Apakah Gereja Menentang Sains?

Mitos konflik antara Gereja Katolik dan sains lahir pada abad ke-19. Universitas abad pertengahan, Galileo, Mendel, Lemaître, dan Vatikan II menunjukkan sejarah yang lebih kompleks: ketegangan nyata, tetapi tidak ada permusuhan doktrinal terhadap sains.

Ignispedia

Apakah Gereja Menentang Sains?

Mengapa Gereja begitu sering dituduh menentang sains? Artikel ini menjelaskan asal-usul gagasan itu, apa yang membuatnya meyakinkan, dan apa yang sebenarnya dapat ditegaskan berdasarkan sejarah. Artikel ini juga menunjukkan mengapa penemuan ilmiah tidak menjawab semua pertanyaan manusia.

Tuduhan ini perlu ditanggapi dengan serius. Orang yang mendukungnya mengingatkan bahwa para pemimpin agama pernah melarang buku dan menjatuhkan hukuman terhadap Galileo. Mereka khawatir lembaga yang yakin memiliki kebenaran akan menolak penemuan yang mengusiknya. Tuntutan mereka dapat dipahami: seorang peneliti harus bisa memeriksa fakta tanpa lebih dahulu diberi jawaban yang wajib diterima.

Jadi, mari kita mulai dari hal-hal yang tidak perlu disangkal siapa pun. Galileo memang pernah dijatuhi hukuman. Berbagai larangan telah merugikan perkembangan pemikiran. Namun, universitas, komunitas religius, dan para paus juga telah mendukung penelitian penting. Kedua sisi ini merupakan bagian dari sejarah yang sama.

Sains berusaha mengenal dunia alam melalui pengamatan, penalaran, dan pengujian terhadap penjelasan. Suatu pernyataan tidak menjadi ilmiah hanya karena diucapkan oleh orang terkenal. Pernyataan itu harus bisa diuji dengan fakta. Tuntutan ini melindungi penelitian dari kecenderungan pribadi penelitinya sendiri.

Jadi, pertanyaan yang tepat adalah: apakah kesalahan yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa iman Katolik pasti menghalangi penelitian? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lembaga, penemuan, dan ajaran. Sebuah pengadilan terkenal memang sangat penting. Namun, satu pengadilan saja tidak menceritakan seluruh sejarah.

1. Dari mana muncul kisah tentang perang yang terus berlangsung?

Gagasan tentang pertentangan tanpa henti antara Gereja dan sains terutama dipopulerkan pada abad ke-19. Dua penulis berperan besar: John William Draper dan Andrew Dickson White. Buku-buku mereka menyajikan sejarah yang jauh lebih rumit dalam bentuk yang sederhana dan kuat.

Draper menerbitkan bukunya pada 1874. Ia menggambarkan kemajuan pengetahuan sebagai perjuangan melawan agama, terutama agama Katolik. White mengembangkan kisahnya sendiri, khususnya dalam sebuah karya besar yang terbit pada 1896. Ia juga membela proyek universitasnya terhadap kritik dari kalangan agama.

John William Draper, penulis History of the Conflict Between Religion and Science yang terbit pada 1874. Foto karya Edward Bierstadt, sekitar 1879 (Smithsonian Institution). Domain publik melalui Wikimedia Commons.

Cara mereka bercerita memang efektif. Di satu sisi, para ilmuwan pemberani mencari kebenaran. Di sisi lain, para pemimpin agama mempertahankan kebiasaan dan kekuasaan mereka. Beberapa peristiwa memang cocok dengan gambaran ini. Namun, banyak peristiwa lain harus dilupakan atau dipelintir agar keseluruhan kisah tampak masuk akal.

Sejak tahun 1970-an, para sejarawan telah menelaah kembali kasus-kasus ini secara terperinci. David Lindberg, Ronald Numbers, dan Peter Harrison menunjukkan bahwa hubungan yang sebenarnya mencakup kerja sama, dukungan, dan ketegangan. Buku kumpulan tulisan yang disunting oleh Lindberg dan Numbers pada 1986 memperlihatkan keragaman ini dengan sangat jelas.[1]

Beberapa anggapan umum sulit bertahan setelah diteliti. Para ilmuwan Kristen pada Abad Pertengahan mengetahui bahwa Bumi berbentuk bulat. Universitas juga melakukan diseksi. Diseksi berarti membedah tubuh untuk mempelajari susunannya. Karena itu, menggambarkan larangan diseksi sebagai kebijakan umum Gereja adalah hal yang menyesatkan.[2]

Sejarawan John Heilbron meneliti dukungan Gereja terhadap astronomi. Astronomi mempelajari benda-benda langit dan gerakannya. Menurut John Heilbron, selama lebih dari enam abad, tidak ada lembaga lain yang lebih banyak mendukung astronomi. Dukungan ini mencakup pendanaan dan dukungan sosial. Keterlibatan seperti ini tidak cocok dengan gambaran permusuhan yang terus berlangsung.[3]

Peter Harrison menambahkan kesulitan lain: cara kita sekarang memisahkan sains dan agama tidak sepenuhnya sesuai dengan pengelompokan pada masa lalu. Seorang ilmuwan Abad Pertengahan belum tentu membayangkan adanya dua kubu yang bermusuhan. Menganggap ia berpikir seperti dalam perdebatan kita sekarang dapat memelintir sejarahnya. Itu seperti mencoba memahami percakapan setelah mengubah arti kata-katanya.

2. Universitas tempat orang belajar berdiskusi

Penelitian yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang cerdas. Penelitian memerlukan tempat untuk mengajar, menyimpan tulisan, dan memeriksa keberatan. Universitas-universitas pertama di Eropa berkembang dalam dunia Kristen. Para pemimpin agama ikut mengatur universitas dan melindungi kebebasannya.

Universitas mempertemukan para pengajar dan mahasiswa dalam kegiatan belajar yang teratur. Pada Abad Pertengahan, pelajaran ini tidak terbatas pada persoalan agama. Orang juga mempelajari bilangan, bentuk, benda-benda langit, kedokteran, dan penalaran. Jadi, memahami dunia alam merupakan bagian dari kegiatan mereka sehari-hari.

Seorang pengajar mengajar para mahasiswa di sebuah universitas Abad Pertengahan. Wikimedia Commons.

Contoh di Paris membantu kita memahami peran ini secara nyata. Universitas menerima piagam kerajaan pada 1200. Kemudian, aturan untuk kegiatan belajar ditetapkan pada 1215. Pada 1231, Paus Gregorius IX memperkuat otonominya melalui sebuah dokumen resmi. Jadi, dukungan ini jauh lebih besar daripada sekadar membiarkan beberapa ilmuwan bekerja sendiri-sendiri.

