Mengapa dunia ada? Kita dapat menjelaskan banyak hal melalui hal lain: pohon berasal dari biji, seseorang berasal dari orang tuanya. Tetapi mengapa seluruh kumpulan ini ada? Artikel ini menyajikan penalaran yang mencari jawabannya, lalu membahas keberatan-keberatan utama yang dihadapinya.
Argumen adalah penalaran yang memberikan alasan untuk menerima suatu kesimpulan. Kontingensi berarti keadaan sesuatu yang ada, tetapi bisa saja tidak pernah ada. Kamu benar-benar ada, tetapi kelahiranmu bukan sesuatu yang pasti harus terjadi. Argumen kontingensi mencari mengapa realitas-realitas seperti itu ada, lalu menelusuri penjelasannya hingga mencapai suatu realitas yang tidak bergantung pada realitas lain mana pun.
Langkah pemikiran ini termasuk dalam pemikiran-pemikiran besar tentang keberadaan Tuhan. Langkah ini berangkat dari dunia yang kita kenal, tanpa terlebih dahulu meminta pembaca menerima Alkitab. Tujuannya adalah memahami mengapa dunia ini ada. Kesimpulannya tidak merangkum seluruh iman Kristen, tetapi memperjelas salah satu dasarnya yang penting.
Ada hal-hal yang tidak harus ada
Sebuah pohon bisa saja tidak pernah tumbuh, sebuah gunung tidak pernah terbentuk, seseorang tidak pernah lahir. Hal-hal ini nyata, tetapi keberadaannya bukan suatu keharusan. Itulah sebabnya hal-hal ini disebut wujud kontingen. Di sini, kata “wujud” hanya berarti suatu realitas yang ada.
Jadi, menyebut seseorang kontingen sama sekali tidak mengurangi nilainya. Itu juga tidak berarti bahwa ia selalu rapuh setiap saat. Pertanyaannya menyangkut keberadaannya: mengapa ia ada, padahal ia bisa saja tidak ada? Sebuah bintang yang sangat besar menimbulkan pertanyaan ini sama seperti sebuah pohon.
Sebab adalah sesuatu yang menjadi tempat bergantungnya kemunculan atau keberadaan sesuatu yang lain. Misalnya, orang tua adalah asal mula anak mereka. Tetapi mengetahui sebab terdekat belum tentu menjawab seluruh pertanyaannya. Orang tua juga ada berkat realitas-realitas lain, yang keberadaannya juga membutuhkan penjelasan.
Di ujung lain penalaran ini terdapat wujud niscaya. Istilah ini berarti suatu realitas yang mustahil tidak ada. Jadi, “niscaya” di sini tidak berarti “sangat dibutuhkan”, seperti ketika kita berbicara tentang alat yang dibutuhkan. Artinya, realitas ini tidak mungkin tidak ada.
Ada penjelasan lain yang penting dalam pemikiran Thomas Aquinas. Suatu wujud disebut niscaya melalui dirinya sendiri jika ia tidak menerima dari realitas lain apa yang menjelaskan keniscayaan keberadaannya. Kemandirian ini perlu dibedakan dari sekadar kemustahilan untuk tidak ada. Pada akhirnya, penalaran ini mencari suatu wujud yang niscaya melalui dirinya sendiri.
Matematika memberikan perbandingan yang terbatas. Hasil 2 + 2 = 4 tidak menjadi benar karena suatu peristiwa membuatnya benar. Kebalikannya mustahil, tetapi penalaran ini mencari lebih dari sekadar kebenaran matematika. Sebuah bilangan, dengan sendirinya, tidak membuat pohon atau seseorang menjadi ada.
Suatu realitas disebut abstrak jika ia sendiri tidak menghasilkan akibat. Bilangan adalah salah satu contohnya. Dalam pembahasan ini, realitas konkret dapat bertindak atau menerima tindakan. Wujud niscaya yang dicari haruslah konkret: ia harus menjelaskan keberadaan hal-hal nyata, bukan hanya memberikan suatu gagasan.
Pembedaan ini sudah menjawab sebuah pertanyaan yang sering muncul: jika Tuhan menjelaskan dunia, siapa yang menjelaskan Tuhan? Argumen ini tidak mengatakan bahwa segala sesuatu harus menerima keberadaannya dari sesuatu yang lain. Argumen ini mengatakan bahwa apa yang bisa saja tidak ada membutuhkan penjelasan. Justru wujud yang niscaya melalui dirinya sendiri tidak termasuk dalam kategori ini.[1]
Pemikiran ini tidak berasal dari satu pemikir Kristen saja. Aristoteles, filsuf Yunani, sudah membedakan apa yang mungkin ada dari apa yang sungguh-sungguh ada. Ibnu Sina, filsuf Persia, memperjelas perbedaan antara wujud yang niscaya melalui dirinya sendiri dan wujud yang mungkin ada. Musa Maimonides memakai kembali pembedaan ini dalam pemikiran Yahudi. Thomas Aquinas menerima warisan pemikiran ini dan mengembangkannya.[2]
Pada masa yang lebih dekat dengan kita, Saul Kripke memperjelas istilah dunia-dunia yang mungkin. Dunia yang mungkin adalah suatu keadaan yang mungkin dimiliki realitas tanpa kontradiksi. Kontradiksi menggabungkan pernyataan-pernyataan yang saling meniadakan, seperti gagasan tentang lingkaran berbentuk persegi. Sesuatu yang niscaya ada dalam setiap keadaan yang benar-benar mungkin; sesuatu yang kontingen bisa tidak ada dalam beberapa keadaan.[3]
Santo Thomas: apa yang menopang keberadaan dunia?
Santo Thomas Aquinas adalah pemikir Kristen yang diakui Gereja sebagai tokoh yang sangat berwibawa dalam menjelaskan iman. Dalam Summa Theologiae, ia menyajikan lima jalan penalaran menuju Tuhan. Jalan ketiga ia sebut jalan dari yang mungkin dan yang niscaya. Ia berangkat dari wujud-wujud yang muncul lalu lenyap.
