Argumen dari Kesadaran

Argumen dari kesadaran berangkat dari fakta yang langsung: kita adalah subjek yang mampu akan interioritas. Ia bertanya apakah materi yang tidak sadar cukup untuk menjelaskan pengalaman yang dialami ini, atau apakah ia mengandaikan sebab yang sadar.

Ignispedia

Argumen dari kesadaran adalah salah satu argumen teis yang paling hidup dalam filsafat kontemporer. Argumen ini berangkat dari fakta paling langsung dalam pengalaman manusia: kita bukan sekadar organisme yang memproses informasi, melainkan subjek yang sadar. Bagi masing-masing kita, ada kehidupan batin: rasa sakit yang dirasakan, sukacita yang dialami, niat yang diarahkan pada suatu objek, ingatan yang dialami sebagai milikku, kehadiran pada diri sendiri, kemampuan untuk berkata “aku”. Pertanyaan apologetisnya sederhana: pandangan dunia manakah yang paling baik menjelaskan keberadaan interioritas ini?

Argumen ini tampil dalam dua bentuk yang saling melengkapi. Bentuk pertama, yang berasal dari tradisi Katolik, berangkat dari kesadaran moral: suaranya yang berwibawa serta emosi malu dan rasa bersalahnya menunjuk kepada Allah yang personal, inilah argumen Newman. Bentuk kedua, yang berasal dari perdebatan filsafat analitis kontemporer, berangkat dari kesadaran fenomenal: pengalaman yang dialami dalam sudut pandang orang pertama (qualia, intensionalitas, subjektivitas) menolak setiap reduksi yang murni material, inilah argumen Chalmers, Nagel, dan Moreland. Kedua bentuk itu bertemu pada kesimpulan yang sama: alam semesta yang hanya berisi materi yang tidak sadar tidak menjelaskan secara memadai kedua dimensi pengalaman manusia ini.

Silogisme argumen dari kesadaran: ada pengalaman subjektif; deskripsi fisik menjelaskan fungsi, tetapi bukan sudut pandang batin; hipotesis teis menempatkan roh pada fondasi realitas. Infografis asli Ignispedia yang dibuat dengan AI.

Materialisme menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada, pada dasarnya, bersifat fisik. Padahal yang fisik digambarkan dalam istilah struktur, massa, energi, keluasan, fungsi, dan relasi kausal. Kesadaran, sebaliknya, menghadirkan data dari tatanan lain: sebuah sudut pandang orang pertama. Sebagaimana diringkas oleh Internet Encyclopedia of Philosophy, hard problem atau masalah sulit itu terdiri atas upaya menjelaskan mengapa suatu keadaan fisik bersifat sadar dan bukan tidak sadar[1]. Dalam Soyez rationnel, devenez catholique !, Matthieu Lavagna merumuskan argumen ini dari prinsip kausalitas proporsional: akibat harus “dengan cara tertentu terkandung di dalam sebabnya”[2]. Jika akibat yang harus dijelaskan adalah kesadaran yang mampu akan interioritas, intensionalitas, konsep abstrak, dan kasih, maka tidaklah koheren untuk mencari fondasi ultimatnya pada realitas yang sepenuhnya tidak sadar, buta, dan tidak intensional.

Argumen ini tidak mengatakan bahwa ilmu saraf tidak berguna. Argumen ini mengatakan sebaliknya: semakin tepat ilmu saraf menggambarkan korelat serebral kesadaran, semakin tajam pertanyaan metafisisnya. Korelasi otak dan kesadaran belumlah merupakan penjelasan tentang pengalaman yang dialami. Mengetahui zona mana yang aktif ketika seseorang melihat warna merah belum mengatakan mengapa, bagi subjek itu, ada sesuatu yang dirasakan ketika melihat warna merah.

Newman dan hati nurani moral: suara Allah yang personal

Dimensi ganda hati nurani moral

John Henry Newman (1801-1890), yang berpindah dari Anglikanisme pada 1845, diangkat menjadi kardinal oleh Leo XIII pada 1879 (kardinal-diakon San Giorgio in Velabro) dan tetap tinggal di Birmingham, serta dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada 2019, telah memberikan rumusan Katolik yang paling halus dan paling berpengaruh bagi argumen dari kesadaran. Dalam karyanya An Essay in Aid of a Grammar of Assent (1870), ia menguraikan perjalanan yang bergerak dari hati nurani moral biasa menuju keyakinan akan keberadaan Allah yang personal[3].

Kardinal John Henry Newman (1801-1890), potret yang dilukis oleh John Everett Millais pada 1881. Dikanonisasi pada 2019, Newman adalah penulis argumen dari hati nurani yang paling banyak dikutip dalam tradisi Katolik berbahasa Inggris. © Domain publik, via Wikimedia Commons.

Newman berangkat dari pengamatan yang tepat: hati nurani moral berbicara dengan otoritas yang bukan milik kita. Ia bukan sekadar selera estetis, bukan preferensi budaya, dan bukan perhitungan kepentingan. Ketika ia menghakimi, ia dapat bertentangan dengan keinginan kita, dengan opini publik, dan bahkan dengan hukum sipil. Ia mengikat. Namun yang paling menarik perhatian Newman bukan hanya dimensi kewajiban abstrak ini (yang merupakan aspek yang dibela oleh Kant): melainkan karakter emosional dari reaksi yang ditimbulkan oleh hati nurani.

Hukum gravitasi tidak membuat kita malu ketika kita jatuh. Teorema matematika tidak menimbulkan penyesalan. Sebaliknya, pelanggaran terhadap hati nurani moral disertai emosi yang sangat tepat: rasa bersalah, malu, takut akan sanksi, dan, setelah pemulihan, kelegaan, kedamaian, rasa syukur. Padahal emosi-emosi ini memiliki struktur relasional yang tak terhindarkan: orang merasa malu di hadapan seseorang, takut kepada seseorang, lega oleh seseorang. Newman merumuskan hal ini secara menentukan dalam bab sentral Grammar of Assent:

“Jika, sebagaimana kenyataannya, kita merasakan tanggung jawab, merasa malu dan takut melanggar suara hati nurani, hal itu berarti ada Seseorang yang kepadanya kita bertanggung jawab, di hadapan-Nya kita merasa malu, dan yang tuntutan-Nya atas kita kita takuti.” — John Henry Newman, An Essay in Aid of a Grammar of Assent, Burns, Oates & Co., London, 1870, bab V, §1 (terjemahan penulis artikel)[4]

Dari rasa bersalah menuju pribadi Allah

Kekuatan argumen ini terletak pada ketepatan fenomenologisnya: Newman menggambarkan apa yang sungguh terjadi dalam kesadaran manusia, dan menyimpulkan bahwa fenomenologi ini menunjuk kepada seorang Pribadi. Hukum abstrak (fisik, matematis, bahkan moral dalam aspek normatifnya saja) tidak menimbulkan rasa malu, karena rasa malu mengandaikan sebuah pandangan. Rasa bersalah moral memiliki seorang penerima yang bukan sebuah aturan, melainkan subjek yang mampu mengenal dan menghakimi kita.