Otonomi ini memberi universitas perlindungan untuk menjalankan pekerjaannya. Seperti sekolah yang memiliki aturan yang diakui, universitas menjadi kurang bergantung pada keputusan setiap penguasa setempat yang bisa berubah-ubah. Dengan demikian, dukungan paus ikut memperkuat kemandiriannya. Sejarah ini lebih mengejutkan daripada gambaran kekuasaan agama yang hanya sibuk melarang.

Para mahasiswa juga belajar menyampaikan keberatan sebelum menjawabnya. Mereka harus membedakan gagasan dan memberikan alasan bagi kesimpulan mereka. Latihan ini tidak menggantikan eksperimen ilmiah modern. Namun, latihan ini membentuk kebiasaan yang berharga: mendengarkan argumen, menemukan pertentangan, dan tidak menyamakan pernyataan dengan buktinya.

Kebebasan itu memiliki batas. Teologi menempati posisi penting dalam lembaga-lembaga ini. Teologi berusaha memahami Tuhan dan apa yang diajarkan oleh iman. Perbedaan pendapat dapat berujung pada proses hukum terhadap pengajar. Mengakui kenyataan ini mencegah kita mengganti kisah yang serba buruk dengan sejarah yang seolah-olah tidak memiliki masalah sama sekali.

Bidaah adalah pandangan yang bertentangan dengan kebenaran iman yang telah ditetapkan oleh Gereja. Manfred Lütz mencatat sekitar lima puluh upaya untuk mengadili para pengajar atas tuduhan bidaah selama Abad Pertengahan. Sebagian besar tidak menghasilkan apa-apa.[4] Secara umum, lembaga-lembaga ini tetap menjadi tempat orang mengajar, bernalar, dan berdiskusi, dengan ketegangan yang nyata serta kegiatan pemikiran yang menghasilkan banyak buah.

Akademi Kepausan untuk Sains adalah lembaga ilmiah yang terkait dengan paus. Lembaga ini merupakan bagian dari sejarah yang dimulai dengan Akademi Lincei pada 1603. Pius XI memberinya bentuk yang sekarang pada 1936. Delapan puluh anggotanya dipilih berdasarkan karya ilmiah mereka, tanpa harus beragama Katolik. Jadi, di Vatikan, kemampuan ilmiah tidak bergantung pada agama seseorang.

3. Kaum religius yang meneliti alam

Keberadaan ilmuwan Katolik saja tidak membuktikan bahwa semua pemimpin selalu bertindak benar. Namun, hal ini menjawab pertanyaan penting. Mungkinkah iman dan penelitian hadir bersama dalam kehidupan seseorang? Beberapa karya yang menjadi dasar perkembangan ilmu menunjukkan secara nyata bahwa jawabannya adalah ya.

Roger Bacon adalah seorang religius yang antara lain mempelajari cahaya dan matematika. Ia menulis karya-karya besar atas permintaan Paus Klemens IV. Baginya, penalaran membutuhkan pengalaman. Sebuah penjelasan bisa tampak meyakinkan, tetapi ternyata tidak sesuai dengan apa yang diamati.

« Tanpa pengalaman, tidak ada yang dapat diketahui secara memadai. »

Roger Bacon, Opus Maius, sekitar 1267-1268.[5]

Kalimat ini menyampaikan tuntutan yang sederhana. Untuk mengenal alam, mengulang perkataan tokoh berwibawa atau merangkai gagasan saja tidak cukup. Kita juga harus melihat bagaimana hal-hal benar-benar terjadi. Bacon termasuk pemikir yang ikut mengembangkan cara kerja ini.

Albertus Magnus menjelaskan ilmu fisika di jalanan Paris sekitar 1245. Lukisan cat minyak karya Ernest Board (Wellcome Collection). Berlisensi CC BY 4.0 melalui Wikimedia Commons.

Albertus Magnus, yang juga seorang religius Katolik, menulis banyak karya tentang alam. Ia mempelajari tumbuhan, hewan, mineral, dan benda-benda langit. Karyanya membantu orang mengakui penelitian ini sebagai kegiatan yang sah dalam kehidupan Kristen. Mengamati ciptaan dapat menjadi cara untuk sungguh-sungguh memperhatikan apa yang telah Tuhan buat.

Nicolaus Copernicus menjalankan tugas keagamaan di sebuah gereja. Ia mendukung hipotesis yang disebut heliosentrisme. Hipotesis adalah penjelasan yang diajukan dan masih harus diperiksa serta diuji. Heliosentrisme menempatkan Bumi di antara planet-planet yang mengelilingi Matahari.

Copernicus mempersembahkan buku besarnya kepada Paus Paulus III. Para pemimpin agama telah mendorongnya untuk menerbitkan buku itu, dan semasa hidupnya ia tidak mengalami penindakan. Bukunya terbit pada 1543. Pada 1616, selama kasus Galileo, peredarannya ditangguhkan sambil menunggu perbaikan.[6] Dua waktu yang berbeda ini sama-sama penting untuk memahami bagaimana gagasannya diterima.

Buku Copernicus yang terbit pada 1543, dengan persembahan kepada Paus Paulus III. Wikimedia Commons.

Nicolaus Steno ikut merintis geologi. Geologi mempelajari batuan dan susunan Bumi. Penelitiannya antara lain membahas lapisan-lapisan tanah dan susunannya. Ia kemudian menjadi imam. Perjalanan hidupnya mengingatkan kita bahwa baginya, mempelajari tanah dengan teliti tidak bertentangan dengan imannya.

Gregor Mendel bekerja di kebun biaranya. Antara 1856 dan 1863, ia melakukan eksperimen terhadap ribuan tanaman kacang ercis. Ia mempelajari hereditas. Kata ini berarti pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya, misalnya ciri-ciri tertentu yang dapat diamati pada tumbuhan.

Hasil penelitiannya menjadi dasar genetika. Ilmu ini berusaha memahami pewarisan tersebut. Mendel menerbitkan penelitiannya pada 1866, tetapi pentingnya baru diakui pada 1900. Contoh ini sangat jelas: sebuah kebun biara menjadi tempat penelitian yang dampaknya meluas jauh melewati tembok biara.[7]

Gregor Mendel, biarawan dan perintis genetika. Wikimedia Commons.