Ia memperkenalkan langkah pemikirannya sebagai berikut:
“Jalan ketiga diambil dari yang mungkin dan yang niscaya.”[4]
Thomas pertama-tama berusaha membuktikan bahwa ada suatu realitas yang niscaya. Lalu ia membedakan dua kemungkinan: realitas ini menerima keniscayaannya dari realitas lain, atau ia niscaya melalui dirinya sendiri. Kemungkinan pertama masih memindahkan penjelasan kepada sesuatu yang lain. Kemungkinan kedua mencapai suatu realitas yang tidak menerima keniscayaannya dari yang lain.
Mengapa pembedaan ini penting? Karena keniscayaan yang diterima selalu mengarahkan kita kepada sesuatu yang memberikannya. Thomas berpendapat bahwa rangkaian keniscayaan yang diterima dengan cara ini tidak memberikan dasar bagi dirinya sendiri, sekalipun tidak ada mata rantai pertama pada masa lalu. Jadi, ia mencari suatu realitas yang niscaya melalui dirinya sendiri, yang mampu menjelaskan realitas-realitas lain tanpa bergantung padanya.
Untuk memahami ketergantungan yang dibahas dalam penalaran ini, mari kita bedakan asal mula pada masa lalu dari penopang pada masa sekarang. Beberapa hal bergantung pada peristiwa yang dahulu terjadi. Hal-hal lain bergantung pada kegiatan atau penopang yang harus ada sekarang. Kedua bentuk ketergantungan ini tidak menimbulkan pertanyaan yang persis sama.
Seorang kakek dapat meninggal sementara cucunya tetap hidup. Keberadaannya pada masa lalu berperan dalam kelahiran keturunannya. Tetapi ia tidak perlu tetap hidup agar mereka terus ada. Dalam contoh ini, pergantian generasi menjelaskan suatu asal mula pada masa lalu.
Melodi yang dimainkan seorang pemusik memberikan gambaran lain. Melodi itu bergantung pada kegiatan pemusik selama dimainkan. Lampu gantung juga bergantung pada penopang yang menahannya. Contoh-contoh ini menunjukkan ketergantungan saat ini: sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain sekarang, bukan hanya ketika pertama kali muncul.[5]
Secara lebih mendalam, Thomas mencari apa yang menjelaskan keberadaan saat ini dari realitas-realitas yang tidak dapat mencukupi dirinya sendiri. Jadi, pertanyaannya melampaui pencarian peristiwa pertama. Kata dasar di sini berarti sesuatu yang memungkinkan realitas-realitas lain ada, tanpa dirinya sendiri bergantung pada realitas-realitas itu. Kata ini tidak berarti suatu benda yang tersembunyi di bawah dunia.
Perbandingan-perbandingan ini membuat pertanyaannya lebih mudah dipahami, tanpa menjadikan Tuhan sebagai langit-langit atau pemusik. Perbandingan itu memperjelas satu hal: menjelaskan bagaimana sesuatu bermula tidak selalu cukup untuk menjelaskan ketergantungannya saat ini. Argumen ini mencari dasar keberadaan, bukan hanya peristiwa yang lebih dahulu terjadi.
Argumen kosmologis Kalam membahas awal mula alam semesta. Alam semesta di sini berarti seluruh dunia materi. Argumen kontingensi mengajukan pertanyaan yang berbeda: bahkan alam semesta yang selalu ada pun bisa bergantung pada sesuatu yang lain. Jangka waktu tanpa awal belum merupakan penjelasan atas keberadaan itu.
Leibniz: mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan?
Leibniz adalah filsuf yang ditampilkan pada gambar pembuka artikel ini. Ia melanjutkan pencarian akan penjelasan paling mendasar dengan rumusan yang kemudian menjadi terkenal. Dalam Principes de la nature et de la grâce, pada tahun 1714, ia bertanya:
“mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan?”[6]
Pertanyaan ini tidak hanya menyangkut kelahiran bintang atau makhluk hidup. Pertanyaan ini menyangkut segala sesuatu yang ada tanpa bersifat niscaya. Ketiadaan berarti tidak adanya realitas sama sekali. Ini bukan ruang kosong yang menunggu untuk diisi: ruang saja sudah merupakan sesuatu.
Bagi Leibniz, kita tidak dapat menjawab hanya dengan menunjuk satu hal tambahan yang sejenis. Menjelaskan pohon melalui biji tetap berguna dan benar. Tetapi biji, tanah, dan segala sesuatu yang memungkinkan keduanya ada juga membutuhkan penjelasan. Jadi, pencarian ini belum selesai.
Leibniz merumuskan prinsip alasan yang cukup. Prinsip ini menyatakan bahwa ada penjelasan bagi apa yang nyata. Prinsip ini menanyakan mengapa keadaan sesuatu demikian dan bukan berbeda. Suatu alasan disebut “cukup” jika benar-benar menjawab pertanyaan itu, bukan sekadar mengulang bahwa sesuatu itu ada.[7]
Kata “alasan” di sini tidak selalu berarti niat manusia. Pertumbuhan pohon dapat dijelaskan tanpa menganggap bahwa pohon itu telah memutuskan untuk tumbuh. Prinsip ini juga tidak menyatakan bahwa kita sudah mengetahui semua penjelasan. Suatu alasan dapat ada meskipun belum kita ketahui.
Perbedaan ini sangat penting. Tidak mengetahui penjelasan suatu hasil tidak membuktikan bahwa hasil itu tidak memiliki penjelasan. Peneliti meneruskan pekerjaannya justru karena ia mengharapkan adanya penjelasan. Ia membedakan persoalan yang belum terjawab dari ketiadaan alasan sama sekali. Leibniz memperluas keyakinan ini hingga mencakup pertanyaan tentang keberadaan itu sendiri.
Jadi, para pendukung prinsip ini melihatnya sebagai tuntutan mendasar dalam berpikir. Penelitian ilmiah ingin memahami mengapa hal-hal terjadi demikian. Penelitian sejarah mencari mengapa suatu peristiwa terjadi. Mengapa pencarian ini harus berhenti ketika berhadapan dengan seluruh realitas yang bisa saja tidak pernah ada?