“Hati nurani adalah utusan dari Dia yang, baik dalam alam maupun dalam rahmat, berbicara kepada kita di balik tabir, serta mengajar dan memerintah kita melalui para wakil-Nya. Hati nurani adalah Wakil Kristus yang asli.” — John Henry Newman, A Letter Addressed to His Grace the Duke of Norfolk, 1875 (terjemahan penulis artikel)[5]

Argumen ini tidak mengklaim membuktikan keberadaan Allah secara matematis. Argumen ini menunjukkan sesuatu yang lebih halus: fenomenologi hati nurani moral koheren dengan keberadaan Allah yang personal, dan dijelaskan secara wajar jika Allah ada, sedangkan ia tetap ganjil dan tidak dapat dijelaskan dalam alam semesta yang murni material. Intuisi Newman ini secara langsung sejalan dengan ajaran Konsili Vatikan II, yang diambil kembali oleh Katekismus:

“Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak ia berikan kepada dirinya sendiri, tetapi yang harus ia taati. Suara itu, yang senantiasa memanggilnya untuk mengasihi dan melakukan yang baik serta menghindari yang jahat, pada saat yang tepat bergema dalam lubuk hatinya.” — Katekismus Gereja Katolik, § 1776, mengutip Gaudium et Spes, § 16[6]

C. S. Lewis dan penolakan-diri naturalisme

C. S. Lewis (1898-1963) menambahkan dimensi lain pada argumen ini, yang sering disebut argumen dari akal (Argument from Reason, AfR). Dalam Miracles, pada bab III edisi revisi (Fontana, 1960; edisi ke-1 Geoffrey Bles, 1947, di mana bab ini berjudul “The Self-Contradiction of the Naturalist”), Lewis mengangkat apa yang ia sebut “kesulitan utama naturalisme”[7]: jika naturalisme benar, kemampuan penalaran kita sendiri adalah produk dari sebab-sebab yang murni material dan nonrasional. Namun sebuah penalaran tidak dapat divalidasi hanya dengan mengidentifikasi sebab-sebab fisiknya.

Lewis sendiri meringkas argumen itu secara padat dalam esainya “Is Theology Poetry?”:

“Jika pikiran sepenuhnya bergantung pada otak, otak pada biokimia, dan biokimia, pada akhirnya, pada arus atom yang tanpa makna, saya tidak memahami bagaimana pemikiran pikiran-pikiran itu dapat memiliki makna lebih daripada suara angin di pepohonan.” — C. S. Lewis, “Is Theology Poetry?” (1944), dimuat kembali dalam The Weight of Glory (terjemahan penulis artikel)[8]

Argumen ini memiliki jangkauan yang tepat: kebenaran sebuah kesimpulan tidak bergantung pada sebab-sebab yang menghasilkan kepercayaan pada kesimpulan itu, melainkan pada relasinya dengan realitas dan dengan kebenaran-kebenaran lain. Jika dua otak tidak sepakat tentang pertanyaan matematis, kita tidak menyelesaikannya dengan mengukur potensial listrik mereka; kita menilai penalarannya. Kemampuan evaluasi rasional ini mengandaikan bahwa akal tidak dapat direduksi menjadi rantai kausal yang buta.

Lewis menyimpulkan bahwa naturalis berada dalam situasi paradoks: ia menggunakan argumen, yaitu tindakan rasional yang mengklaim validitas logis, untuk membela tesis yang akan membuat semua tindakan rasional patut dicurigai. Jika naturalisme benar, tidak ada alasan untuk lebih memercayainya daripada kebalikannya, karena kedua kepercayaan itu akan dihasilkan oleh mekanisme yang sama-sama nonrasional.

Jawaban Katolik bersifat langsung: jika akal manusia sungguh dapat mencapai kebenaran, baik logis, matematis, moral, maupun metafisis, itu karena pikiran manusia adalah sesuatu yang lain daripada mekanisme serebral. Dengan demikian argumen Lewis bertemu dengan Newman: hati nurani moral dan akal sama-sama menunjuk kepada sumber transenden, Logos pencipta yang mendasari rasionalitas makhluk-makhluk-Nya[9].

Kesadaran fenomenal: fakta yang harus dijelaskan

Kehadiran pada diri yang tidak dapat direduksi

Lavagna mendefinisikan kesadaran sebagai kemampuan untuk menganggap diri sendiri sebagai subjek yang ada, atau juga sebagai “kehadiran pada diri sendiri”[10]. Definisi ini mengarah pada kesadaran fenomenal: bukan hanya keterjagaan biologis, bukan pula kemampuan menanggapi stimulus, melainkan fakta bahwa sebuah pengalaman dialami dari dalam.

Perbedaan ini menentukan. Robot dapat membedakan warna, menghitung lintasan, menghasilkan kalimat yang gramatikal, atau memberi sinyal adanya kesalahan. Namun pertanyaannya tetap: adakah seseorang yang kepadanya operasi ini menampakkan diri? Adakah rasa sakit, kekaguman, kesedihan, pemahaman, atau hanya pemrosesan fungsional? Itulah tepatnya yang oleh para filsuf disebut dimensi subjektif atau fenomenal dari pikiran.

Thomas Nagel memberikan rumusan yang kini menjadi klasik: ada kesadaran ketika ada “sesuatu yang dirasakan” menjadi makhluk itu[11]. Kelelawar dapat digambarkan secara objektif: ultrasonik, sistem saraf, perilaku berburu. Namun deskripsi orang ketiga ini tidak menyampaikan apa artinya, dari dalam, menjadi seekor kelelawar. Nagel merumuskan hal itu secara tepat:

“Ada kesadaran ketika dan hanya ketika ada sesuatu yang dirasakan menjadi organisme itu, yaitu suatu karakter subjektif dari pengalaman.” — Thomas Nagel, “What Is It Like to Be a Bat?”, The Philosophical Review, vol. 83, no. 4, Oktober 1974, hlm. 436 (terjemahan penulis artikel)[12]

Nagel tidak menulis sebagai apolog Kristen. Ia justru berupaya menunjukkan batas internal objektivasi ilmiah: semakin kita menggambarkan organisme dari luar, semakin besar risiko kita kehilangan tepat apa yang subjektif dalam pengalaman. Inilah yang membuat artikelnya sangat berguna bagi apologetik: ia memaksa materialis mengakui bahwa persoalannya bukan hanya religius, melainkan filosofis.