Lazzaro Spallanzani, yang juga seorang imam, melakukan eksperimen terhadap cairan kaldu yang diolah untuk menyingkirkan makhluk hidup di dalamnya. Eksperimennya membantah gagasan bahwa organisme kecil muncul secara spontan dalam kaldu tersebut.[8] Cara kerjanya memadukan pertanyaan yang jelas, perlakuan eksperimen, dan pemeriksaan hasil.

Para Yesuit adalah kaum religius dari Serikat Yesus. Beberapa di antara mereka meneliti benda-benda langit dan kalender. Christopher Clavius berperan besar dalam pembaruan kalender pada 1582. Henri Breuil, imam lain yang juga seorang ilmuwan, mempelajari lukisan-lukisan kuno di gua. Perjalanan hidup mereka menunjukkan adanya penelitian dalam berbagai bidang, di dalam kehidupan religius itu sendiri.

4. Galileo: kesalahan nyata, legenda yang perlu diluruskan

Kasus Galileo tetap menjadi keberatan yang paling kuat. Pada 1633, sebuah pengadilan Gereja menghukum seorang ilmuwan yang mendukung gagasan bahwa Bumi bergerak. Fakta ini tidak boleh disembunyikan atau dianggap sebagai hal sepele. Namun, untuk memahaminya, kita perlu membedakan apa yang benar-benar terjadi dari gambaran yang ditambahkan kemudian.

Pada 1616, Galileo diperintahkan untuk tidak mendukung ataupun mengajarkan heliosentrisme. Pada 1632, ia menerbitkan Dialog tentang Dua Sistem Utama Dunia. Buku itu menyajikan perdebatan, tetapi jelas lebih mendukung sistem Copernicus. Para pemimpin menilai bahwa ia telah melanggar larangan yang diterimanya.

Persoalan pribadi memperburuk konflik ini. Paus Urbanus VIII sebelumnya pernah menjadi pelindungnya. Dalam buku tersebut, beberapa gagasan yang didukung paus dikaitkan dengan tokoh yang kurang meyakinkan. Kalangan istana kepausan melihatnya sebagai serangan. Rasa tersinggung ini ikut memperkeras perkara yang sudah melampaui perdebatan ilmiah semata.

Penafsiran Alkitab juga menempati posisi penting. Galileo berusaha menunjukkan bahwa gerakan Bumi dapat selaras dengan Kitab Suci. Sebaliknya, beberapa teolog menganggap bahwa bagian-bagian tertentu mengharuskan Bumi tidak bergerak. Mereka lalu memperlakukan pertanyaan tentang cara benda-benda langit bekerja seolah-olah iman pasti telah menetapkan jawabannya.

Pada 1633, Galileo belum memiliki bukti fisik yang menentukan tentang gerakan Bumi. Galileo benar mengenai gerakan Bumi, tetapi penjelasannya tentang pasang surut keliru.[9] Jadi, tidak semua argumennya mustahil dipertanyakan oleh orang yang beritikad baik. Keadaan ini menjelaskan sebagian keraguan ilmiah pada masa itu. Namun, hal itu tidak membenarkan hukuman terhadapnya.

Pada 1633, Galileo dinyatakan sangat dicurigai bidaah. Dalam perkara ini, pengadilan menuduhnya telah mendukung ajaran yang dilarang. Keputusan tersebut menunjukkan dengan jelas bagaimana persoalan ilmiah telah dicampuradukkan dengan penilaian keagamaan.

Galileo Galilei dengan teleskopnya. Potret karya Justus Sustermans, 1636 (National Maritime Museum, Greenwich). Domain publik melalui Wikimedia Commons.

Namun, Galileo tidak disiksa. Ia mendapat ancaman penyiksaan, yang tetap merupakan hal serius, tetapi ancaman itu tidak dilaksanakan. Ia juga tidak menghabiskan sisa hidupnya di ruang penjara bawah tanah.

Ia menjalani tahanan rumah, antara lain di rumahnya di Arcetri. Ia harus tetap tinggal di tempat yang ditentukan dan tidak bisa bepergian dengan bebas. Hukuman ini membatasi kebebasannya, tetapi tetap memungkinkannya melanjutkan penelitian dan menerima tamu.[10]

Ungkapan « Namun, Bumi tetap berputar », yang dianggap diucapkan Galileo setelah pengadilan, tidak tercatat dalam kesaksian dari masa itu.[11] Ketenarannya saja tidak membuat ungkapan itu menjadi autentik. Menyingkirkan tambahan-tambahan ini bukan berarti membela putusan pengadilan. Hal itu memungkinkan kita mengkritik ketidakadilan yang nyata tanpa perlu mengarang ketidakadilan lain.

Galileo sendiri telah merumuskan perbedaan mendasar antara teks Alkitab dan cara manusia memahaminya:

« Jika Kitab Suci tidak dapat keliru, sebagian penafsir dan komentatornya dapat keliru, dan dengan beberapa cara. »

Galileo Galilei, surat kepada Benedetto Castelli, 1613, dikutip oleh Yohanes Paulus II.[12]

Pada 31 Oktober 1992, Yohanes Paulus II mengakui kesalahan para teolog dalam perkara ini. Mereka telah menyamakan Kitab Suci dengan penafsiran mereka sendiri. Mereka juga telah memasukkan persoalan yang termasuk dalam penelitian ilmiah ke dalam ajaran iman. Jadi, pengakuan itu menyangkut kesalahan tertentu, bukan pertentangan yang pasti terjadi antara iman dan akal budi.

Pelajaran ini tetap berguna. Seorang pemimpin agama tidak menjadi ahli astronomi hanya karena ia mengajarkan iman. Sebaliknya, mengakui kesalahannya tidak membuktikan bahwa seluruh iman itu salah. Seperti dalam percakapan biasa, kita harus memeriksa apa yang dinyatakan, oleh siapa, dengan argumen apa, dan dalam bidang apa.

5. Penyihir: membedakan ketakutan dan pengadilan

Perburuan penyihir memberi gambaran lain yang sering dikaitkan dengan Gereja yang dianggap memusuhi akal budi. Orang-orang memang pernah dianiaya dan dibunuh. Namun, untuk memahami siapa yang bertanggung jawab, kita perlu membedakan kepercayaan masyarakat, penguasa sipil, dan lembaga agama. Mereka tidak selalu bertindak searah.

