang relevan. Jadi, persoalannya bukan sekadar penemuan ilmiah yang masih ditunggu. Persoalannya adalah apakah pengetahuan tersebut mencakup segala sesuatu yang dapat diketahui tentang pengalaman.

Kesulitan ini tidak hanya muncul dalam perdebatan agama. Naturalisme, dalam kutipan ini, berarti cara memahami dunia yang berusaha hanya mengandalkan sumber daya fisik. Nagel sendiri tidak percaya kepada Allah. Namun, ia menulis:

“Kesadaran adalah hambatan paling nyata bagi naturalisme komprehensif yang hanya mengandalkan sumber daya ilmu fisik.”

Thomas Nagel, Mind and Cosmos, 2012, hlm. 35.[21]

Nagel tidak menyimpulkan bahwa dengan demikian kekristenan telah terbukti. Pengamatannya menyangkut batas penjelasan tersebut. Hal ini cukup untuk menunjukkan bahwa pertanyaannya tidak hanya muncul karena keyakinan agama.

Jadi, argumen ini tetap memiliki cakupan yang jelas. Argumen ini membandingkan penjelasan tentang kesadaran, akal budi, dan kehidupan pribadi kita. Argumen ini berpendapat bahwa Allah yang cerdas membuat semua itu lebih mudah dipahami daripada kenyataan yang sepenuhnya buta. Argumen ini tidak mengaku memberikan perhitungan yang memaksa semua pembaca mencapai kesimpulan yang sama.

Argumen ini juga dapat dipahami lebih baik jika dihubungkan dengan penalaran lain. Argumen kosmologis bertanya mengapa ada hal-hal yang keberadaannya bergantung pada sesuatu yang lain. Argumen itu mencari sumber yang keberadaannya sendiri tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Argumen dari kesadaran menambahkan pertanyaan tentang apa yang harus dapat dijelaskan oleh sumber tersebut.

Penyetelan presisi alam semesta menelaah keteraturan matematis dunia dan hubungannya dengan kecerdasan pencipta. Argumen moral mempertanyakan kewajiban nyata untuk berbuat baik. Argumen kehendak bebas menelaah pilihan dan tanggung jawab. Tidak satu pun menggantikan yang lain: masing-masing berangkat dari aspek yang berbeda dalam pengalaman kita.

Pribadi manusia, tubuh dan jiwa, dipanggil untuk mengenal dan mengasihi Allah. Infografik orisinal Ignispedia yang dibuat dengan AI

Manfaat menghubungkan semuanya adalah mencari penjelasan bersama. Mengapa ada dunia, mengapa dunia dapat dipahami, dan mengapa di dalamnya ada pribadi-pribadi yang mampu mengenali kebenaran dan mengasihi? Gagasan tentang Allah pencipta menyatukan pertanyaan-pertanyaan ini. Kesadaran pun menjadi salah satu unsur dalam kumpulan argumen yang mendukung keberadaan Allah yang lebih luas.

Hal-hal yang perlu diingat

  • Hati nurani moral membuat kita mengenali tanggung jawab yang melampaui keinginan kita.
  • Newman melihatnya sebagai tanda hubungan dengan Allah yang bersifat pribadi.
  • Menggambarkan aktivitas otak belum menjelaskan mengapa aktivitas itu dialami.
  • Penalaran kita juga memerlukan penjelasan tentang kemampuannya mencapai kebenaran.
  • Jawaban materialistis dan berbagai alternatifnya harus menjawab kesulitan-kesulitan ini.
  • Penjelasan melalui Allah menempatkan kecerdasan yang sadar sebagai asal pribadi-pribadi yang sadar.
  • Bagi Gereja, tubuh dan jiwa membentuk satu pribadi.

Argumen dari kesadaran berangkat dari hal yang paling dekat dengan kita: kenyataan bahwa kita mengalami sesuatu. Argumen ini meminta kita menanggapi pengalaman itu dengan serius, tanpa memisahkannya dari tubuh. Otak benar-benar berperan dalam kehidupan batin kita. Pertanyaannya adalah apakah otak saja memberikan seluruh penjelasannya.

Jawaban Kristen menawarkan asal-usul yang sepadan dengan kehidupan ini. Kita dapat mengenal dan mengasihi karena keberadaan kita berasal dari Allah yang cerdas dan bersifat pribadi. Kesadaran kita tidak lagi asing bagi dasar dunia. Kesadaran itu menemukan tempatnya dalam ciptaan, tempat pribadi-pribadi dapat berjumpa dengan penciptanya.

Santo Agustinus mengungkapkan gerak ini sebagai pencarian ketenangan dalam Allah:

“Engkau telah menjadikan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.”

Santo Agustinus, Confessions, I, 1, 1.[22]

Catatan dan Referensi

  1. John Henry Newman, An Essay in Aid of a Grammar of Assent, Burns, Oates & Co., Londres, 1870, bab V, “Apprehension and Assent in the Matter of Religion”, § 1, “Belief in One God”. Newman dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada 13 Oktober 2019.

    1
  2. John Henry Newman, An Essay in Aid of a Grammar of Assent, Burns, Oates & Co., Londres, 1870, bab V, § 1. Terjemahan bahasa Prancis diberikan dalam artikel sumber. Artikel itu menyatakan bahwa teks asli bahasa Inggris telah diperiksa dalam reproduksi edisi Burns, Oates & Co. oleh Project Gutenberg, no. 34022. Terjemahan bahasa Prancis yang disebut sebagai rujukan: Grammaire de l'assentiment, terjemahan Marguerite Paris, Bloud, Paris, 1907.