Tiga dimensi yang disasar argumen ini

Argumen dari kesadaran menyasar setidaknya tiga realitas mental yang berbeda:

DimensiContohMengapa ini sulit bagi materialisme
QualiaRasa sakit, warna merah, rasa kopiDeskripsi fisik tidak memberikan pengalaman yang dialami itu sendiri.
IntensionalitasBerpikir tentang Roma, percaya bahwa Allah adaKeadaan mental mengarah pada suatu objek atau kebenaran; partikel, sebagai partikel, tidak mengarah pada apa pun.
Subjek personalBerkata aku, mengetahui diri identik dengan diri sendiriSubjek menyatukan banyak tindakan menjadi satu kehidupan batin yang berkesinambungan.

Stanford Encyclopedia of Philosophy menekankan bahwa persoalan fisikalisme dalam filsafat pikiran berpusat terutama pada qualia dan intensionalitas[13]. Jadi ini bukan kesulitan yang diciptakan para apolog: ini adalah salah satu pusat nyata perdebatan filosofis kontemporer.

Kita dapat menambahkan dimensi keempat yang sering terlupakan: normativitas rasional. Sebuah pemikiran bukan hanya peristiwa serebral; ia dapat benar atau salah, dibenarkan atau tidak dibenarkan. Berkata “2 + 2 = 4” bukan hanya memicu keadaan neuronal; itu adalah menangkap sebuah kebenaran. Pertanyaan ini mendekatkan argumen dari kesadaran dengan argumen dari kehendak bebas dan dengan argumen dari akal, yang dikembangkan terutama oleh Victor Reppert, James Ross, dan William Hasker[14].

Bentuk logis argumen ini

Silogisme Lavagna

Lavagna menyajikan argumen ini dalam bentuk sederhana:

  1. Manusia memiliki kecerdasan dan kesadaran: introspeksi, kehadiran pada diri, pemikiran abstrak.
  2. Sebab yang murni material, tidak cerdas, dan tidak sadar tidak dapat secara memadai menghasilkan akibat yang sadar dan cerdas.
  3. Karena itu diperlukan sebab yang proporsional dengan akibat ini: sebab yang sadar, cerdas, yang mendahului kita, yang kita sebut Allah[15].
Persoalannya bukan menyangkal otak, melainkan menjelaskan mengapa proses otak tertentu disertai interioritas yang dialami. Ilustrasi cat air asli Ignispedia.

Versi ini sengaja bersifat metafisis. Ia tidak mengklaim mengisi kekosongan sementara dalam penelitian ilmiah; ia menegaskan bahwa ada perbedaan kodrat antara deskripsi fisik eksternal dan pengalaman subjektif internal.

Prinsip kausalitas proporsional

Prinsip yang digunakan Lavagna bersifat klasik dalam metafisika Thomistik: sebab harus mengandung akibat secara formal, virtual, atau eminen[16]. Ini tidak berarti sebab menyerupai akibat secara material. Arsitek tidak mengandung batu bata di dalam pikirannya; tetapi ia mengandung secara virtual dan intensional rencana yang menata batu bata itu.

Prinsip kausalitas proporsional termasuk dalam metafisika klasik: akibat harus terkandung dalam sebabnya secara formal, virtual, atau eminen. Gambar domain publik.

Diterapkan pada kesadaran, prinsip ini mengatakan hal berikut: jika alam semesta menghasilkan makhluk yang mampu akan kebenaran, kasih, keindahan, matematika, keputusan, dan doa, maka fondasi ultimat alam semesta harus memiliki di dalam dirinya apa yang diperlukan untuk menjelaskan kesempurnaan-kesempurnaan ini. Realitas yang sama sekali tidak sadar dan tanpa segala intensionalitas tidak memiliki sumber daya penjelas yang diperlukan untuk menghasilkan, dengan sendirinya, subjek-subjek yang sadar.

Mengapa hipotesis teis lebih wajar

Jika Allah ada, kesadaran bukanlah kecelakaan yang terlambat dan tidak dapat dijelaskan yang muncul di alam semesta yang asing bagi roh. Sebaliknya ia menjadi dapat dipahami: Roh pencipta dapat menciptakan roh-roh terbatas, yang mampu mengenal yang benar dan masuk ke dalam relasi dengan-Nya. Lavagna merumuskannya dengan tenang: jika Allah ada, tidaklah tidak mungkin bahwa Ia ingin menciptakan makhluk-makhluk sadar yang mampu berada dalam relasi dengan-Nya[17].

Hal ini secara langsung sejalan dengan doktrin Katolik tentang manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Katekismus menggambarkan kesatuan ini dengan cara yang secara filosofis menjawab masalah sulit itu:

“Kesatuan jiwa dan tubuh begitu mendalam sehingga jiwa harus dianggap sebagai ‘bentuk’ tubuh; artinya, berkat jiwa rohani, tubuh yang tersusun dari materi menjadi tubuh manusia yang hidup; roh dan materi, dalam manusia, bukanlah dua kodrat yang disatukan, melainkan penyatuannya membentuk satu kodrat tunggal.” — Katekismus Gereja Katolik, § 365[18]

Dengan demikian argumen dari kesadaran bukanlah impor yang asing bagi Katolisisme: ia mengungkapkan dalam bahasa filosofis intuisi sentral antropologi Kristen[19].

Perdebatan kontemporer dalam filsafat pikiran

Materialisme reduktif

Materialisme reduktif berpendapat bahwa keadaan mental, pada analisis terakhir, adalah keadaan fisik otak. Tesis ini memiliki keuntungan karena menanggapi dengan serius ketergantungan besar kehidupan mental kita pada sistem saraf: cedera, tidur, anestesi, obat-obatan, kelelahan, atau penyakit sungguh mengubah pengalaman sadar. Orang Kristen tidak memiliki alasan untuk menyangkal fakta-fakta ini.

Namun argumen dari kesadaran meminta hal lain: menjelaskan bukan hanya kondisi jasmani pengalaman, melainkan penampakannya yang subjektif. Sebuah teori dapat mengidentifikasi sirkuit rasa sakit, mengukur potensial listrik, menggambarkan neurotransmiter; ia belum menghasilkan rasa sakit yang dialami itu sendiri. Perbedaan inilah yang disebut para penulis berbahasa Inggris sebagai explanatory gap, jurang penjelas.

