Golongan darah yang sama dilaporkan ditemukan pada beberapa relikui yang dikaitkan dengan wafat Yesus. Kesamaan ini menarik perhatian karena golongan tersebut cukup langka. Untuk memahami seberapa kuat bukti ini, kita akan memeriksa hasil analisis, kesesuaiannya, dan keterbatasannya. Penyelidikan ini juga mencakup petunjuk dari tumbuhan, luka, dan bentuk noda.
Gagasan utamanya sederhana: beberapa jejak yang berbeda mungkin menceritakan kisah seorang yang sama yang disalibkan. Tidak ada satu hasil pun yang dapat mengungkapkan siapa orang itu jika berdiri sendiri. Namun, kesesuaian berbagai hasil itu dapat membentuk kumpulan petunjuk yang jauh lebih bermakna daripada setiap petunjuk secara terpisah.
Penyelidikan ini berkaitan dengan penyelidikan tentang keberadaan Yesus dalam sejarah. Namun, pertanyaannya lebih khusus: mungkinkah benda-benda ini menyimpan jejak fisik Sengsara-Nya? Untuk menjawabnya dengan sungguh-sungguh, kita perlu melihat apa yang benar-benar ditunjukkan oleh setiap pemeriksaan.
Golongan darah yang sama: mengapa menarik?
Para pendukung keaslian relikui ini mengajukan penalaran yang mudah diikuti. Tiga kain yang disimpan di tempat berbeda diduga mengandung darah dengan golongan langka yang sama. Beberapa perubahan luar biasa pada hosti juga dilaporkan menunjukkan hasil ini. Hosti yang telah dikonsekrasi adalah roti yang telah menjadi tubuh Kristus dalam misa. Kesamaan lain juga dianggap memperkuat hubungan awal ini.
Penalaran ini merupakan bagian dari pembelaan iman Katolik dengan akal budi. Menghormati suatu benda berarti memberikan penghormatan karena apa yang diingatkan oleh benda itu. Penalaran tersebut tidak mengatakan: “Benda ini dihormati, jadi benda ini asli.” Yang dicari adalah petunjuk yang dapat diperiksa, yang juga dapat menarik minat seseorang tanpa keyakinan agama.
Untuk memahami argumen ini, mari mulai dari darah. Para peneliti membedakan, antara lain, empat golongan yang disebut A, B, AB, dan O. Pengelompokan ini bergantung pada penanda yang terdapat pada sel darah merah. Sel darah merah adalah unsur-unsur sangat kecil yang menjadi bagian dari darah.
Golongan AB memiliki penanda A dan B. Sekitar 3 sampai 5 % penduduk dunia memiliki golongan ini. Jika memakai angka 5 %, itu berarti satu dari dua puluh orang. Karena itu, menemukan golongan ini beberapa kali dapat lebih mengejutkan daripada menemukan golongan yang sangat umum.[1]
Namun, dua orang dengan golongan darah yang sama belum tentu orang yang sama. Beberapa orang bisa memakai pakaian dengan warna yang sama. Begitu pula, beberapa orang bisa memiliki golongan darah yang sama.
Jadi, kekuatan argumen ini bergantung pada hal-hal yang menyertai hasil AB tersebut. Para pendukung juga menunjuk pada tumbuhan dari wilayah yang sama dan noda yang berada di tempat-tempat yang sama. Mereka juga membandingkan luka yang terlihat dengan kisah dalam Injil. Kesesuaian antara berbagai unsur inilah yang mereka anggap sangat meyakinkan.
Para pengkritik dari kalangan ilmuwan mengajukan penjelasan lain. Mungkin beberapa tes memberi hasil yang sama karena menghadapi kesulitan yang sama pada benda-benda kuno. Jika demikian, hasil yang berulang belum tentu menunjukkan asal yang sama. Keberatan ini perlu dijawab dengan tepat.
Kedua pendekatan setidaknya dapat berangkat dari satu aturan bersama: membedakan pengamatan dari penafsirannya. Melihat reaksi dalam sebuah tes adalah pengamatan. Menyatakan bahwa reaksi itu menunjukkan darah Yesus adalah kesimpulan yang jauh lebih luas. Di antara keduanya, ada beberapa tahap yang harus diperiksa.
Analisis laboratorium berarti memeriksa bahan dengan alat dan zat yang sesuai. Biasanya, peneliti mengambil bahan dalam jumlah sangat kecil dari benda yang diteliti. Bahan kecil yang diambil itu disebut sampel. Kesimpulan yang dapat ditarik darinya bergantung pada asalnya, keadaannya, dan pemeriksaan yang dilakukan.