Jauh sebelum gelombang besar pengadilan, sebuah teks keagamaan bernama Canon episcopi memperlakukan beberapa kisah sihir sebagai khayalan. Teks itu khususnya meragukan kenyataan kisah perjalanan luar biasa dengan menunggang pada malam hari. Sikap hati-hati ini penting: para pemimpin Kristen bisa meragukan apa yang dianggap pasti oleh masyarakat.[13]

Hal itu tidak mencegah semua kekerasan. Ketakutan di berbagai tempat memicu tuduhan dan terkadang serangan massa. Para pemimpin Katolik juga terlibat dalam beberapa penuntutan. Jadi, mengatakan bahwa seluruh Gereja selalu menolak penuntutan itu sama kelirunya dengan menyalahkan Gereja atas semua penganiayaan.

Sebuah edisi Malleus Maleficarum, karya tulis tentang penyihir. Wikimedia Commons.

Malleus Maleficarum, yang ditulis oleh Heinrich Kramer, merupakan bagian dari sejarah yang meresahkan ini. Namun, karya pribadi ini tidak mewakili seluruh ajaran Gereja. Bahkan keaslian surat persetujuan universitas yang dimuatnya masih diperdebatkan oleh para sejarawan.[14] Karena itu, buku ini tidak dapat diperlakukan sebagai keputusan bersama semua pemimpin Katolik.

Inkuisisi Spanyol memberi contoh yang sangat bermakna. Setelah ikut melakukan penuntutan, lembaga ini mulai membatasi penindakan tersebut sejak 1526. Penelitian sejarah yang dilaporkan oleh Manfred Lütz menunjukkan bahwa dalam hal ini, pengadilan agama lebih berhati-hati daripada pengadilan lain.[15][16] Artikel tentang Inkuisisi Spanyol membahas perbedaan ini lebih lanjut.

Berapa jumlah korbannya? Perkiraan Gustav Henningsen, yang dilaporkan oleh Lütz, sekitar 50.000 orang di seluruh Eropa. Sekitar 25.000 di antaranya berasal dari Jerman dan wilayah-wilayah sekitarnya. Ini adalah perkiraan sejarah, bukan hasil penghitungan yang sempurna. Angka-angka ini tetap jauh dari jumlah jutaan yang terkadang disebutkan.[17]

Kematian mereka tetap merupakan tragedi, berapa pun jumlah pastinya. Penganiayaan terjadi di wilayah Katolik maupun Protestan. Dalam gambaran yang disampaikan Lütz, tekanan terutama berasal dari ketakutan masyarakat dan pengadilan sipil. Pengadilan agama dan fakultas teologi sering kali lebih berhati-hati.[18] Hal ini tidak menghapus keterlibatan para pemimpin Katolik dalam beberapa penuntutan.

6. Georges Lemaître: meneliti sebagai imam dan ilmuwan

Georges Lemaître adalah imam Katolik Belgia yang ditahbiskan pada 1923. Ia juga menjadi peneliti penting dalam kajian alam semesta. Kehidupannya memberi jawaban yang sangat nyata terhadap gagasan bahwa orang harus memilih antara beriman dan berpikir. Ia sungguh-sungguh memperhatikan tuntutan masing-masing dari kedua jalan yang ditempuhnya.

Pada 1927, ia menerbitkan penelitian tentang galaksi-galaksi yang saling menjauh. Galaksi adalah kumpulan bintang yang sangat besar. Lemaître menetapkan hubungan antara jarak galaksi dan kecepatan geraknya menjauh. Penelitian ini membantu kita memahami bahwa alam semesta mengembang dalam skala besar: jarak antargalaksi bertambah.

Robert Millikan, Georges Lemaître, dan Albert Einstein pada 1933. Wikimedia Commons.

Kemudian, pada 1931, Lemaître mengajukan hipotesis atom purba. Ia memakai nama ini untuk keadaan awal yang diduga menjadi asal perkembangan alam semesta. Usulan ini merupakan pendahulu model yang disebut Big Bang. Model tersebut berusaha menggambarkan perkembangan fisik alam semesta dari keadaan awal yang sangat padat.

Namun, hal yang paling menentukan bagi pembahasan kita melampaui penemuan ini. Lemaître menolak langsung menjadikan model ilmiahnya sebagai bukti keagamaan. Ia berhati-hati terhadap konkordisme. Dalam konteks ini, konkordisme berarti mencocokkan teori ilmiah secara langsung dengan ajaran agama, seolah-olah yang satu pasti membuktikan yang lain.

Pada 1951, Pius XII menghubungkan pengetahuan ilmiah tentang alam semesta dengan penciptaan yang diajarkan oleh iman. Lemaître khawatir hubungan ini membebani sains dengan kesimpulan yang tidak dapat ditetapkannya sendiri. Ia menyampaikan keberatannya pada 1952. Pidato paus berikutnya tentang pokok yang sama tidak lagi menyebut atom purba.

Mengapa seorang imam bersikap hati-hati seperti ini? Penjelasan fisik menggambarkan keadaan dunia dan perubahannya. Penciptaan mengajukan pertanyaan tentang keberadaan dunia itu sendiri. Mencampuradukkan pertanyaan-pertanyaan ini akan membuat argumen keagamaan bergantung pada model ilmiah yang mungkin diperbaiki kelak. Lemaître ingin melindungi penelitian sekaligus ketepatan penalaran keagamaan.

Pius XII, yang pidatonya berjudul Fiat Lux kepada Akademi Kepausan untuk Sains pada 1951 membuat Lemaître khawatir karena konkordismenya. Foto karya Michael Pitcairn, sekitar 1951. Domain publik melalui Wikimedia Commons.

Meski begitu, imannya tidak disisihkan ke sudut kehidupannya, tanpa hubungan dengan akal budinya. Ia mencari kebenaran melalui dua jalan, dengan menghormati tuntutan masing-masing:

« Ada dua jalan untuk sampai pada kebenaran. Saya memutuskan untuk mengikuti keduanya. »

Georges Lemaître, wawancara yang dilaporkan oleh Duncan Aikman, 1933.[19]

Sikap ini menghindari dua kesalahan. Sikap ini tidak meminta peneliti untuk sejak awal membenarkan suatu penafsiran agama. Sikap ini juga tidak memintanya meninggalkan iman agar dapat bekerja dengan serius. Lemaître menjadi ketua Akademi Kepausan untuk Sains pada 1960. Jadi, perjalanan hidupnya memadukan penelitian, kehidupan sebagai imam, dan tanggung jawab ilmiah di Vatikan.

Pertanyaan tentang penyetelan hukum-hukum alam semesta yang sangat tepat membutuhkan kehati-hatian yang sama. Mengamati galaksi yang saling menjauh, mengajukan model alam semesta, dan merenungkan penciptaan merupakan kegiatan yang berbeda. Ketiganya dapat didialogkan. Dialog ini menjadi lebih kuat ketika kesimpulan filosofis tidak disajikan sebagai hasil perhitungan semata.