Leibniz juga membedakan kebenaran yang kebalikannya mustahil dari fakta yang bisa saja berbeda. Hasil matematika termasuk kelompok pertama; keberadaan pohon ini termasuk kelompok kedua. Memahami pertumbuhan pohon memberikan penjelasan-penjelasan khusus. Itu belum menjelaskan mengapa keseluruhannya ada.[8]
Jadi, penjelasan paling mendasar tidak mungkin berupa sesuatu yang lain yang juga bisa saja tidak ada. Jika ia bisa tidak ada seperti pohon, ia hanya akan menambahkan pertanyaan baru. Wujud yang niscaya melalui dirinya sendiri menjawab kesulitan ini: ia menjelaskan tanpa dirinya sendiri membutuhkan penjelasan dari luar. Ia tidak menciptakan dirinya sendiri; ia tidak perlu diciptakan.
Rangkaian tanpa akhir belum menjawab seluruh pertanyaan
Kita dapat mengusulkan sebuah jawaban: setiap hal dijelaskan oleh hal lain, lalu oleh hal lain lagi, tanpa pernah berhenti. Rangkaian ini bersifat tak terhingga. Artinya, ketika menelusuri penjelasan-penjelasannya, kita tidak akan pernah mencapai ujung terakhir. Jadi, tidak ada penjelasan khusus yang hilang. Mengapa masih meminta lebih?
Leibniz menjawab dengan perbandingan tentang buku. Bayangkan setiap buku disalin dari buku sebelumnya. Proses penyalinan menjelaskan mengapa satu eksemplar memiliki isi tersebut. Sekarang anggaplah rangkaian ini tidak memiliki awal: setiap buku selalu memiliki buku acuan yang disalinnya.
Dengan begitu, kita tahu bagaimana isi itu berpindah dari satu eksemplar ke eksemplar lain. Tetapi mengapa kumpulan buku dengan isi seperti ini ada? Tidak adanya eksemplar pertama tidak menjawab pertanyaan baru ini. Itu hanya membuat kita tidak dapat menemukan buku pertama dalam rangkaian tersebut.[9]
Jadi, gagasan utamanya sederhana: memperbanyak ketergantungan tidak dengan sendirinya menghasilkan kemandirian. Namun, kita perlu memperjelas apa yang masih harus dijelaskan. Para pendukung argumen ini mempertimbangkan semua fakta kontingen secara bersama-sama. Mereka bertanya mengapa fakta-fakta ini benar, bukan fakta-fakta lain.
Rumusan masa kini dapat disajikan dalam enam langkah:
- Ada realitas-realitas yang bisa saja tidak pernah ada.
- Keberadaannya membutuhkan penjelasan yang cukup.
- Fakta bahwa semua realitas itu ada dengan keadaan demikian juga bersifat kontingen.
- Suatu realitas kontingen yang termasuk dalam keseluruhan ini tidak dapat memberikan penjelasan lengkap atas keseluruhan itu.
- Jadi, penjelasan ini harus berasal dari suatu realitas yang niscaya.
- Tradisi filsafat mengenali dasar ini sebagai apa yang disebutnya Tuhan.
Poin ketiga harus dipertahankan dengan alasan, dan kita akan membahasnya lagi. Tidak cukup mengatakan bahwa unsur-unsurnya memiliki suatu sifat lalu secara otomatis menganggap keseluruhannya memiliki sifat yang sama. Kita perlu menunjukkan mengapa fakta keseluruhan itu sendiri bisa berbeda. Inilah salah satu perdebatan penting seputar argumen ini.
Poin keempat juga perlu diperhatikan secara khusus. Jika suatu realitas kontingen menjelaskan seluruh keseluruhan itu, keberadaannya sendiri sudah termasuk dalam apa yang harus dijelaskan. Jadi, hal yang dipilih untuk menjelaskan semuanya masih membutuhkan penjelasan. Dengan sendirinya, hal itu tidak memberikan jawaban lengkap yang dicari.[10]
Filsuf Alexander Pruss mengembangkan pencarian ini dengan menyatukan semua fakta kontingen dalam satu pertanyaan. Mengapa semua fakta ini benar? Ia juga menelaah titik berangkat yang tidak menuntut sebanyak itu: fakta-fakta ini mungkin memiliki penjelasan. Jadi, dalam rumusan lain ini, ia tidak terlebih dahulu menyatakan bahwa setiap fakta memang memiliki penjelasan.
Dengan aturan-aturan tambahan tentang apa yang mungkin atau niscaya, ia tetap berusaha membuktikan keberadaan suatu wujud niscaya. Variasi ini merupakan penalaran lain, yang memiliki kerangkanya sendiri. Kalimat “suatu penjelasan mungkin ada” saja tidak cukup untuk memberikan seluruh pembuktian.[11]
Filsuf-filsuf lain juga menyajikan dan membela langkah pemikiran ini sekarang: Edward Feser, Joshua Rasmussen, Frédéric Guillaud, dan Matthieu Lavagna. Penyajian mereka berbeda, tetapi pertanyaan utamanya tetap sama. Tujuannya adalah menjelaskan mengapa hal-hal ini ada, tanpa membiarkan setiap jawaban terus bergantung tanpa akhir pada hal baru yang masih harus dijelaskan.[12]
Mungkinkah alam semesta itu sendiri bersifat niscaya?
Sebuah keberatan penting mengusulkan bahwa alam semesta itu sendiri adalah realitas niscaya yang dicari. Unsur-unsurnya bisa berubah, sementara keberadaannya mustahil ditiadakan. Jadi, satu keseluruhan yang sama bisa ada secara niscaya sambil memiliki keadaan-keadaan yang berbeda. Mengamati perubahan saja tidak cukup untuk membantah usulan ini.
Kita perlu membedakan dua pertanyaan. Mungkinkah alam semesta materi kita sama sekali tidak ada? Dan mengapa fakta-fakta yang bisa berbeda justru demikian keadaannya? Pertanyaan pertama menyangkut keberadaan dunia; pertanyaan kedua juga menyangkut isi dan susunannya.