Kemunculan dan ambiguitasnya

Kemunculan sering disajikan sebagai solusi: kesadaran akan muncul dari organisasi neuronal yang cukup kompleks. Namun kita harus membedakan kemunculan lemah dan kemunculan kuat.

PosisiApa yang ditegaskannyaBiaya filosofis
Kemunculan lemahYang mental pada prinsipnya dapat direduksi menjadi organisasi fisik.Ia tidak menjawab persoalan qualia: ia menggambarkan fungsi, bukan pengalaman yang dialami.
Kemunculan kuatYang mental sungguh baru dan tidak dapat direduksi.Ia meninggalkan materialisme ketat dengan memperkenalkan sifat-sifat mental yang fundamental.
Kemunculan verbalKata kemunculan berfungsi sebagai kesimpulan.Ia memberi nama baru pada kesulitan tanpa menjelaskannya.

Karena itu analogi likuiditas air tidak mencukupi. Likuiditas menggambarkan perilaku molekul yang dapat diamati; ia tetap sepenuhnya berada dalam ranah sifat-sifat fisik publik. Rasa sakit, warna yang dialami, atau perasaan menjadi diri sendiri bukanlah sekadar perilaku kolektif: semuanya diberikan kepada seorang subjek.

Panpsikisme sebagai pengakuan akan kesulitan

Jawaban kontemporer lain adalah panpsikisme: jika kesadaran tidak mudah muncul dari materi yang sepenuhnya tidak sadar, mungkin kita harus mengatribusikan kepada materi fundamental suatu bentuk mentalitas yang rudimenter. Tesis ini mungkin tampak aneh, tetapi kembalinya ia dalam filsafat analitis terbaru sangat berarti: bahkan pemikir non-Kristen mengakui bahwa materialisme reduktif kesulitan menjelaskan pengalaman subjektif.

Empat jawaban atas masalah sulit: reduksi materialis, kemunculan, panpsikisme, dan teisme. Perdebatannya menyangkut penjelasan terbaik tentang orang pertama, bukan keberadaan ilmu saraf. Infografis asli Ignispedia yang dibuat dengan AI.

Namun panpsikisme membayar harga yang tinggi. Ia harus menjelaskan bagaimana mikro-pengalaman yang tersebar akan membentuk subjek personal yang terpadu: inilah masalah kombinasi. Menjumlahkan miliaran sudut pandang mini tidak secara otomatis menghasilkan satu aku yang unik, yang mampu akan ingatan, tanggung jawab, dan kasih. Teisme, sebaliknya, tidak perlu membuat roh asing bagi fondasi realitas: ia menegaskan bahwa Roh pencipta mendahului materi dan dapat menciptakan subjek-subjek terbatas.

Ilusionisme

Ilusionisme berpendapat bahwa kesadaran fenomenal, dalam arti kuat, sungguh tidak ada: kita hanya memiliki ilusi memiliki kehidupan batin yang kualitatif. Posisi ini memiliki keunggulan koherensi materialis, tetapi tampaknya menghancurkan dirinya sendiri. Sebab ilusi sudah merupakan pengalaman: harus ada seseorang yang kepadanya ilusi itu tampil sebagai ilusi. Menyangkal pengalaman yang dialami demi menyelamatkan teori sama dengan menghapus fakta paling langsung yang seharusnya dijelaskan oleh teori itu.

Masalah sulit kesadaran

“Masalah-masalah mudah” dan masalah yang sebenarnya

David Chalmers mempopulerkan pada 1995 perbedaan antara masalah-masalah mudah dan masalah sulit kesadaran[20]. Masalah-masalah mudah itu tidak mudah dalam praktik: mereka menuntut pekerjaan besar dalam ilmu saraf dan psikologi kognitif. Mereka menyangkut perhatian, ingatan, integrasi informasi, kontrol verbal, mekanisme tidur, dan korelat neuronal. Chalmers sendiri merumuskan perbedaannya dengan tajam:

“Sekalipun kita telah menjelaskan pelaksanaan semua fungsi kognitif dan perilaku di sekitar pengalaman, yaitu diskriminasi perseptual, kategorisasi, akses internal, laporan verbal, masih dapat tersisa pertanyaan lebih lanjut: mengapa pelaksanaan fungsi-fungsi ini disertai pengalaman?” — David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, vol. 2, no. 3, 1995, hlm. 201 (terjemahan penulis artikel)[21]

Masalah sulitnya berbeda: mengapa mekanisme ini disertai pengalaman yang dialami? Mengapa organisasi fisik tertentu tidak hanya menghasilkan perilaku, melainkan juga interioritas? IEP meringkas hal ini dengan tepat: bahkan setelah penjelasan tentang sifat-sifat fungsional, dinamis, dan struktural, orang masih dapat bertanya mengapa ada kesadaran[22].

Mengapa korelasi bukanlah penjelasan

Jawaban materialis yang spontan adalah berkata: “kesadaran bergantung pada otak”. Itu benar, tetapi tidak cukup. Cedera otak dapat mengganggu ingatan; anestesi dapat menangguhkan pengalaman sadar; pemindai dapat mendeteksi aktivasi yang terkait dengan persepsi. Semua ini menunjukkan ketergantungan fungsional yang erat.

Namun, sebagaimana dicatat Lavagna, bergantung pada sesuatu tidak sama dengan direduksi menjadi sesuatu itu: pelukis bergantung pada kuasnya untuk melukis, tetapi ia bukan kuasnya[23]. Argumen ini tidak menyangkal bahwa kesadaran manusia mengekspresikan diri melalui otak; ia menyangkal bahwa ketergantungan ini cukup untuk menjelaskan apa itu pengalaman orang pertama.

Kesulitannya dapat dirumuskan demikian: deskripsi neuronal bersifat publik, terukur, objektif; rasa sakit yang dialami bersifat privat, kualitatif, subjektif. Orang dapat memetakan korelat neuronal rasa sakit, tetapi peta itu bukanlah rasa sakit. Perpindahan dari yang satu ke yang lain menuntut lebih daripada ketepatan eksperimental tambahan: ia menuntut prinsip penjelas dari tatanan lain.

Contoh Mary di kamar hitam-putih

Filsuf Frank Jackson membuat persoalan ini terkenal dengan eksperimen pikiran Mary's Room. Mary adalah ilmuwan saraf yang mengetahui semua kebenaran fisik tentang penglihatan warna, tetapi selalu hidup di kamar hitam-putih. Ketika ia melihat warna merah untuk pertama kalinya, apakah ia mempelajari sesuatu yang baru?