7. Apa yang diajarkan Gereja tentang penelitian

Contoh Lemaître membantu kita memahami dokumen-dokumen Gereja. Dokumen-dokumen ini mengakui bahwa peneliti harus mempelajari dunia dengan metode yang sesuai dengan bidangnya. Untuk meneliti tumbuhan atau menghitung gerakan benda langit, mereka tidak perlu mengambil setiap jawaban dari ayat Alkitab.

Konsili Vatikan II adalah pertemuan para uskup yang merumuskan ajaran bagi Gereja. Pada 1965, dokumennya yang berjudul Gaudium et Spes mengakui otonomi penelitian yang sah. Otonomi ini berarti bahwa kenyataan alam memiliki hukum-hukumnya sendiri, yang dapat ditemukan para peneliti melalui pekerjaan mereka.

Prosesi saat Konsili Vatikan II, pada Oktober 1962. Wikimedia Commons.

Sebuah perbandingan membantu kita memahaminya. Mengenal penulis buku tidak membuat kita tidak perlu membaca halaman-halamannya. Demikian pula, percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia tidak membuat kita tidak perlu mempelajari dunia ini. Keberadaan Pencipta tidak meniadakan mekanisme alam. Bagi orang beriman, hal itu justru memberi alasan tambahan untuk sungguh-sungguh memperhatikannya.

Otonomi ini tidak berarti bahwa dunia dapat ada tanpa bergantung pada Tuhan. Otonomi ini juga tidak menempatkan penelitian di atas semua persoalan moral. Otonomi ini mengakui adanya bidang kerja tersendiri. Dokumen yang sama menyesalkan sikap orang Kristen yang tidak menghormati kebebasan yang sah ini.[20]

Persoalan evolusi memperlihatkan bagaimana pembedaan ini diterapkan. Dalam perdebatan ini, evolusi terutama merujuk pada penjelasan bahwa tubuh manusia berasal dari bentuk-bentuk kehidupan sebelumnya. Pada 1950, Pius XII mengizinkan penelitian atas persoalan ini dalam Humani Generis.[21] Mengizinkan penyelidikan tidak berarti menyatakan bahwa kesimpulannya sudah pasti dan final.

Paus juga mempertahankan ajaran tentang jiwa manusia. Jiwa bersifat spiritual: jiwa tidak dapat dijelaskan hanya sebagai unsur-unsur materi yang menyusun tubuh kita. Menurut iman Katolik, jiwa diciptakan langsung oleh Tuhan. Karena itu, penelitian tentang asal-usul tubuh saja tidak cukup untuk menjelaskan seluruh diri seseorang.

Pius XII juga menolak gagasan tentang beberapa pasangan manusia pertama yang tidak saling berhubungan. Dosa asal adalah dosa leluhur pertama manusia, yang akibatnya menyangkut seluruh umat manusia. Semua manusia berasal dari leluhur pertama yang sama. Asal-usul bersama ini membantu kita memahami bagaimana akibat dosa mereka diwariskan kepada seluruh keturunannya.[22]

Pada 1996, Yohanes Paulus II menilai bahwa argumen yang mendukung evolusi lebih kuat daripada pada masa Pius XII. Ia menyampaikannya dalam pesan tertulis kepada Akademi Kepausan untuk Sains.[23] Dokumen ini autentik, tetapi bukan ensiklik. Ensiklik adalah surat paus yang berisi ajaran. Pesan ini tidak menetapkan ajaran iman yang baru.

Pesan yang sama tetap mempertahankan penciptaan jiwa secara langsung dan menolak pandangan materialistis tentang manusia. Pandangan materialistis berusaha menjelaskan seluruh kenyataan manusia hanya melalui materi. Jadi, teks ini tidak membenarkan kesimpulan bahwa Gereja telah menerima semua penafsiran tentang evolusi. Artikel tentang batas-batas teori evolusi membahas pembedaan-pembedaan ini lebih lanjut.

Yohanes Paulus II, yang merehabilitasi Galileo pada 1992 dan membahas persoalan evolusi pada 1996. Foto, Oktober 1980 (Council of Ministers of Poland). Berlisensi CC BY 3.0 Poland melalui Wikimedia Commons.

Yohanes Paulus II merangkum hubungan iman dan akal secara lebih luas dalam Fides et Ratio, yang terbit pada 1998. Akal adalah kemampuan kita untuk berpikir, membandingkan argumen, dan mencari apa yang benar. Iman tidak meminta kita melepaskan kemampuan ini:

« Iman dan akal bagaikan dua sayap yang memungkinkan roh manusia naik menuju kontemplasi kebenaran. »

Yohanes Paulus II, Fides et Ratio, prolog.[24]

Gambaran ini menyatukan dua sarana yang berbeda dalam satu gerakan. Iman tidak menggantikan pemeriksaan terhadap alasan-alasan. Akal tidak terbatas pada eksperimen di laboratorium.

Pada 2006, Benediktus XVI kembali membahas gagasan ini dalam pidato di Regensburg. Ia mengakui nilai sains. Namun, pemikiran manusia tidak terbatas pada metode ilmiah.[25]

8. Ketika sains diminta memutuskan segalanya

Untuk memahami perbedaan pandangan yang mendasar, kita perlu mengenal satu kata: sientisme. Sientisme menyatakan bahwa hanya ilmu-ilmu eksperimental yang dapat memberi kita pengetahuan yang benar. Ilmu-ilmu ini menguji penjelasannya melalui pengamatan dan eksperimen. Jadi, sientisme melangkah jauh melampaui sikap menghargai penemuan ilmiah. Sientisme sejak awal menetapkan bahwa jalan pengetahuan lain tidak dapat mencapai kebenaran.

Kita dapat memahami apa yang membuat pandangan ini menarik. Sains menghasilkan temuan yang dapat diperiksa dan pencapaian teknologi yang mengesankan. Sementara itu, perdebatan moral atau agama terkadang tampak tidak berkesudahan. Mengapa kita tidak membatasi kepercayaan kita pada apa yang bisa diamati dan diukur? Pertanyaan ini layak mendapat jawaban yang sungguh-sungguh.

Masalah pertamanya sederhana. Eksperimen apa yang dapat membuktikan bahwa hanya eksperimen yang memberi kita akses pada kebenaran? Kita bisa menguji penjelasan tentang suatu gejala alam. Namun, pernyataan sientisme tidak dapat dibuktikan dengan cara ini.