Para pendukung argumen ini berpendapat bahwa kita dapat membayangkan tidak adanya alam semesta materi kita tanpa kontradiksi. Mereka juga mempertimbangkan alam semesta dengan ciri-ciri yang berbeda. Namun, membayangkan suatu keadaan tanpa kontradiksi yang tampak tidak sama dengan membuktikan bahwa keadaan itu benar-benar mungkin. Jadi, pemikiran ini membutuhkan pembahasan, bukan sekadar pengamatan atas perubahan.[13]
Dunia yang kita amati berisi hal-hal tertentu yang tersebar dengan cara tertentu. Dunia mengikuti hukum-hukum fisika. Inilah aturan-aturan yang dipakai fisika untuk menjelaskan perilaku materi. Hukum-hukum ini melibatkan nilai-nilai tetap. Nilai-nilai itu disebut konstanta fisika.
Mengapa hukum dan nilainya seperti ini, bukan yang lain? Kita dapat membayangkan alam semesta dengan konstanta yang berbeda atau tanpa galaksi, tanpa kontradiksi yang tampak. Ini mendorong kita untuk meminta penjelasan atas ciri-ciri tersebut. Tetapi kemungkinan bahwa ciri-ciri itu berbeda tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap keseluruhan materi bisa tidak ada.
Model ilmiah yang umum dipakai juga memberikan perkiraan usia alam semesta. Model adalah gambaran yang menghubungkan pengamatan-pengamatan melalui asumsi dan perhitungan. Jadi, perkiraan seperti itu bergantung pada hasil pengukuran yang ditafsirkan dalam kerangka tersebut. Perkiraan itu bukan titik berangkat yang mutlak diperlukan bagi argumen ini.
Bahkan alam semesta tanpa awal pun masih menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan dan ciri-cirinya. Jadi, argumen ini tidak bergantung pada usia tertentu dari dunia. Argumen ini menanyakan apakah dunia bisa saja tidak ada. Argumen ini juga mencari mengapa semua fakta kontingen tentang dunia benar.
Penyetelan halus alam semesta memberikan pertanyaan tambahan. Istilah ini berarti ketepatan nilai-nilai fisika yang memungkinkan adanya struktur kompleks dan kehidupan. Mengapa nilai-nilai itu demikian? Bagi para pendukung argumen ini, ketepatan tersebut memperkuat pencarian akan penjelasan, tanpa menjadikan alam semesta niscaya.
Kita kemudian dapat memperluas usulan itu dan membayangkan suatu multisemesta. Kata ini berarti kumpulan beberapa alam semesta. Alam semesta kita hanyalah salah satu anggota dari kumpulan yang lebih luas ini. Tetapi, jika kumpulan ini ada, mengapa ia ada dengan susunan seperti ini dan bukan yang lain?
Fisikawan dan filsuf Bernard Carr menyoroti sebuah kesulitan dalam hipotesis ini. Suatu mekanisme yang mampu menghasilkan alam-alam semesta berbeda harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan ini harus memungkinkan munculnya alam semesta tempat kehidupan mungkin ada. Jadi, keberadaan dan ciri-ciri aturan itu masih membutuhkan penjelasan.[14]
Mari kembali pada keberatan tentang unsur-unsur dan keseluruhannya. Keberatan itu dengan tepat mengingatkan bahwa sifat bagian-bagian tidak secara otomatis menjadi sifat keseluruhan. Jadi, jawabannya bukan sekadar mengulang bahwa setiap hal bersifat kontingen. Jawaban itu menelaah fakta keseluruhan yang terbentuk dari semua fakta kontingen yang digabungkan.
Fakta di sini berarti sesuatu yang benar tentang realitas. Keberadaan orang ini, misalnya, adalah fakta kontingen. Jika ia tidak pernah lahir, fakta bahwa semua orang yang sekarang ada memang ada tidak lagi benar. Jadi, fakta keseluruhan ini bisa tidak berlaku, meskipun orang-orang lain masih ada.
Hal yang sama berlaku bagi gabungan semua fakta kontingen. Jika salah satunya berbeda, gabungan yang persis sama itu tidak lagi benar. Jadi, gabungan ini membutuhkan penjelasan menurut prinsip alasan yang cukup. Ini tidak mengandaikan bahwa semua realitas harus bisa lenyap secara bersamaan.[15]
Jadi, mengusulkan alam semesta yang niscaya tidak cukup untuk menjelaskan mengapa semua fakta kontingen ini benar. Bahkan dalam hipotesis itu, pertanyaannya tetap ada. Langkah pemikiran ini mencari apa yang menjelaskan keberadaannya tanpa menjadi satu lagi realitas kontingen yang termasuk di antaranya. Dalam arti inilah langkah ini menelusuri penjelasan menuju suatu dasar yang niscaya.
Tuhan seperti apa yang dapat dikenal melalui penalaran ini?
Argumen ini pertama-tama sampai pada suatu realitas yang niscaya melalui dirinya sendiri. Tetapi mengapa menyebutnya Tuhan? Jawaban lengkap membutuhkan analisis lebih lanjut. Kita harus mencari seperti apa realitas ini agar benar-benar dapat menjelaskan dunia. Pencarian kedua ini membahas sifat-sifatnya.
Pertama, realitas ini tidak mungkin hanya menjadi satu realitas kontingen tambahan. Kita menyebutnya transenden. Artinya, ia tidak menjadi bagian dunia seperti bintang atau planet. Jadi, pembedaan ini tidak berarti jarak yang sangat jauh di ruang angkasa.
Selanjutnya, realitas ini tidak boleh bergantung pada gabungan bagian-bagian. Jika demikian, mengapa bagian-bagian itu menyatu dengan cara tersebut? Penyatuannya akan membutuhkan penjelasan baru. Di sini kita berbicara tentang kesederhanaan. Kata ini berarti tidak adanya bagian-bagian yang dirangkai, bukan kemiskinan atau kurangnya kekayaan.