    2
  3. Catéchisme de l'Église Catholique, § 1776, mengutip Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, § 16, 7 Desember 1965. Teks resmi bahasa Prancis: https://www.vatican.va/archive/FRA0013/_INDEX.HTM.

    3
  4. C. S. Lewis, “Is Theology Poetry ?”, makalah yang dibacakan di Oxford Socratic Club pada 6 November 1944, diterbitkan dalam The Socratic Digest, vol. 3, 1945; dimuat kembali dalam The Weight of Glory and Other Addresses, edisi Walter Hooper, Macmillan/Collier Books, 1980. Terjemahan bahasa Prancis diberikan dalam artikel sumber.

    4
  5. Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, MDN Productions, distribusi Salvator, edisi pertama 2022, edisi yang dikutip: April 2023, hlm. 114, varian pembuktian melalui akal budi.

    5
  6. Thomas Nagel, “What Is It Like to Be a Bat?”, The Philosophical Review, vol. 83, no. 4, Oktober 1974, hlm. 435-450.

    6
  7. David J. Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, vol. 2, no. 3, 1995, hlm. 200-219. Dikembangkan dalam The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory, Oxford University Press, 1996.

    7
  8. Howard Robinson et Ralph Weir, Dualism, Stanford Encyclopedia of Philosophy, https://plato.stanford.edu/entries/dualism/, bagian 4.1, “The Knowledge Argument”, revisi 17 Oktober 2025, diakses pada 4 Oktober 2026 dalam artikel sumber. Rujukan ini menyajikan varian argumen pengetahuan dan merujuk pada Jackson 1982 untuk contoh Marie.

    8
  9. Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, MDN Productions, distribusi Salvator, edisi pertama 2022, edisi yang dikutip: April 2023, hlm. 112, analogi pelukis yang bergantung pada kuasnya.

    9
  10. Matthieu Lavagna, karya yang sama, hlm. 110, pembukaan bagian “La preuve par la conscience”.

    10
  11. Matthieu Lavagna, karya yang sama, hlm. 112, perumusan argumen dari kesadaran.

    11
  12. Matthieu Lavagna, karya yang sama, hlm. 112, catatan 133. Rujukan kepada Santo Thomas Aquinas: apa yang ada dalam akibat harus terkandung dalam sebab secara formal, virtual, atau eminent. Artikel sumber juga merujuk kepada Edward Feser, Five Proofs of the Existence of God, Ignatius Press, San Francisco, 2017, hlm. 170-176.

    12
  13. Matthieu Lavagna, karya yang sama, hlm. 111, perbandingan antara penjelasan melalui Allah dan penjelasan melalui materi saja.

    13
  14. Matthieu Lavagna, karya yang sama, hlm. 114, catatan 135, tentang tidak adanya hubungan keharusan logis yang diberikan oleh uraian struktur otak saja.

    14
  15. Catéchisme de l'Église Catholique, § 365. Teks resmi bahasa Prancis: https://www.vatican.va/archive/FRA0013/_INDEX.HTM.

    15
  16. Catéchisme de l'Église Catholique, § 366: setiap jiwa rohani diciptakan langsung oleh Allah dan tidak dihasilkan oleh orang tua.

    16
  17. Catéchisme de l'Église Catholique, §§ 362-366, bagian pertama, seksi kedua, bab I, artikel 1, paragraf 6, “L'homme”.

    17
  18. Michel-Yves Bolloré et Olivier Bonnassies, Dieu, la science, les preuves, Trédaniel, 2021, hlm. 246 dalam PDF yang dikutip artikel sumber. Rujukan kepada John C. Eccles, Evolution of the Brain: Creation of the Self, Routledge, 1989; terjemahan bahasa Prancis Évolution du cerveau et création de la conscience, Flammarion, 1994, hlm. 322. Pemaparan tidak langsung tentang pandangannya, tanpa kutipan baru.

    18
  19. Michel-Yves Bolloré et Olivier Bonnassies, karya yang sama, hlm. 248 dalam PDF yang dikutip artikel sumber. Sumber primer yang disebutkan: Wilder Penfield, The Mystery of the Mind: A Critical Study of Consciousness and the Human Brain, Princeton University Press, 1975. Pemaparan tidak langsung tentang pandangannya.

    19
  20. Michel-Yves Bolloré et Olivier Bonnassies, karya yang sama, hlm. 250 dalam PDF yang dikutip artikel sumber. Sumber primer yang disebutkan: Roger Sperry, Science and Moral Priority, Columbia University Press, 1983, hlm. 28. Pemaparan tidak langsung tentang pandangannya.

    20
  21. Thomas Nagel, Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature is Almost Certainly False, Oxford University Press, New York, 2012, hlm. 35. Terjemahan bahasa Prancis diberikan dalam artikel sumber. Artikel itu juga merujuk pada hlm. 12 mengenai posisi Nagel yang tidak percaya kepada Allah.

    21
  22. Saint Augustin, Confessions, I, 1, 1. Kutipan bahasa Prancis disalin persis dari artikel sumber. Artikel itu menyebut terjemahan Arnauld d'Andilly, 1649, sebagai terjemahan rujukan, yang diterbitkan kembali dalam Œuvres de saint Augustin, Bibliothèque augustinienne, vol. 13-14, Desclée de Brouwer.

    22