Jika ya, maka pengetahuan fisik yang lengkap tidak cukup untuk memberikan pengetahuan tentang pengalaman yang dialami. Stanford Encyclopedia of Philosophy menyajikan argumen ini sebagai salah satu keberatan klasik terhadap fisikalisme, tepat karena ia menyasar qualia[24]. Argumen ini diperdebatkan, tetapi setidaknya ia menunjukkan bahwa kesadaran bukanlah persoalan ilmiah biasa.

Ilmuwan otak melawan reduksionisme

Keberatan terhadap materialisme tidak hanya datang dari filsuf religius. Dieu, la science, les preuves mengumpulkan beberapa pernyataan neurolog dan biolog abad ke-20. Pernyataan itu, dengan sendirinya, tidak cukup untuk membuktikan Allah; tetapi ia menunjukkan bahwa reduksionisme otak-pikiran bukanlah kesimpulan yang dipaksakan oleh sains.

John Eccles (1903-1997), peraih Nobel Kedokteran 1963, menilai bahwa mereduksi dunia pikiran menjadi aktivitas neuronal secara radikal mengurangi misteri manusia, bahkan sampai berbicara tentang “takhayul” materialis[25]. Wilder Penfield (1891-1976), pelopor bedah saraf di Montreal, menulis setelah puluhan tahun stimulasi serebral bahwa hipotesis dualis pada akhirnya tampak baginya paling masuk akal[26]. Roger Sperry (1913-1994), peraih Nobel Kedokteran 1981, juga menentang konsepsi materialis dan reduksionis tentang pikiran manusia[27].

Hal ini penting: para penulis ini mengenal otak dari dalam laboratorium dan ruang operasi. Kritik mereka bukan menyangkal data neurologis, melainkan menolak membiarkan data itu menghabiskan realitas subjek personal.

Keberatan 1: “Kesadaran adalah sifat otak yang muncul”

Jawaban: kata kemunculan dapat memberi nama pada persoalan, tetapi tidak menyelesaikannya. Mengatakan kesadaran muncul dari otak dapat berarti tiga hal yang sangat berbeda.

Arti kata “kemunculan”ContohNilai penjelas
Kemunculan lemahLikuiditas muncul dari molekul H₂OPada prinsipnya dapat direduksi menjadi sifat-sifat fisik dasar.
Kemunculan kuatSifat baru yang tidak dapat direduksi munculIni sudah meninggalkan materialisme reduktif.
Label verbalKesadaran muncul, selesaiKata itu menggantikan penjelasan, bukan memberikannya.

Kemunculan lemah tidak cukup, karena likuiditas masih merupakan sifat yang dapat diobjektivasi dan bersifat struktural: ia menggambarkan perilaku kolektif molekul. Kesadaran, sebaliknya, bukan hanya perilaku kolektif; ia adalah penampakan sudut pandang. Kemunculan kuat mengakui bahwa di alam ada sifat-sifat mental yang tidak dapat direduksi. Namun dengan demikian materialisme ketat sudah kehilangan poin sentralnya: tidak semuanya lagi dapat dijelaskan oleh yang fisik saja.

Karena itu kesulitannya bukan apakah otak diperlukan bagi kesadaran manusia biasa. Memang diperlukan. Kesulitannya adalah mengapa organisasi material, sekompleks apa pun, disertai subjektivitas. Lavagna menekankan hal ini: deskripsi struktur serebral yang lebih halus tidak akan memunculkan hubungan kebutuhan logis antara struktur itu dan kesan subjektif[28].

Keberatan 2: “Ini hanya seruan pada ketidaktahuan”

Jawaban: argumen ini akan lemah jika ia hanya berkata: “hari ini kita tidak dapat menjelaskan kesadaran, karena itu Allah”. Namun bukan itu strukturnya. Ia menegaskan bahwa persoalannya bukan hanya sementara, melainkan kategorial: metode fisik menggambarkan struktur, fungsi, dan relasi; kesadaran menghadirkan penampakan subjektif.

Chalmers sendiri bukan apolog Kristen. Nagel bahkan secara eksplisit nonteis. Namun keduanya mengakui bahwa kesadaran menempatkan materialisme di bawah tekanan. Nagel merumuskan diagnosis ini dengan ketajaman yang membuat persoalannya sulit dihindari:

“Kesadaran adalah hambatan paling nyata bagi naturalisme komprehensif yang hanya mengandalkan sumber daya ilmu fisik.” — Thomas Nagel, Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature is Almost Certainly False, Oxford University Press, New York, 2012, hlm. 35 (terjemahan penulis artikel)[29]

Ia menyimpulkan bahwa, jika materialisme tidak dapat menampung kesadaran dan aspek mental lain dari realitas, pemahaman yang murni materialis tentang alam harus ditinggalkan[30].

Dengan kata lain, argumen ini tidak bergantung pada ketidaktahuan lokal, seperti penyakit yang belum dijelaskan atau tahap biokimia yang belum terselesaikan. Ia bergantung pada perbedaan yang stabil: ilmu fisik menggambarkan dunia dalam sudut pandang orang ketiga; kesadaran diberikan dalam sudut pandang orang pertama. Tidak ada akumulasi orang ketiga yang, hanya dengan penjumlahan, menghasilkan fakta bahwa ada orang pertama.

Keberatan 3: “Dualisme menciptakan lebih banyak masalah daripada yang diselesaikannya”

Jawaban: memang benar dualisme menimbulkan pertanyaan sulit, terutama tentang interaksi antara pikiran dan tubuh. Namun kita harus membandingkan biaya penjelas, bukan menuntut satu posisi saja untuk tidak menyisakan misteri apa pun. Materialisme harus menjelaskan bagaimana yang tidak sadar menghasilkan yang sadar; dualisme harus menjelaskan bagaimana pikiran dan tubuh berinteraksi. Pertanyaannya adalah: misteri mana yang lebih dalam?

Tradisi Katolik tidak membela dualisme Cartesian yang simplistis, di mana jiwa akan menjadi pilot yang terkurung di dalam mesin. Ia menegaskan kesatuan substansial manusia: tubuh dan jiwa membentuk satu kodrat tunggal. Katekismus mengatakan bahwa jiwa adalah bentuk tubuh, bukan objek yang ditambahkan di samping tubuh[31]. Posisi ini, yang sering disebut hilemorfisme, menghindari dua kesalahan: mereduksi manusia menjadi materi, atau meremehkan tubuh sebagai penjara jiwa semata.

Tubuh, otak, jiwa: posisi Katolik tidak menyangkal biologi; ia hanya menolak mereduksi pribadi menjadi mekanisme jasmaninya. Katekismus mengajarkan bahwa jiwa adalah bentuk tubuh dan diciptakan langsung oleh Allah. Infografis asli Ignispedia yang dibuat dengan AI.