Analisis klasik juga menyatakan bahwa realitas ini tidak memiliki batas-batas sewenang-wenang. Batas sewenang-wenang adalah batas tertentu yang dibiarkan tanpa alasan yang cukup. Mengapa batas ini dan bukan batas lain? Jika penjelasannya masih bergantung pada realitas lain, kita belum mencapai dasar mandiri yang dicari.
Dalam kerangka inilah analisis klasik mempertahankan sifat nonmateri dari dasar ini. Artinya, dasar ini tidak terbuat dari materi. Materi yang diamati memiliki batas dan ciri-ciri tertentu, yang justru sedang kita cari penjelasannya. Dasar paling mendasar tidak dapat sekadar memiliki kembali batas-batas itu tanpa menjawab pertanyaan yang ditimbulkannya.[16]
Realitas ini juga harus mampu membuat realitas-realitas konkret menjadi ada. Rumus matematika tidak cukup: menggambarkan suatu gejala tidak dengan sendirinya menghasilkan gejala itu. Jadi, dasar yang dicari memiliki daya yang nyata. Ia menjelaskan keberadaan dunia, bukan hanya menjadi cara untuk menggambarkannya.
Analisis klasik juga sampai pada suatu realitas yang mampu mengetahui dan berkehendak. Sifat pribadi ini berperan dalam jawaban atas suatu kesulitan: bagaimana wujud niscaya dapat menghasilkan dunia yang kontingen? Jawabannya memakai gagasan kebebasan. Tuhan dapat menciptakan dunia ini tanpa harus menciptakannya.
Jawaban ini membedakan keberadaan Tuhan yang niscaya dari tindakan-Nya mencipta. Jawaban ini tidak menggambarkan dunia sebagai akibat yang pasti harus muncul dari-Nya. Kita akan menjumpai kesulitan ini lagi di antara keberatan-keberatan. Untuk menjelaskan mengapa dasar ini mengetahui dan berkehendak, penalarannya perlu dilanjutkan.
Terakhir, analisis klasik berpendapat bahwa hanya ada satu wujud yang niscaya melalui dirinya sendiri. Jika dua wujud seperti itu berbeda, yang satu akan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki yang lain. Perbedaan ini perlu dijelaskan. Suatu batas sewenang-wenang pada salah satunya akan memunculkan kembali pertanyaan yang seharusnya diselesaikan oleh dasar niscaya tersebut.
Pengembangan ini memberikan isi yang jelas pada kesimpulannya, tetapi masing-masing membutuhkan penalarannya sendiri. Tujuannya bukan sekadar menambahkan suatu daya yang tidak dikenal ke dalam alam semesta. Yang dimaksud adalah suatu realitas yang mandiri dari dunia dan mampu menjelaskan keberadaannya. Ia sendiri tidak menerima keberadaannya dari realitas lain mana pun.
Spinoza, filsuf lain yang memikirkan Tuhan dan alam, menyamakan keduanya. Jawaban klasik menolak penyamaan ini: alam yang diamati memuat realitas dan fakta kontingen yang sedang kita cari penjelasannya. Menyebutnya Tuhan tidak menyelesaikan ketergantungan ini. Jadi, dasar tersebut menjelaskan alam sekaligus berbeda darinya.[17]
Kesimpulan ini belum membuktikan seluruh ajaran Kristen. Kesimpulan ini tidak secara langsung mengungkapkan Tritunggal. Istilah ini berarti satu Tuhan dalam tiga pribadi. Kesimpulan ini juga tidak membuktikan Inkarnasi. Kata ini berarti bahwa Tuhan menjadi manusia dalam Yesus Kristus.[18]
Keberatan-keberatan utama dan jawabannya
Tidak semua kritik menyangkut hal yang sama. Sebagian mempersoalkan cara kita mengetahui sebab; sebagian lain menolak meminta penjelasan atas seluruh alam semesta. Ada pula yang berpikir bahwa kesimpulannya tidak mungkin merupakan Tuhan dalam iman Kristen. Membedakan pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita memahami apa yang diberikan oleh setiap jawaban.
David Hume: apakah kita benar-benar melihat hubungan antara sebab dan akibatnya? Filsuf ini menekankan bahwa kita mengamati peristiwa-peristiwa yang secara teratur terjadi berurutan. Lalu kita terbiasa mengharapkan peristiwa kedua setelah yang pertama. Tetapi apakah kebiasaan ini cukup untuk mengetahui adanya hubungan yang niscaya di antara keduanya?[19]
Jawaban klasik membedakan urutan kejadian dari ketergantungan. Argumen ini tidak hanya bertumpu pada kebiasaan melihat satu peristiwa setelah peristiwa lain. Argumen ini bertanya mengapa suatu realitas tetap ada meskipun tidak menjelaskan sendiri keberadaannya. Contoh melodi memperjelas perbedaan ini: saat dimainkan, melodi bergantung pada pemusik yang memainkannya.
Para pendukung argumen ini menambahkan bahwa penolakan menyeluruh terhadap hubungan sebab-akibat yang nyata akan memengaruhi banyak penalaran lain. Penolakan itu juga akan menyulitkan penelitian eksperimen dan penjelasan sehari-hari. Jadi, kritik itu harus memperjelas mengapa ia melarang pencarian akan dasar ini, sementara tetap membolehkan pencarian-pencarian lain.
Immanuel Kant: dapatkah akal kita menjangkau sejauh itu? Akal adalah kemampuan kita untuk berpikir, membandingkan, dan menarik kesimpulan. Kant menolak bahwa akal dapat membuktikan adanya realitas niscaya di luar apa yang dapat kita amati. Ia juga berpikir bahwa langkah ini bergantung pada argumen lain.[20]
Penalaran lain itu adalah argumen ontologis. Argumen ini berusaha membuktikan keberadaan Tuhan melalui pemikiran tentang apa itu wujud niscaya. Kant menilai bahwa argumen yang berangkat dari dunia pada akhirnya bertumpu pada jalan ini. Jadi, ia mempersoalkan kemampuan penalaran itu untuk mencapai kesimpulannya.