Tiga kain untuk tiga tahap Sengsara
Benda-benda yang diperiksa ini diduga memiliki fungsi yang berbeda. Tunik diduga dipakai sebelum wafat. Sudarium diduga menutupi wajah saat di salib, lalu selama pemindahan jenazah. Kain Kafan diduga membungkus tubuh di makam.
Perbedaan ini sangat penting. Yang dibandingkan bukan tiga salinan gambar yang sama. Yang dihubungkan adalah jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan oleh tubuh yang sama pada waktu-waktu yang berurutan. Ini seperti menelusuri perjalanan seseorang melalui beberapa benda yang dipakainya dalam satu hari. Kain kafan adalah kain untuk membungkus orang yang sudah meninggal.
Kain Kafan Suci Turin adalah kain linen berukuran besar. Panjangnya 4,42 meter dan lebarnya 1,13 meter. Pada kain itu terdapat gambar bagian depan dan belakang tubuh seorang pria yang sudah meninggal. Luka-lukanya sesuai dengan luka seseorang yang dicambuk, dimahkotai duri, dan disalibkan.[2]
Injil menyebut kain kafan yang dipakai untuk membungkus tubuh Yesus. Anggapan bahwa Kain Kafan ini adalah kain tersebut didasarkan pada tampilannya, luka-lukanya, dan sejarahnya. Keberadaannya tercatat di Lirey, Champagne, pada 1357.
Tim yang memeriksa Kain Kafan pada 1978 juga meneliti gambar tubuhnya. Mereka menyimpulkan bahwa gambar itu bukan lukisan, bukan gambar yang dibuat dengan menggambar, dan bukan bekas terbakar. Mereka tidak berhasil menentukan bagaimana gambar itu terbentuk.[3]
Sudarium Oviedo jauh lebih kecil: 84 kali 53 sentimeter. Kain ini disimpan di katedral Oviedo, Spanyol. Berbeda dengan Kain Kafan, kain ini tidak menampilkan gambar tubuh. Pada kain ini terdapat noda darah dan cairan lain.[4]
Nama Sudarium di sini merujuk pada kain penutup wajah ini. Tradisi menghubungkannya dengan kain yang pernah menutupi kepala Yesus, yang disebut oleh Santo Yohanes. Sejarahnya diceritakan dalam catatan-catatan kuno. Pembukaan peti berisi relikui dengan upacara khidmat tercatat di Oviedo pada 1075.
Dokter José Delfín Villalaín Blanco meneliti bagaimana noda-nodanya terbentuk. Ia menjelaskan adanya darah yang bercampur dengan cairan pleura. Cairan pleura adalah cairan yang berasal dari daerah di sekitar paru-paru. Menurut penafsirannya, campuran ini sesuai dengan keadaan seseorang yang meninggal karena disalibkan.[5]
Ia membedakan noda yang terbentuk saat kepala berada dalam posisi tegak, lalu noda lain setelah kepala dipindahkan ke posisi mendatar. Urutan ini sesuai dengan perpindahan dari salib ke pengangkutan jenazah. Urutan tersebut tidak mengungkapkan nama orang yang meninggal itu. Yang ditunjukkannya adalah kesesuaian antara jejak-jejak tersebut dan jalannya Sengsara.
Tunik Argenteuil adalah pakaian wol yang disimpan di Prancis. Pada awalnya, pakaian ini ditenun tanpa jahitan. Santo Yohanes menyebut bahwa tunik Yesus memiliki ciri tersebut. Catatan tertulis pertama tentang relikui Argenteuil yang tidak diperdebatkan berasal dari 1156.
Secara fisik, benda ini telah mengalami banyak perubahan. Pada 1793, pastor paroki Pierre-Jean Ozet memotongnya untuk mencoba menyelamatkannya selama Revolusi Prancis. Beberapa potongannya dikubur, lalu diambil kembali. Pada 1795, dua puluh potongan dijahit kembali di atas satin.[6]
Peristiwa-peristiwa ini menjelaskan mengapa benda yang ada sekarang harus diteliti dengan sangat hati-hati. Para peneliti memeriksa pakaian yang telah dipotong-potong, dipegang banyak orang, dan disatukan kembali.