Karena itu kesadaran manusia berakar dalam organisme, tetapi ia mewujudkan dimensi yang melampaui organisasi material semata. Itulah sebabnya Kekristenan dapat mempertahankan bersama-sama tiga kebenaran: otak sungguh penting; jiwa rohani tidak dihasilkan oleh orang tua; pribadi manusia adalah kesatuan yang dipanggil menuju kebangkitan tubuh[32].

Keberatan 4: “Panpsikisme menjelaskan kesadaran lebih baik daripada Allah”

Jawaban: panpsikisme benar dalam melihat kesulitan nyata: jika yang mental sama sekali tidak hadir pada fondasi realitas, penampakannya menjadi misterius. Namun ia menyelesaikan kesulitan ini dengan menyebarkan yang mental ke mana-mana, tanpa menjelaskan dengan jelas kesatuan personal. Sifat-sifat mental elementer yang tersebar belum menghasilkan subjek yang mampu berkata aku, menilai yang benar, berjanji, bertobat, atau berdoa.

Teisme menjawab prinsip kausalitas proporsional secara lebih langsung: kesadaran terbatas berasal dari sumber yang sadar secara eminen, bukan dari debu proto-pengalaman impersonal. Sebab pertama bukanlah satu kesadaran di antara kesadaran lain di alam semesta; ia adalah tindakan penciptaan yang memungkinkan keberadaan subjek-subjek terbatas di dunia material.

Keberatan 5: “Kecerdasan buatan menunjukkan bahwa pemikiran bersifat mekanis”

Jawaban: kecerdasan buatan menunjukkan bahwa sistem material dapat menghasilkan keluaran linguistik, menyelesaikan tugas, dan mensimulasikan penalaran. Ia tidak membuktikan bahwa ada pengalaman batin. Mesin dapat memanipulasi simbol, menjawab pertanyaan tentang warna merah, menggambarkan rasa sakit, atau meniru pemeriksaan hati nurani; pertanyaannya tetap: adakah seseorang yang merasakan sesuatu?

Karena itu AI membuat persoalan ini lebih terlihat, bukan menghilangkannya. Ia memaksa kita membedakan kinerja fungsional dan subjektivitas yang dialami. Jika sebuah sistem melaksanakan tugas tanpa sudut pandang batin apa pun, maka keberhasilan fungsional tepatnya tidak cukup untuk menjelaskan kesadaran. Jika, sebaliknya, orang berpendapat bahwa AI dapat menjadi sadar, ia tetap harus menjelaskan apa yang akan membuat orang pertama itu muncul, dan mengapa struktur komputasional akan menghasilkan pengalaman yang dialami, bukan sekadar perilaku.

Kekuatan apologetis argumen ini

Argumen yang berangkat dari bukti yang paling dekat

Argumen dari kesadaran memiliki kekuatan khusus karena ia berangkat dari hal yang paling tidak dapat diragukan. Orang dapat meragukan teori ilmiah, kesaksian historis, interpretasi moral; jauh lebih sulit meragukan fakta bahwa seseorang merasakan sesuatu sementara ia meragukan. Kesadaran bukanlah hipotesis: ia adalah tempat di mana setiap hipotesis tampil.

Hal itu tidak membuat argumen ini otomatis. Materialis dapat memilih ilusionisme, panpsikisme, fisikalisme nonreduktif, atau teori kemunculan. Namun masing-masing pilihan ini membayar harga metafisis yang tinggi. Ilusionisme harus menjelaskan mengapa ilusi kesadaran itu sendiri dialami; panpsikisme mengatribusikan suatu bentuk mentalitas kepada materi fundamental; fisikalisme nonreduktif menambahkan sifat-sifat mental yang tidak dapat direduksi tanpa selalu menjelaskan asal-usulnya.

Argumen kumulatif bersama bukti-bukti teis lainnya

Argumen dari kesadaran tidak bekerja sendirian. Ia masuk ke dalam sebuah konvergensi:

ArgumenFakta awalApa yang dibuatnya lebih dapat dipahami
KosmologisKeberadaan makhluk-makhluk kontingenSebab pertama yang niscaya
Fine tuningKeteraturan matematis alam semestaKecerdasan yang menata
MoralKewajiban objektif akan yang baikSumber transenden hukum moral
Kehendak bebasTanggung jawab dan pilihanSebab yang bebas dan tidak ditentukan
KesadaranSudut pandang batinRoh pertama yang mampu menciptakan roh-roh

Jika diambil bersama-sama, argumen-argumen ini menunjuk ke arah yang sama: alam semesta tidak tampak seperti kecelakaan buta yang secara kebetulan menghasilkan inteligibilitas, nilai, kebebasan, dan interioritas. Ia lebih tampak seperti ciptaan yang berasal dari Kecerdasan yang sadar, yang mampu memberikan kepada makhluk-makhluk terbatas partisipasi nyata dalam pengetahuan dan kasih.

Kesimpulan filosofis

Argumen ini dapat diringkas demikian: materialisme menjelaskan banyak mekanisme dengan baik, tetapi ia kesulitan menjelaskan mengapa ada bagian dalam dunia, yaitu interioritas yang dialami. Teisme, sebaliknya, menempatkan roh pada fondasi realitas: kesadaran terbatas bukan lagi anomali, melainkan akibat yang proporsional dengan Sebab Pertama yang sadar.

Doktrin Katolik tidak menyangkal otak: ia menegaskan bahwa manusia adalah kesatuan tubuh dan jiwa, yang dipanggil untuk mengenal dan mengasihi Allah. Ilustrasi cat air asli Ignispedia.

Ini bukanlah bukti matematis dalam arti sempit. Ini adalah argumen metafisis yang sangat kuat: jika orang menanggapi dengan serius pengalaman subjektif, intensionalitas, akal, dan pribadi, hipotesis Allah pencipta menjadi lebih dapat menjelaskan daripada hipotesis materi buta yang secara misterius menjadi sadar akan dirinya sendiri. Rumusan Agustinus, baris pertama Confessions, mengungkapkan gerakan ini dari dalam kesadaran yang dialami:

“Engkau telah menjadikan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.” — Santo Agustinus, Confessions, I, 1, 1[33]

Untuk mendalami lebih lanjut

  • Argumen moral: hukum moral objektif dan Allah
  • Argumen dari kehendak bebas: kebebasan, tanggung jawab, dan materialisme
  • Bukti-bukti keberadaan Allah: gambaran umum
  • Fine tuning kosmologis: keteraturan matematis alam semesta
  • Jiwa dan evolusi manusia: doktrin Katolik tentang jiwa rohani

Sumber utama

  • Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, MDN Productions (distribusi Salvator), edisi ke-1 2022 (edisi yang dikutip: April 2023), hlm. 110-114.
  • J. P. Moreland, Consciousness and the Existence of God: A Theistic Argument, Routledge, 2008.
  • Ben Page, “Arguing to Theism from Consciousness”, Faith and Philosophy, vol. 37, no. 3, 2020, hlm. 336-362.
  • David J. Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, vol. 2, no. 3, 1995, hlm. 200-219; The Conscious Mind, Oxford University Press, 1996.
  • Thomas Nagel, Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature is Almost Certainly False, Oxford University Press, 2012.
  • Katekismus Gereja Katolik, §§ 362-366.