Jadi, pernyataan sientisme bersifat filosofis. Filsafat menggunakan penalaran untuk memeriksa pertanyaan tentang pengetahuan, kenyataan, dan perilaku manusia. Sientisme sendiri menggunakan cara ini untuk menentukan nilai semua cara memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, sientisme memberi pernyataannya sendiri kewibawaan yang ditolaknya pada pernyataan filosofis lain.

Ahli biologi Jacques Monod membantu kita memahami pembedaan lain. Dalam Le Hasard et la Nécessité, ia menjelaskan bahwa metode ilmiah mengesampingkan pencarian suatu rencana sebagai penjelasan atas gejala alam. Ia juga mengakui bahwa tidak ada eksperimen yang dapat membuktikan ketiadaan segala rencana dalam alam.[26]

Aturan ini dapat membimbing pekerjaan peneliti tanpa menjadi kesimpulan tentang seluruh kenyataan. Sebuah alat dibuat untuk mendeteksi hal-hal tertentu. Ketidakmampuannya mendeteksi sesuatu yang lain tidak cukup untuk membuktikan bahwa hal lain itu tidak ada. Demikian pula, sebuah metode tidak dapat secara otomatis menjadikan batas kemampuannya sebagai batas segala sesuatu yang benar.

Karl Popper menawarkan pembedaan lain yang berguna. Suatu penjelasan ilmiah harus terbuka terhadap fakta yang dapat membuktikannya salah. Namun, pernyataan yang tidak termasuk dalam jenis pengujian ini belum tentu tidak bermakna. Batas penelitian eksperimental saja bukanlah batas seluruh pemikiran yang masuk akal.[27]

Bahkan di dalam penelitian ilmiah, syarat-syarat suatu metode tetap penting. Artikel tentang batas-batas penanggalan karbon 14 memberi contoh. Metode penanggalan berusaha menentukan umur suatu benda. Untuk memahami apa yang dapat ditegaskannya, kita juga harus memahami syarat penggunaannya.

Jadi, Gereja tidak meminta kita mengurangi kepercayaan pada eksperimen yang dilakukan dengan baik. Gereja menolak lompatan dari metode yang efektif menjadi penjelasan yang wajib diterima tentang segala yang ada. Sains yang teliti mampu merumuskan pertanyaannya dengan jelas. Sains menjadi lebih kuat dengan membedakan hasil penelitiannya dari kesimpulan tambahan yang mungkin diajukan seorang peneliti atas namanya sendiri.

9. Pertanyaan yang tidak dapat diputuskan oleh pengukuran

Sains menggambarkan mekanisme, menetapkan hubungan, dan memungkinkan perkiraan. Pengetahuan ini dapat mengubah kehidupan kita. Namun, mengetahui cara sesuatu bekerja belum menjelaskan seluruh nilainya. Menghitung energi sebuah ledakan saja tidak menentukan apakah menyebabkan ledakan itu merupakan tindakan yang benar.

Filsuf Ludwig Wittgenstein mengungkapkan perbedaan ini dengan kuat:

« Kita merasa bahwa, bahkan jika semua pertanyaan ilmiah yang mungkin terjawab, masalah kehidupan kita tetap utuh. »

Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, § 6.52.[28]

Filsuf Ludwig Wittgenstein. Wikimedia Commons.

Tujuannya bukan meremehkan penemuan. Tujuannya adalah mengenali pertanyaan yang dijawab oleh setiap penemuan. Penjelasan tentang mekanisme fisik tubuh kita saja tidak cukup untuk menentukan bagaimana kita harus memperlakukan seseorang. Tanggung jawab, kebebasan, dan hubungan dengan sesama membutuhkan pemikiran yang tidak dapat diringkas menjadi pengukuran.

Filsuf Jürgen Habermas juga memperingatkan bahaya mempersempit manusia dengan cara ini. Dalam analisis yang dilaporkan oleh Manfred Lütz, ia tidak menentang ilmu-ilmu alam. Ia menentang perluasan ilmu-ilmu itu hingga dianggap mencakup seluruh pengalaman kita. Penjelasan fisik saja tidak menyatakan apakah kita bertanggung jawab atas tindakan kita.[29]

Pertanyaan lain muncul ketika kita memikirkan seluruh alam semesta. Sekalipun kita dapat menggambarkan hukum-hukumnya dengan sempurna, mengapa ada dunia tempat hukum-hukum itu berlaku? Fisikawan Stephen Hawking mengajukan pertanyaan ini dengan ungkapan yang kuat:

« Apa yang meniupkan api ke dalam persamaan dan membuat alam semesta ada untuk digambarkan olehnya? »

Stephen Hawking, A Brief History of Time, bab 11.[30]

Persamaan menyatakan hubungan matematis. Persamaan membantu menggambarkan apa yang ada dan bagaimana sesuatu bekerja. Namun, menulis gambaran tidak membuat kenyataan yang digambarkan itu menjadi ada. Jadi, pertanyaan tentang keberadaan dunia melampaui pertanyaan tentang cara kerjanya. Artikel tentang alasan mengapa dunia ada mendalami penalaran ini.

Thomas Aquinas membedakan sebab-sebab kedua dan sebab pertama. Sebab-sebab kedua adalah mekanisme alam yang menghasilkan akibat di dunia. Sebab pertama merujuk pada Tuhan, yang memberi keberadaan kepada dunia dan mekanisme-mekanisme ini. Jadi, kedua penjelasan ini tidak memperebutkan tempat yang sama.[31]

Tuhan tidak dipakai untuk mengisi kekosongan dalam pengetahuan ilmiah yang masih belum lengkap. Jika demikian, setiap penemuan akan menghilangkan sebagian argumen keagamaan. Pertanyaannya lebih mendalam: mengapa mekanisme, keteraturan, dan dunia itu ada? Menggambarkannya dengan semakin baik tidak menghapus pertanyaan ini.

Menurut iman Katolik, dunia berasal dari Pencipta yang bertindak dengan akal budi. Karena itu, akal budi manusia dapat berusaha memahami dunia ini. Keyakinan ini juga berperan dalam sejarah.

Sosiolog Max Weber, dalam analisis yang dilaporkan oleh Lütz, menekankan pentingnya kebiasaan hidup dan berpikir yang berkembang dalam Kekristenan Barat. Hal ini tidak berarti bahwa Gereja menemukan semuanya sendirian. Hal ini menunjukkan bahwa Gereja ikut membentuk beberapa keadaan yang mendukung penelitian.[32]

10. Mengakui kesalahan tanpa memelintir keseluruhan sejarah

Jawaban yang meyakinkan tidak dapat meminta pembaca melupakan hal-hal yang mengganggu. Kasus Galileo tetap merupakan kesalahan yang nyata. Pelarangan buku juga merupakan bagian dari sejarah. Indeks adalah daftar buku yang dilarang dibaca oleh Gereja. Daftar ini dibuat pada 1559 dan dihapuskan pada 1966.