Jawaban klasik menyatakan bahwa tahap-tahap argumennya menelusuri suatu fakta yang ada menuju penjelasannya yang nyata. Tahap-tahap itu tidak berusaha menghasilkan keberadaan dari definisi semata. Jadi, titik berangkat dalam dunia itu penting, tetapi jalan yang ditempuh hingga dasar niscaya juga perlu dibenarkan.[21]
Jawaban ini juga mempertanyakan batas yang ditetapkan Kant: alasan apa yang membenarkan larangan terhadap pencarian akan dasar ini? Teori yang menetapkan batas pengetahuan kita dengan cara demikian juga mengambil posisi tentang hubungan kita dengan realitas. Jadi, teori itu harus menjelaskan mengapa ia dapat menetapkan batas ini sambil menolak penyelidikan klasik.
Pembahasan ini menyangkut metafisika. Kata ini berarti pemikiran tentang apa artinya ada dan pada apa realitas-realitas bergantung. Para pendukung argumen ini berpendapat bahwa pemikiran tersebut mungkin dilakukan. Bagi mereka, kita dapat mencari mengapa hal-hal ada, bukan hanya menggambarkan apa yang kita amati.
Bertrand Russell: mengapa alam semesta tidak bisa begitu saja ada? Dalam debat radionya dengan Pastor Frederick Copleston pada tahun 1948, Russell memberikan jawaban ini:
“Saya akan mengatakan bahwa alam semesta memang ada begitu saja, dan itu saja.”[22]
Dengan demikian, alam semesta merupakan fakta tanpa penjelasan. Istilah ini berarti fakta nyata yang tidak memiliki penjelasan paling mendasar. Kita dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa di dalam dunia tanpa menganggap bahwa seluruh dunia memiliki penjelasan. Jadi, keberatan ini tidak menolak semua penelitian khusus: keberatan ini menolak memperluas tuntutan penelitian itu kepada keseluruhan.
Para pendukung argumen ini bertanya apa yang membenarkan penghentian pencarian tersebut. Mengapa seluruh realitas dibebaskan dari kebutuhan akan penjelasan? Mengatakan bahwa realitas ada begitu saja memang mengakui keberadaannya, tetapi tidak menjawab pertanyaan yang diajukan. Jadi, jawaban mereka tetap mempertahankan prinsip alasan yang cukup bahkan dalam pencarian ini.
Pruss juga menyoroti kesulitan yang lebih luas. Jika beberapa fakta kontingen dapat ada tanpa alasan apa pun, mengapa persepsi kita sendiri tidak bisa demikian? Menurutnya, kemungkinan ini melemahkan kepercayaan kita pada penjelasan. Jadi, pembahasan ini menyangkut konsistensi pencarian kita akan kebenaran, melampaui soal agama saja.[23]
Peter van Inwagen: apakah Tuhan yang niscaya akan membuat dunia menjadi niscaya? Keberatan ini bertanya apakah wujud niscaya menghasilkan akibatnya secara niscaya. Jika dunia muncul dari Tuhan dengan cara demikian, dunia tidak mungkin tidak ada. Kesimpulannya lalu tampak bertentangan dengan titik berangkatnya: dunia yang kontingen.[24]
Jawaban klasik membedakan keberadaan Tuhan yang niscaya dari tindakan-Nya yang bebas untuk mencipta. Dunia tidak muncul dari-Nya seperti kesimpulan yang pasti mengikuti dasar-dasar penalarannya. Tuhan dapat memberikan keberadaan tanpa harus menghasilkan dunia tertentu ini. Jadi, keberadaan-Nya yang niscaya tidak membuat segala yang dilakukan-Nya menjadi niscaya.
Kebebasan yang dimaksud di sini tidak hanya berarti bahwa tidak ada tekanan dari luar terhadap Tuhan. Artinya, tindakan penciptaan-Nya tidak menghasilkan dunia ini karena suatu keharusan yang tak terelakkan. Justru sifat bebas dari hubungan antara Tuhan dan dunia inilah yang menjawab keberatan tersebut. Pembedaan ini menyangkut tindakan, sama seperti keberadaan pelakunya.[25]
Terakhir, argumen ini tidak membuktikan seluruh iman Kristen. Pernyataan ini benar mengenai jangkauannya, tetapi tidak membantah kesimpulannya. Fondasi bukanlah seluruh rumah; meskipun begitu, fondasi menjalankan fungsi yang mutlak diperlukan. Argumen ini menjawab ketergantungan dunia, lalu pencarian-pencarian lain dapat dilanjutkan.
Apa yang diajarkan Gereja tentang akal dan iman
Gereja menegaskan bahwa kecerdasan manusia benar-benar dapat mengetahui keberadaan Tuhan dari dunia ciptaan. Jadi, Gereja tidak menggambarkan iman sebagai pelarian dari pertanyaan. Gereja mengakui kemampuan nyata akal kita. Argumen kontingensi termasuk dalam jalan-jalan pemikiran ini.
Pada tahun 1870, Konsili Vatikan I menyatakan ajaran ini. Konsili adalah pertemuan para uskup yang menjalankan wewenang mengajar Gereja. Inilah yang dinyatakan teks Dei Filius:
“Bunda kita, Gereja yang kudus, berpegang dan mengajarkan bahwa Tuhan, asal dan tujuan segala sesuatu, dapat dikenal dengan pasti melalui terang alami akal manusia dari hal-hal yang diciptakan.”[26]
“Terang alami akal” di sini berarti apa yang dapat diketahui kecerdasan kita dengan memikirkan dunia. Teks ini menegaskan kemampuan tersebut tanpa terlebih dahulu mengandaikan pengetahuan tentang Alkitab. Ajaran ini bersifat dogmatis. Gereja menetapkannya sebagai kebenaran yang termasuk dalam iman.
Namun, konsili tidak menyatakan bahwa hanya satu rumusan filsafat yang wajib diterima. Konsili menegaskan kemampuan untuk mengenal Tuhan. Argumen kontingensi adalah salah satu jalan yang sesuai dengan ajaran ini. Jadi, argumen ini dapat dipelajari dengan tahap-tahap dan jawabannya sendiri.