Catatan dan Referensi

  1. Josh Weisberg, Hard Problem of Consciousness, Internet Encyclopedia of Philosophy, https://iep.utm.edu/hard-problem-of-conciousness/ (ejaan URL sebagaimana di situs), dikonsultasikan pada 4 Oktober 2026. Artikel itu mendefinisikan masalah ini sebagai masalah menjelaskan mengapa keadaan fisik apa pun bersifat sadar dan bukan tidak sadar (“why any physical state is conscious rather than nonconscious”), dan membedakan penjelasan fungsional dari masalah pengalaman subjektif.

    1 22
  2. Matthieu Lavagna, op. cit., hlm. 112, catatan 133. Lavagna merujuk kepada Santo Thomas Aquinas: apa yang ada dalam akibat harus terkandung dalam sebab secara formal, virtual, atau eminen. Lihat juga Edward Feser, Five Proofs of the Existence of God, Ignatius Press, San Francisco, 2017, hlm. 170-176.

    2 16
  3. John Henry Newman, An Essay in Aid of a Grammar of Assent, Burns, Oates & Co., London, 1870. Argumen hati nurani moral dikembangkan dalam bab V, “Apprehension and Assent in the Matter of Religion”, §1 “Belief in One God”. Newman dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada 13 Oktober 2019.

    3
  4. John Henry Newman, An Essay in Aid of a Grammar of Assent, Burns, Oates & Co., London, 1870, bab V, §1. Terjemahan Prancis referensi: Grammaire de l'assentiment, terj. Marguerite Paris, Bloud, Paris, 1907. Teks asli Inggris (terverifikasi pada teks Burns, Oates & Co., direproduksi Project Gutenberg no. 34022): “If, as is the case, we feel responsibility, are ashamed, are frightened, at transgressing the voice of conscience, this implies that there is One to whom we are responsible, before whom we are ashamed, whose claims upon us we fear.” Terjemahan Indonesia yang diberikan dalam artikel ini setia pada teks asli tersebut. Argumen ini memperoleh kekuatannya bukan dari inferensi abstrak, melainkan dari fenomenologi emosi moral (malu, rasa bersalah, kelegaan) yang mengandaikan pandangan personal.

    4
  5. John Henry Newman, A Letter Addressed to His Grace the Duke of Norfolk on Occasion of Mr. Gladstone's Recent Expostulation, B. M. Pickering, London, 1875, bagian V “Conscience”. Teks ini, yang ditulis sebagai tanggapan terhadap polemik politik tentang loyalitas umat Katolik kepada paus, memuat rumusan eklesiologi hati nurani Newman yang paling lengkap. Edisi sebagian Prancis: Conscience et papauté, kata pengantar L. Bouyer, éd. du Cerf. Teks asli Inggris dari bagian yang dikutip (terverifikasi pada edisi Pickering 1875, direproduksi Newman Reader): “[...] it is a messenger from Him, who, both in nature and in grace, speaks to us behind a veil, and teaches and rules us by His representatives. Conscience is the aboriginal Vicar of Christ [...]” (kelanjutannya menyebutkan: nabi melalui informasinya, raja melalui otoritasnya, imam melalui berkat dan anathemanya). Terjemahan Indonesia yang diberikan dalam artikel ini setia pada teks asli tersebut.

    5
  6. Katekismus Gereja Katolik, § 1776, mengutip Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, § 16, 7 Desember 1965. Teks resmi Prancis di vatican.va.

    6
  7. C. S. Lewis, Miracles: A Preliminary Study, Geoffrey Bles, London, 1947 (edisi ke-1; bab III: “The Self-Contradiction of the Naturalist”); edisi revisi, Fontana, London, 1960 (bab III ditulis kembali setelah kritik Elizabeth Anscombe: “The Cardinal Difficulty of Naturalism”). Judul dan kutipan diberikan menurut edisi revisi. Terjemahan Prancis: Les Miracles, terj. Marguerite Faguer, Desclée de Brouwer, Paris, 1964. Argumen ini diperdalam oleh Victor Reppert, C. S. Lewis's Dangerous Idea: In Defense of the Argument from Reason, InterVarsity Press, Downers Grove, 2003; dan oleh Alvin Plantinga, Warrant and Proper Function, Oxford University Press, 1993, bab 11-12 (evolutionary argument against naturalism).

    7
  8. C. S. Lewis, “Is Theology Poetry?”, makalah yang dibacakan di Oxford Socratic Club pada 6 November 1944 (diterbitkan dalam The Socratic Digest, vol. 3, 1945), dimuat kembali dalam The Weight of Glory and Other Addresses, ed. Walter Hooper, Macmillan/Collier Books, 1980. Kutipan asli Inggris: “If minds are wholly dependent on brains, and brains on bio-chemistry, and bio-chemistry (in the long run) on the meaningless flux of the atoms, I cannot understand how the thought of those minds should have any more significance than the sound of the wind in the trees.”

    8
  9. Matthieu Lavagna, op. cit., hlm. 114. Lavagna menunjukkan “variante : la preuve par la raison” dan merujuk terutama kepada Victor Reppert, “The Argument from Reason”, dalam William Lane Craig dan J. P. Moreland (ed.), The Blackwell Companion to Natural Theology, Wiley-Blackwell, 2009, hlm. 344-390; James Ross, “Immaterial Aspects of Thought”, The Journal of Philosophy, vol. 89, 1992, hlm. 136-150; William Hasker, The Emergent Self, Cornell University Press, 1999.

    9 14
  10. Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, MDN Productions (distribusi Salvator), edisi ke-1 2022 (edisi yang dikutip: April 2023), hlm. 110. Pembukaan bagian “La preuve par la conscience” (terbit pertama 2022 menurut catatan biografis penulis).

    10
  11. Thomas Nagel, “What Is It Like to Be a Bat?”, The Philosophical Review, vol. 83, no. 4, Oktober 1974, hlm. 435-450. Artikel klasik tentang karakter subjektif pengalaman sadar.