Beberapa larangannya menyasar karya yang tidak pantas mendapat hukuman tersebut. Jadi, pengawasan terhadap buku memang dapat merugikan perkembangan pemikiran. Mengakui fakta-fakta ini membantu kita memahami keterbatasan keputusan manusia. Hal ini juga mencegah kita menyamakan kebenaran iman dengan setiap penilaian yang dibuat oleh pemimpin agama.

Halaman judul sebuah edisi Indeks tahun 1564. Daftar ini menunjukkan adanya pengawasan nyata terhadap buku.

Sains juga telah meluruskan beberapa penafsiran agama yang populer. Manfred Lütz mengambil contoh penangkal petir. Pemahaman tentang petir dan kemampuan mengendalikannya mengubah gagasan bahwa petir selalu merupakan hukuman langsung dari Tuhan. Dengan demikian, kepercayaan yang tersebar luas dapat diluruskan tanpa membantah ajaran iman.[33]

Ketegangan lain pernah terjadi di berbagai tempat terkait penelitian tubuh, batuan, atau peninggalan kuno. Menghapusnya akan membuat sejarah menjadi tidak benar. Namun, mengubahnya menjadi kebijakan umum juga akan membuat sejarah menjadi tidak benar. Sebuah lembaga dapat mendukung suatu kegiatan sekaligus memiliki pemimpin yang, pada waktu tertentu, kurang memahaminya.

Jadi, untuk menilai keseluruhannya, mari kita perhatikan kedua kelompok fakta ini. Ada hukuman dan larangan. Ada pula universitas, akademi, pendanaan, dan penemuan. Penjelasan yang hanya mempertahankan satu kelompok fakta tidak menggambarkan apa yang benar-benar terjadi.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan awal menjadi jelas. Gereja pernah menghambat peneliti dan harus mengakui kesalahan-kesalahan ini. Namun, baik ajarannya maupun keseluruhan sejarahnya tidak menjadikannya musuh sains. Keyakinan utamanya adalah bahwa pencarian kebenaran yang jujur tidak dapat membawa kita pada pertentangan nyata dengan Tuhan.

Hal-hal yang perlu diingat

  • Kisah tentang perang yang terus berlangsung dipopulerkan pada abad ke-19.
  • Gereja banyak berkontribusi pada lembaga dan penelitian ilmiah.
  • Hukuman terhadap Galileo merupakan kesalahan nyata yang diakui oleh Yohanes Paulus II.
  • Para peneliti memiliki kebebasan yang sah dalam mempelajari dunia alam.
  • Teori ilmiah tidak otomatis menjadi ajaran iman.
  • Sientisme menambahkan pernyataan filosofis pada sains yang tidak dapat dibuktikan oleh eksperimen apa pun.
  • Pertanyaan tentang nilai, makna, dan keberadaan juga membutuhkan penggunaan akal budi.

Iman Katolik tidak meminta kita menutup mata terhadap dunia. Iman mengajak kita memandangnya dengan penuh kepercayaan. Dunia ini dapat dipelajari, dibahas, dan dipahami dengan lebih baik. Mengakui Tuhan sebagai Pencipta tidak membebaskan kita dari penelitian yang serius dan tidak mengubah kesalahan manusia menjadi kebenaran yang wajib diterima.

Karena itu, orang beriman dapat menerima penemuan tanpa takut seluruh imannya runtuh. Ia juga dapat mempertanyakan penafsiran ilmiah tanpa meremehkan pekerjaan para peneliti. Sejarah ini mengajak kita mencari kebenaran dengan rasa ingin tahu dan kebebasan. Sejarah ini juga menuntut kerendahan hati untuk mengakui kesalahan.

Catatan dan Referensi

  1. David C. Lindberg et Ronald L. Numbers (ed.), God and Nature: Historical Essays on the Encounter Between Christianity and Science, University of California Press, Berkeley / Los Angeles / London, 1986, pengantar umum, hlm. 5.

    1
  2. Ronald L. Numbers (ed.), Galileo Goes to Jail and Other Myths about Science and Religion, Harvard University Press, Cambridge / London, 2009. Tentang Galileo, bab 8, oleh Maurice A. Finocchiaro.

    2 10
  3. John L. Heilbron, The Sun in the Church: Cathedrals as Solar Observatories, Harvard University Press, Cambridge / London, 1999, hlm. 1. Perbandingan diparafrasakan, seperti dalam artikel lengkap. Perbandingan ini menyangkut dukungan keuangan dan sosial bagi astronomi selama lebih dari enam abad, bukan bagi semua ilmu.

    3
  4. Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 93. Angka ini menyangkut upaya untuk mengadili para pengajar atas tuduhan bidaah selama Abad Pertengahan.

    4
  5. Roger Bacon, Opus Maius, pars VI, De Scientia Experimentali, bab 1, dikirim kepada Paus Klemens IV sekitar 1267-1268. Teks Latin: « Sine experientia nihil sufficienter sciri potest. » Edisi bahasa Inggris: Robert Belle Burke, The Opus Majus of Roger Bacon, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1928.

    5
  6. Owen Gingerich, The Book Nobody Read: Chasing the Revolutions of Nicolaus Copernicus, Walker & Co., New York, 2004, hlm. 56-75. Dimasukkan ke dalam Indeks pada Maret 1616 sambil menunggu perbaikan, sesuai ungkapan donec corrigatur. Sumber menyebutkan bahwa sepuluh kalimat dalam edisi 1543 harus diperbaiki.

    6
  7. Gregor Mendel, « Versuche über Pflanzenhybriden », Verhandlungen des naturforschenden Vereines in Brünn, 4, 1866, hlm. 3-47.

    7
  8. Lazzaro Spallanzani, Saggio di osservazioni microscopiche concernenti il sistema della generazione de' signori di Needham e Buffon, Modène, 1765, tentang eksperimen yang membantah kemunculan makhluk hidup secara spontan; Opuscoli di fisica animale e vegetabile, Modène, 1776.

    8
  9. Alexandre Koyré, Études galiléennes, Hermann, Paris, 1939, tiga jilid. Rujukan yang diberikan sumber tentang belum adanya bukti fisik yang menentukan pada 1633 dan tentang kekeliruan argumen pasang surut.