Benangnya dipilin ke kanan. Banyak kain Yahudi dari zaman Yesus justru memakai benang yang dipilin ke kiri. Perbedaan ini memerlukan penjelasan, tetapi tidak cukup untuk menyatakan benda itu tidak asli. Aturan Alkitab yang dikutip melarang mencampur wol dan linen dalam satu pakaian. Aturan itu tidak melarang wol murni.[7][8]
Apa yang benar-benar ditunjukkan oleh pemeriksaan darah
Ada dua pertanyaan yang perlu dibedakan: apakah noda-noda itu mengandung darah manusia? Dan jika ya, apa golongannya? Sebuah pemeriksaan dapat menjawab pertanyaan pertama tanpa menjawab yang kedua. Mencampuradukkan kedua tahap ini akan membuat hasilnya tampak lebih kuat daripada yang sebenarnya.
Pada Kain Kafan, John Heller dan Alan Adler mengidentifikasi beberapa unsur khas darah. Penelitian mereka menjawab penjelasan bahwa noda merah itu hanyalah cat. Mereka mengakui adanya jejak pigmen dalam jumlah sangat kecil. Pigmen adalah bahan pewarna. Namun, sebarannya tidak mendukung penjelasan bahwa noda darah itu berasal dari cat.[9]
Pierluigi Baima Bollone meneliti golongan darahnya. Pada 1982, timnya mengumumkan hasil AB. Pemeriksaan tambahan dilakukan pada 1984. Prinsipnya adalah mencari penanda A dan B dengan zat yang dapat mengenalinya.[10][11]
Penanda-penanda ini disebut antigen. Dalam pembahasan ini, antigen adalah struktur yang dapat dikenali oleh zat dalam tes. Zat yang digunakan mengandung antibodi. Antibodi adalah zat yang dapat menempel pada penanda tertentu.
Para peneliti dapat membuat perlekatan ini terlihat dengan pewarna yang bercahaya di bawah pencahayaan yang sesuai. Lalu mereka mengamati serat-seratnya dengan mikroskop. Mikroskop adalah alat untuk melihat unsur yang terlalu kecil bagi mata. Reaksi yang diamati membuat mereka menetapkan golongan AB.
Pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada noda. Beberapa serat bernoda bereaksi terhadap zat yang mengenali A dan B, sedangkan serat tanpa noda tidak bereaksi. Perbandingan ini disebut kontrol. Kontrol digunakan untuk memastikan bahwa tes benar-benar merespons hal yang dicari, bukan sesuatu yang lain.[12]
Pada Sudarium, pengumuman golongan AB berasal dari 1993 dan 1994. Analisis pertama disebut dilakukan oleh Carlo Goldoni bersama Villalaín. Analisis kedua dilakukan oleh Baima Bollone pada tujuh potongan. Hasil yang sama dilaporkan untuk berbagai sampel tersebut.
Namun, keterbatasan dokumennya harus tetap dijelaskan. Hasil-hasil ini kita ketahui melalui rangkuman Mark Guscin yang diterbitkan pada 1998. Publikasi asli yang menjelaskan penentuan golongan darah ini secara terperinci belum ditemukan. Jadi, analisis ini dilaporkan melalui sumber lain, bukan melalui laporan yang dapat diperiksa langsung.[13]
Untuk Tunik, pemeriksaan-pemeriksaan awal tidak pernah diterbitkan. Hasilnya disampaikan melalui sumber kedua, tanpa laporan asli yang dapat diakses. Karena itu, hasil-hasil tersebut tidak dapat dihitung sebagai konfirmasi yang saling terpisah. Sebuah informasi yang diulang dalam beberapa kisah tidak otomatis menjadi beberapa bukti.
Penelitian Gérard Lucotte dan André Marion disajikan dalam sebuah buku pada 2006. Di dalamnya, Lucotte melaporkan darah manusia dan golongan AB. Ia juga menjelaskan adanya sel darah merah kecil yang telah mengering. Pengamatan ini mendukung adanya darah, tetapi tidak dapat menentukan golongannya jika berdiri sendiri.
Lucotte juga melaporkan bahwa ia telah mengekstraksi DNA manusia. DNA adalah bahan dalam tubuh yang beberapa cirinya dapat dipakai untuk membandingkan jejak-jejak manusia. Ia menafsirkan hasilnya sebagai petunjuk bahwa jejak itu berasal dari satu orang. Kesimpulan ini masih perlu dikonfirmasi, terutama karena uraiannya juga mengakui adanya jejak manusia dari masa yang lebih baru.
Buku tersebut tidak ditelaah seperti artikel yang akan diterbitkan dalam jurnal ilmiah khusus. Buku itu juga tidak membandingkan DNA ketiga relikui. Lucotte mengungkapkan keyakinan pribadinya dengan kalimat ini:
“Saya melihat seluruh Sengsara melalui mikroskop.”