    11
  12. Thomas Nagel, “What Is It Like to Be a Bat?”, The Philosophical Review, vol. 83, no. 4, Oktober 1974, hlm. 436. Kutipan asli Inggris: “An organism has conscious mental states if and only if there is something that it is like to be that organism—some subjective character of experience.”

    12
  13. Daniel Stoljar, Physicalism, Stanford Encyclopedia of Philosophy, https://plato.stanford.edu/entries/physicalism/ (terbit pertama 13 Februari 2001; revisi substansial 16 September 2026), dikonsultasikan pada 4 Oktober 2026. Versi yang dikonsultasikan memang memuat bagian “Qualia and Consciousness” dan “Intentionality”, karena itu pernyataan dalam tubuh artikel ini demikian.

    13
  14. Matthieu Lavagna, op. cit., hlm. 112. Rumusan tiga premis argumen dari kesadaran.

    15
  15. Matthieu Lavagna, op. cit., hlm. 111. Perbandingan antara penjelasan teis dan penjelasan materialis tentang keberadaan makhluk-makhluk sadar.

    17
  16. Katekismus Gereja Katolik, § 365. Paragraf ini mengambil kembali doktrin Thomistik tentang hilemorfisme, jiwa sebagai bentuk substansial tubuh, dengan membedakannya dari dualisme Cartesian. Teks resmi Prancis di vatican.va.

    18
  17. Katekismus Gereja Katolik, §§ 362-366, bagian pertama, seksi kedua, bab I, artikel 1, paragraf 6 “Manusia”. Teks resmi Prancis di vatican.va.

    19
  18. David J. Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, vol. 2, no. 3, 1995, hlm. 200-219. Dikembangkan dalam David J. Chalmers, The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory, Oxford University Press, 1996.

    20
  19. David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness”, Journal of Consciousness Studies, vol. 2, no. 3, 1995, hlm. 201. Kutipan asli Inggris: “Even if we have explained the performance of all the cognitive and behavioral functions in the vicinity of experience—perceptual discrimination, categorization, internal access, verbal report—there may still remain a further question: Why is the performance of these functions accompanied by experience?”

    21
  20. Matthieu Lavagna, op. cit., hlm. 112. Keberatan kemunculan dan analogi pelukis yang bergantung pada kuasnya.

    23
  21. Howard Robinson dan Ralph Weir, Dualism, Stanford Encyclopedia of Philosophy, https://plato.stanford.edu/entries/dualism/, bagian 4.1 “The Knowledge Argument” (terbit pertama 19 Agustus 2003; revisi substansial 17 Oktober 2025), dikonsultasikan pada 4 Oktober 2026. Dalam versi tetap ini, argumen disajikan melalui varian Harpo, ilmuwan yang tuli sejak lahir dan menjadi ahli pendengaran, dengan rujukan ke entri khusus qualia: the knowledge argument dan kutipan Jackson 1982 (artikel asli Mary).

    24
  22. Michel-Yves Bolloré dan Olivier Bonnassies, Dieu, la science, les preuves, Trédaniel, 2021, PDF lokal yang dikonsultasikan, hlm. 246 dari PDF: kutipan John C. Eccles, yang dalam catatan merujuk kepada Evolution of the Brain: Creation of the Self (edisi ke-1 Routledge, 1989; edisi paperback 1991, dikutip oleh sumber sekunder), dan kepada terjemahan Prancis Évolution du cerveau et création de la conscience, Flammarion, 1994, hlm. 322. Tahun terbit pertama terverifikasi (katalog Princeton; kolofon edisi paperback: “First published in 1989, First published in paperback in 1991”).

    25
  23. Michel-Yves Bolloré dan Olivier Bonnassies, Dieu, la science, les preuves, Trédaniel, 2021, PDF lokal yang dikonsultasikan, hlm. 248 dari PDF: penyajian posisi Wilder Penfield tentang hipotesis dualis setelah karya-karyanya dalam stimulasi serebral. Referensi primer: Wilder Penfield, The Mystery of the Mind: A Critical Study of Consciousness and the Human Brain, Princeton University Press, 1975, di mana penulis menyimpulkan, pada akhir kariernya sebagai ahli bedah saraf, bahwa hipotesis dualis adalah yang paling masuk akal.

    26
  24. Michel-Yves Bolloré dan Olivier Bonnassies, Dieu, la science, les preuves, Trédaniel, 2021, PDF lokal yang dikonsultasikan, hlm. 250 dari PDF; catatan bibliografis buku itu merujuk kepada Roger Sperry, Science and Moral Priority, Columbia University Press, 1983, hlm. 28 (catatan 99 sumber sekunder menulis “1982” karena kesalahan cetak; 1983 terverifikasi: bibliografi resmi Sperry, katalog Columbia University Press).

    27
  25. Matthieu Lavagna, op. cit., hlm. 114, catatan 135. Lavagna menegaskan bahwa tidak ada deskripsi ilmu saraf yang memunculkan hubungan kebutuhan logis antara mikrostruktur serebral dan kesan subjektif.

    28
  26. Thomas Nagel, Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature is Almost Certainly False, Oxford University Press, New York, 2012, hlm. 35. Kutipan asli Inggris: “Consciousness is the most conspicuous obstacle to a comprehensive naturalism that relies only on the resources of physical science.” Nagel secara eksplisit menegaskan (hlm. 12) bahwa ia sendiri bukan orang percaya, yang memperkuat jangkauan filosofis diagnosisnya.

    29
  27. Thomas Nagel, Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature is Almost Certainly False, Oxford University Press, New York, 2012, ringkasan editorial Oxford Academic: jika materialisme tidak dapat menampung kesadaran dan aspek mental lain dari realitas, pemahaman yang murni materialis tentang alam harus ditinggalkan.

    30
  28. Katekismus Gereja Katolik, § 365: kesatuan jiwa dan tubuh begitu mendalam sehingga jiwa harus dianggap sebagai bentuk tubuh.

    31
  29. Katekismus Gereja Katolik, § 366: setiap jiwa rohani diciptakan langsung oleh Allah dan tidak dihasilkan oleh orang tua.

    32
  30. Santo Agustinus, Confessions, I, 1, 1. Teks Latin: “Fecisti nos ad te et inquietum est cor nostrum, donec requiescat in te.” Ditulis sekitar 397-401 M. Terjemahan referensi: terj. Arnauld d'Andilly (1649), diterbitkan kembali dalam Œuvres de saint Augustin, Bibliothèque augustinienne, vol. 13-14, Desclée de Brouwer, Paris.

    33