Katekismus Gereja Katolik menyajikan ajaran iman secara teratur. Katekismus secara jelas menyebutkan jalan ini:
“Dunia: dari gerak dan perubahan, dari kontingensi, keteraturan, dan keindahan dunia, kita dapat mengenal Tuhan sebagai asal dan tujuan alam semesta.”[27]
“Perubahan” di sini berarti perubahan yang dialami hal-hal. Katekismus menghimpun beberapa jalan pemikiran yang saling bertemu dan memungkinkan kita mencapai kepastian yang sejati. Katekismus tidak menyamakannya dengan perhitungan matematika. Keberadaan dunia, perubahan, keteraturan, dan keindahannya menjadi bahan bagi pencarian ini.
Konsili Vatikan II juga mengulangi ajaran tentang pengenalan akan Tuhan. Santo Yohanes Paulus II membela kemampuan akal ini dalam Fides et Ratio. Jadi, iman Katolik mengakui kecerdasan yang mampu mencari lebih jauh daripada sekadar menggambarkan gejala-gejala.[28][29]
Pencarian kemudian dapat dilanjutkan. Argumen moral menanyakan apa yang sungguh-sungguh menjadi dasar kebaikan. Kebangkitan Yesus membuka penyelidikan tentang iman Kristen dalam sejarah. Langkah-langkah ini menjawab pertanyaan yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam satu pencarian akan kebenaran.
Kajian tentang alasan-alasan untuk percaya pada iman Katolik kemudian menelaah Gereja dan wewenangnya. Argumen kontingensi mempersiapkan perjalanan ini tanpa mengaku dapat menyelesaikan semua tahapnya sendirian. Argumen ini memberikan dasar bagi penyelidikan yang lebih luas.
Dunia yang diterima sebagai anugerah, bukan keberadaan tanpa makna
Pemikiran ini juga mengubah cara kita memandang kehidupan sehari-hari. Tubuh, riwayat hidup, dan orang-orang yang kita kasihi tidak harus ada dengan sendirinya. Jawaban Katolik mengakui keberadaannya sebagai anugerah. Penalaran ini berangkat dari pertanyaan umum; dengan demikian, penalaran itu menyentuh sesuatu yang sangat pribadi.
Dalam Pensées, Blaise Pascal mengungkapkan rasa heran karena berada di sini, sekarang, bukan di tempat lain atau pada zaman lain. Keberadaan kita bisa saja berbeda. Pengamatan ini dapat membuat kita merasa gamang. Argumen kontingensi menunjukkan cara mencari dasar bagi keberadaan ini, yang bisa saja tidak pernah ada.[30]
Santo Agustinus mengungkapkan arah hidup kita menuju Tuhan:
“Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak tenang sampai berdiam di dalam-Mu.”[31]
Kata-kata ini tidak menggantikan penalaran, tetapi menunjukkan makna rohaninya. Dunia bergantung pada suatu wujud yang memberikan keberadaan tanpa menerimanya. Jadi, keberadaan kita tidak dibiarkan tanpa pegangan dalam kehampaan. Realitas-realitas di sekitar kita menuntun kita untuk mengenali Dia yang menjadi tempat mereka bergantung.
Penciptaan juga bukan kewajiban yang dipaksakan kepada Tuhan. Jawaban Katolik menegaskan bahwa Ia mencipta dengan bebas karena kebaikan-Nya. Ia tidak berusaha mengisi kekurangan dalam diri-Nya. Jadi, dunia bukan kelanjutan Tuhan yang tak terelakkan: dunia ada karena Tuhan memberi.
Dengan demikian, argumen ini menuntun kita untuk memandang secara berbeda apa yang pada awalnya tampak biasa: pohon ini ada, orang ini ada, kita ada. Kesimpulannya adalah bahwa realitas-realitas ini bergantung pada suatu wujud yang tidak menerima keberadaannya dari yang lain. Jawaban Katolik mengenali keberadaan itu sebagai anugerah. Apa yang ada tanpa harus ada mengarahkan kita kepada Dia yang memberikan keberadaan.
Hal-hal yang perlu diingat
- Realitas kontingen ada, tetapi bisa saja tidak pernah ada.
- Realitas niscaya tidak mungkin tidak ada.
- Argumen ini mencari suatu realitas yang niscaya melalui dirinya sendiri, yang tidak bergantung pada realitas lain mana pun untuk ada.
- Pertanyaannya tetap berlaku sekalipun kita mengandaikan alam semesta tanpa awal.
- Setelah setiap unsur dijelaskan, masih perlu ditelaah fakta bahwa semua fakta kontingen ini benar.
- Langkah pemikiran ini mengarah kepada Tuhan tanpa dengan sendirinya membuktikan seluruh iman Kristen.
- Gereja mengajarkan bahwa akal kita benar-benar dapat mengenal Tuhan dari hal-hal yang diciptakan.
Argumen kontingensi mengajak kita menelusuri suatu pertanyaan sampai tuntas. Kita menjelaskan hal-hal melalui hal-hal lain, tetapi hal-hal lain itu masih menimbulkan pertanyaan mengapa mereka ada. Kesimpulannya adalah suatu dasar yang tidak menerima keberadaannya dari realitas lain. Dasar yang niscaya melalui dirinya sendiri inilah yang kita sebut Tuhan.
Jawaban Katolik memadukan tuntutan akal ini dengan kebebasan Sang Pencipta. Dunia tidak ada karena Tuhan membutuhkannya. Dunia ada sebagai anugerah. Dengan demikian, apa yang bisa saja tidak ada bertumpu, setiap saat, pada Dia yang ada.
Catatan dan Referensi
Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, MDN Productions / diffusion Salvator, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 66-67: definisi dunia yang mungkin, niscaya, kontingen, abstrak, dan konkret dalam bab « Preuve cosmologique de la contingence ».
1Aristote, Métaphysique, buku V, bab 5 dan 12; buku IX, bab 6-8. Avicenne, La Métaphysique du Shifa, buku I, bab 5-7. Moïse Maïmonide, Guide des égarés, bagian kedua, pengantar. Saint Thomas d'Aquin, De ente et essentia, bab 4. Rujukan diambil dari artikel lengkap.