Gérard Lucotte, peneliti yang mempelajari DNA.[14]
Keyakinan ini mengesankan. Namun, keyakinan itu tidak menggantikan tahap-tahap pemeriksaan yang belum dilakukan. Adanya golongan darah yang sama dan identitas orang yang sama tetap merupakan dua pernyataan yang berbeda.
Apakah tumbuhan, noda, dan luka menceritakan kisah yang sama?
Darah hanyalah satu bagian dari penyelidikan ini. Peneliti lain telah memeriksa jejak tumbuhan dan posisi noda. Penelitian ini menarik bagi para pendukung relikui karena mengajukan pertanyaan yang berbeda. Penjelasan tentang tes darah tidak otomatis menjawab pengamatan-pengamatan lain.
Serbuk sari adalah serbuk sangat halus yang dihasilkan tumbuhan. Butir-butirnya dapat tertinggal pada kain dan diperiksa dengan mikroskop. Mengenali tumbuhan asalnya dapat memberi petunjuk tentang wilayah yang pernah dilalui kain itu. Ini seperti mencari asal suatu pakaian dari jejak-jejak yang tertinggal di atasnya.
Max Frei memulai penelitian ini pada Kain Kafan. Penelitian berikutnya oleh Avinoam Danin dan Uri Baruch meninjau kembali identifikasinya. Mereka mengurangi jumlah spesies yang dianggap telah dikenali dengan pasti. Namun, mereka tetap menganggap kesesuaian dengan wilayah Palestina menarik untuk diteliti.[15][16]
Pemeriksaan lain dilakukan pada Sudarium dan Tunik. Dua tumbuhan dilaporkan pada ketiga kain: pohon pistachio Palestina dan tamaris Hampe. Tidak semua dokumen memiliki nilai bukti yang sama. Untuk Tunik, hasil-hasilnya antara lain berasal dari buku Lucotte dan Marion.
Pada Sudarium, hasil pemeriksaan serbuk sari juga sesuai dengan beberapa tahap perjalanan yang diceritakan dalam catatan-catatan sejarah. Hasil itu menunjukkan hubungan dengan Yerusalem, Afrika Utara, Toledo, dan Spanyol. Kesesuaian antara jejak tumbuhan dan kisah perjalanan ini menambah alasan untuk meneliti bukti-bukti tersebut.[17][18]
Tumbuhan-tumbuhan ini mengarah ke Mediterania timur. Wilayah ini adalah bagian timur kawasan sekitar Laut Tengah. Tumbuhan tersebut tidak hanya tumbuh di Palestina. Tamaris Hampe bahkan tersebar sampai ke Sisilia. Jadi, tidak tepat jika tumbuhan-tumbuhan itu disebut sebagai penanda yang hanya berasal dari Palestina.[19][20]
Menurut buku-buku flora yang dikutip, kedua tumbuhan ini tidak tumbuh secara alami di Spanyol, Prancis, maupun daratan utama Italia. Buku flora menjelaskan tumbuhan yang terdapat di wilayah yang diteliti. Perbedaan dengan tempat penyimpanan kain-kain itulah yang menarik perhatian.
Meski demikian, kesesuaian ini tetap memiliki kekuatan. Tumbuhan dari satu kawasan luas yang sama dilaporkan pada kain-kain yang disimpan terpisah. Menurut para pendukung, dugaan bahwa benda-benda itu sengaja dibuat harus dapat menjelaskan rincian ini, yang sulit disiapkan tanpa pengetahuan yang diperlukan. Karena itu, argumen ini perlu diperiksa tersendiri, di luar perdebatan tentang darah saja.
Posisi noda memberi bahan perbandingan lain. Alan D. Whanger menumpangkan gambar Kain Kafan dan Sudarium untuk membandingkannya. Ia melaporkan 70 titik kesesuaian di bagian depan dan 50 di bagian belakang. Jumlahnya menjadi 120 titik, angka yang sering dikutip.[21]
Perbandingan ini terutama mencakup tanda di belakang tengkorak, luka pada tulang pipi kanan, dan panjang hidung. Angka tersebut menunjukkan kesesuaian bentuk dan letak. Angka itu tidak berarti ada 120 pemeriksaan yang saling terpisah. Hasilnya dipaparkan pada sebuah kongres pada 1994, lalu dilaporkan oleh Guscin. Hasil itu belum direproduksi di laboratorium independen.