    9
  10. Antonio Favaro (ed.), Opere di Galileo Galilei, vol. XIX, Barbèra, Florence, 1907, hlm. 374, catatan kritis. Ungkapan yang dianggap berasal dari Galileo baru muncul pada 1757 dalam karya Giuseppe Baretti, lebih dari satu abad setelah pengadilan.

    11
  11. Jean-Paul II, Pidato kepada Akademi Kepausan untuk Sains mengenai kesimpulan kerja komisi Galileo, 31 Oktober 1992. Kutipan Galileo berasal dari Lettera a Benedetto Castelli, 1613, yang dikutip dalam pidato ini. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/fr/speeches/1992/october/documents/hf_jp-ii_spe_19921031_accademia-scienze.html

    12
  12. Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 151-152, tentang Canon episcopi dan keraguan teologis pada Abad Pertengahan terhadap kemampuan sihir untuk benar-benar menghasilkan sesuatu.

    13
  13. Tentang keaslian surat persetujuan universitas yang diperdebatkan, yang dicetak di bagian awal Malleus Maleficarum: Joseph Hansen berpendapat bahwa sebagian surat itu dipalsukan oleh Kramer; Christopher S. Mackay menentang pendapat ini. Lihat Mackay (ed. dan penerj.), The Hammer of Witches: A Complete Translation of the Malleus Maleficarum, Cambridge University Press, Cambridge, 2009, pengantar, dan Jan Machielsen, Journal of the Oxford University History Society, 2009, tentang posisi Mackay. Sumber tidak memutuskan perdebatan ini.

    14
  14. Parafrasa berdasarkan Wolfgang Behringer, yang dilaporkan oleh Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 147. Lütz tetap disebut sebagai perantara; ini bukan kutipan yang diperiksa langsung dalam karya Behringer.

    15
  15. Parafrasa berdasarkan Henry Kamen, yang dilaporkan oleh Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 154. Lihat juga Henry Kamen, The Spanish Inquisition: A Historical Revision, Weidenfeld & Nicolson, London, 1997. Rumusan persisnya belum diperiksa dalam sumber primer: disajikan sebagai parafrasa melalui Lütz.

    16
  16. Perkiraan Gustav Henningsen, yang dilaporkan oleh Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 157. Sumber lengkap menjelaskan bahwa halaman persis untuk perkiraan ini belum ditemukan dalam karya-karya Henningsen: Lütz tetap disebut secara jelas sebagai perantara.

    17
  17. Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 154, tentang ketakutan masyarakat, pengadilan sipil, serta sikap hati-hati para teolog dan pengadilan gerejawi.

    18
  18. Duncan Aikman, « Lemaître Follows Two Paths to Truth », The New York Times Magazine, 19 Februari 1933, hlm. 18. Wawancara dengan Georges Lemaître. Terjemahan dipertahankan dari artikel lengkap. Teks asli: « There were two ways of arriving at the truth. I decided to follow them both. »

    19
  19. Concile Vatican II, Gaudium et Spes, 7 Desember 1965, § 36. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/archive/hist_councils/ii_vatican_council/documents/vat-ii_cons_19651207_gaudium-et-spes_fr.html

    20
  20. Pie XII, Ensiklik Humani Generis, 12 Agustus 1950, § 36. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/content/pius-xii/fr/encyclicals/documents/hf_p-xii_enc_12081950_humani-generis.html

    21
  21. Pie XII, Humani Generis, § 37, tentang asal-usul bersama umat manusia dan ajaran dosa asal. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/content/pius-xii/fr/encyclicals/documents/hf_p-xii_enc_12081950_humani-generis.html

    22
  22. Jean-Paul II, Pesan kepada Akademi Kepausan untuk Sains, 22 Oktober 1996, §§ 4-6. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/fr/messages/pont_messages/1996/documents/hf_jp-ii_mes_19961022_pont-accad-scienze.html

    23
  23. Jean-Paul II, Fides et Ratio, 14 September 1998, prolog. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/fr/encyclicals/documents/hf_jp-ii_enc_14091998_fides-et-ratio.html

    24
  24. Benoît XVI, « Foi, Raison et Université : souvenirs et réflexions », Pidato di Universitas Regensburg, 12 September 2006. Teks bahasa Prancis: https://www.vatican.va/content/benedict-xvi/fr/speeches/2006/september/documents/hf_ben-xvi_spe_20060912_university-regensburg.html

    25
  25. Jacques Monod, Le Hasard et la Nécessité. Essai sur la philosophie naturelle de la biologie moderne, Éditions du Seuil, Paris, 1970, bab 1, hlm. 32-33. Bagian ini diparafrasakan, tanpa kutipan langsung.

    26
  26. Karl Popper, Logik der Forschung, 1934, terjemahan bahasa Prancis La Logique de la découverte scientifique, Payot, Paris, 1973. Kriteria ini membedakan apa yang termasuk dalam ilmu eksperimental; kriteria ini tidak menentukan makna semua pernyataan.

    27
  27. Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, 1921, § 6.52, terjemahan Gilles Gaston Granger, Gallimard, Paris, 1993. Terjemahan dipertahankan kata demi kata dari artikel lengkap.

    28
  28. Parafrasa peringatan Jürgen Habermas terhadap penyempitan pengalaman manusia menjadi penjelasan berdasarkan alam saja, yang dilaporkan oleh Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 282. Rumusan persisnya belum diperiksa dalam sumber primer: disajikan sebagai parafrasa, bukan kutipan.

    29
  29. Stephen Hawking, A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes, Bantam Books, New York, 1988, bab 11, « Conclusion », hlm. 174. Terjemahan dipertahankan dari artikel lengkap. Teks asli: « What is it that breathes fire into the equations and makes a universe for them to describe? »

    30
  30. Thomas d'Aquin, Summa contra Gentiles, buku III, bab 70, tentang sebab pertama dan sebab-sebab kedua. Juga: Summa Theologiae, Ia, pertanyaan 22, artikel 3. Edisi digital: www.corpusthomisticum.org.

    31
  31. Parafrasa analisis Max Weber tentang biarawan Barat dan kebiasaan Kristen untuk berpikir secara teratur, yang dilaporkan oleh Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 177. Lihat juga Max Weber, L'Éthique protestante et l'esprit du capitalisme, 1904-1905, terjemahan Jacques Chavy, Plon, Paris, 1964. Rumusan persisnya belum diperiksa dalam sumber primer: disajikan sebagai parafrasa melalui Lütz.

    32
  32. Manfred Lütz, Le christianisme en procès, Éditions Emmanuel, Paris, 2019, hlm. 176.

    33