2Saul A. Kripke, Naming and Necessity, Harvard University Press, 1980. Terjemahan Prancis: La Logique des noms propres, Minuit, 1982.
3Saint Thomas d'Aquin, Somme théologique, Iᵃ pars, q. 2, a. 3, jalan ketiga. Terjemahan Prancis berdasarkan edisi Cerf, 1984, dan Corpus Thomisticum, Universitas Navarra. Kutipan ini mengambil kalimat pertama dari bagian yang dikutip dalam artikel lengkap.
4Edward Feser, Aquinas: A Beginner's Guide, Oneworld Publications, 2009, hlm. 84-93; Five Proofs of the Existence of God, Ignatius Press, 2017, hlm. 49-50. Lihat juga saint Thomas d'Aquin, Somme contre les Gentils, buku II, bab 38.
5G. W. Leibniz, Principes de la nature et de la grâce fondés en raison, § 7, 1714. Edisi kritis: Die philosophischen Schriften, disunting C. I. Gerhardt, jil. VI, hlm. 598-606.
6G. W. Leibniz, Monadologie, § 32, 1714. Edisi kritis oleh André Robinet, PUF, 1954.
7G. W. Leibniz, Monadologie, §§ 33-38: kebenaran niscaya, kebenaran faktual, dan pencarian alasan yang cukup bagi rangkaian hal-hal kontingen.
8Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 67-68. Analogi buku-buku yang disalin berasal dari Leibniz, De rerum originatione radicali, 1697.
9Bruce Reichenbach, « Cosmological Argument », Stanford Encyclopedia of Philosophy, pertama kali diterbitkan pada 13 Juli 2004, revisi besar pada 30 Juni 2022, §§ 2 dan 4.1.
10Alexander R. Pruss, The Principle of Sufficient Reason: A Reassessment, Cambridge University Press, 2006, hlm. 189-345; « The Leibnizian Cosmological Argument », dalam William Lane Craig dan J. P. Moreland (penyunting), The Blackwell Companion to Natural Theology, Wiley-Blackwell, 2009, hlm. 24-100.
11Edward Feser, Five Proofs of the Existence of God, Ignatius Press, 2017, hlm. 147-168; Joshua Rasmussen, How Reason Can Lead to God, IVP Academic, 2019; Frédéric Guillaud, Dieu existe. Arguments philosophiques, Cerf, 2013, hlm. 127-202; Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 70-75.
12Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 70-72.
13Bernard Carr (penyunting), Universe or Multiverse?, Cambridge University Press, 2007. Lihat juga Robin Collins, « The Teleological Argument: An Exploration of the Fine-Tuning of the Universe », dalam The Blackwell Companion to Natural Theology, Wiley-Blackwell, 2009, hlm. 202-281.
14Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 72, catatan 85: pembelaan atas langkah dari kontingensi unsur-unsur menuju kontingensi keseluruhannya.
15Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 72-75: analisis sifat sebab yang niscaya.
16Edward Feser, The Last Superstition: A Refutation of the New Atheism, St. Augustine's Press, 2008; Aristotle's Revenge, Editiones Scholasticae, 2019.
17Catéchisme de l'Église catholique, §§ 31-36, khususnya § 32.
18David Hume, Traité de la nature humaine, buku I, bagian III, seksi 2-6, 1739; Enquête sur l'entendement humain, seksi VII, 1748. Rujukan diambil dari artikel lengkap.
19Emmanuel Kant, Critique de la raison pure, Dialectique transcendantale, buku II, bab III, seksi 5, « De l'impossibilité d'une preuve cosmologique de l'existence de Dieu », 1781, edisi kedua pada 1787.
20Edward Feser, Five Proofs of the Existence of God, Ignatius Press, 2017, hlm. 147-196, tentang argumen ini dan jawaban atas keberatan Hume dan Kant.
21Bertrand Russell dan Frederick Copleston, Débat sur l'existence de Dieu, BBC Radio, 28 Januari 1948. Teks dalam Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian and Other Essays, Simon & Schuster, 1957, hlm. 167-190. Teks asli: « I should say that the universe is just there, and that's all. » Terjemahan Prancis diambil kata demi kata dari artikel lengkap.
22Alexander R. Pruss, « The Leibnizian Cosmological Argument », dalam The Blackwell Companion to Natural Theology, Wiley-Blackwell, 2009, hlm. 28; dikutip dan diterjemahkan oleh Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 70.
23Peter van Inwagen, Metaphysics, Westview Press, 1993, bab 6; An Essay on Free Will, Clarendon Press, 1983.
24Matthieu Lavagna, Soyez rationnel, devenez catholique !, 2023 (edisi pertama 2022), hlm. 78-80.
25Concile Vatican I, konstitusi dogmatis Dei Filius, bab 2, 24 April 1870, DS 3004. Teks dalam Henri Denzinger, Symboles et définitions de la foi catholique, Cerf, 2010, no. 3004. Kanon yang bersesuaian bernomor 3026.
26Catéchisme de l'Église catholique, § 32. Kutipan Prancis diambil kata demi kata dari artikel lengkap.
27Concile Vatican I, Dei Filius, bab 2, 24 April 1870; concile Vatican II, Dei Verbum, § 6, 18 November 1965; Catéchisme de l'Église catholique, §§ 31-36.
28Saint Jean-Paul II, ensiklik Fides et Ratio, 14 September 1998, §§ 1-5 dan 80-91.
29Blaise Pascal, Pensées, fragmen Brunschvicg no. 205, Lafuma no. 68, Sellier no. 102; edisi kritis oleh Philippe Sellier, Bordas, 1991.
30Saint Augustin, Confessions, buku I, bab 1, no. 1. Terjemahan Prancis berdasarkan edisi Joseph Trabucco, GF-Flammarion, 1964; lihat juga Œuvres de saint Augustin, Bibliothèque augustinienne, Études augustiniennes, 1962. Terjemahan Prancis diambil kata demi kata dari artikel lengkap.
31