Sementara itu, Marion membandingkan Tunik dengan Kain Kafan. Menurut analisisnya, bagian-bagian berdarah di punggung sesuai dengan luka yang terlihat pada kain kafan. Bagian bahu juga memiliki jejak yang sesuai dengan gesekan salib. Dengan demikian, pakaian dan kain pembungkus jenazah ini mungkin memberi dua gambaran yang saling melengkapi tentang penderitaan yang sama.[22]
Terakhir, ahli bedah Pierre Barbet meneliti luka pada Kain Kafan. Ahli bedah adalah dokter yang melakukan operasi. Ia mencatat adanya paku pada daerah pergelangan tangan dan banyak bekas cambukan. Ia juga menjelaskan adanya pendarahan di seluruh kulit kepala. Jadi, mahkota itu diduga menutupi kepala, bukan sekadar membentuk lingkaran.[23]
Menurut Barbet, pemasangan paku di telapak tangan berisiko merobek tangan akibat berat tubuh. Ia melihat tanda di pergelangan tangan sebagai rincian medis yang tepat. Ia juga mencatat luka tombak di lambung kanan, pada tempat yang sesuai dengan rekonstruksinya.[24]
Bagi Barbet, rincian-rincian ini menunjukkan pengetahuan yang sangat tepat tentang tubuh yang disalibkan. Rincian itu membuat penjelasan bahwa gambar tersebut dibuat oleh seniman abad pertengahan sulit dipenuhi: seniman itu harus memahami dan menggambarkan semua ciri khusus ini. Namun, kesesuaian medis ini tidak dapat, dengan sendirinya, mengungkapkan nama orang tersebut.
Kerudung Manoppello kadang ditambahkan dalam perbandingan ini. Heinrich Pfeiffer membela adanya kesesuaian antara wajah pada kerudung itu dan wajah pada Kain Kafan.[25] Tidak ada hasil golongan darah untuk kerudung tersebut yang disajikan dalam penyelidikan ini. Jadi, kerudung ini dapat dibahas dalam perbandingan gambar, tetapi tidak dalam perhitungan tentang darah.
Perhitungan “satu peluang dari delapan ribu” dijelaskan dengan sederhana
Probabilitas menyatakan peluang terjadinya suatu peristiwa dalam kondisi tertentu. Perhitungan itu hanya berlaku jika kondisinya dipilih dengan tepat. Itulah sebabnya sebuah perhitungan yang mengesankan bisa benar secara matematika, tetapi kurang cocok untuk benda-benda yang diteliti.
Mari memakai frekuensi AB sebesar 5 %, yaitu satu dari dua puluh orang. Kita memilih tiga orang secara acak dari populasi yang 5 % anggotanya bergolongan AB. Setiap pilihan harus tidak bergantung pada pilihan lainnya.
Peluangnya satu dari dua puluh, lalu satu dari dua puluh, lalu satu dari dua puluh lagi. Dua puluh kali dua puluh kali dua puluh sama dengan delapan ribu. Jadi, peluang ketiganya bergolongan AB adalah satu dari delapan ribu. Inilah contoh perhitungan yang diajukan untuk Kain Kafan, Sudarium, dan Lanciano.
Perhitungan ini menarik perhatian pada kesamaan yang jarang terjadi. Perhitungan itu tidak menunjukkan peluang bahwa relikui-relikui tersebut asli. Keduanya adalah pertanyaan yang berbeda. Angka yang menggambarkan peluang suatu hasil tidak langsung mengukur kebenaran seluruh kisah.
Bakteri adalah makhluk hidup yang sangat kecil. Syarat pertama berkaitan dengan kemandirian hasil. Hasil-hasil disebut independen jika tidak ada satu penyebab yang menghasilkan atau mengacaukan semuanya sekaligus. Jika beberapa tes bereaksi terhadap keberadaan bakteri yang sama, kesesuaiannya tidak lagi berarti beberapa kebetulan yang terpisah. Kesamaan itu mungkin mencerminkan satu masalah yang berulang.
Syarat kedua berkaitan dengan frekuensi yang dipilih. Angka 3 sampai 5 % merupakan perkiraan umum untuk dunia saat ini. Survei yang dikutip memberi angka sekitar 7 % pada populasi Yahudi modern. Survei itu tidak memberi tahu kita frekuensi yang tepat di antara orang-orang yang hidup sezaman dengan Yesus.[26]
Memilih frekuensi yang lebih tinggi membuat kesamaan itu menjadi kurang langka. Karena itu, memakai angka dunia sebagai ukuran pasti untuk keadaan pada masa Sengsara akan menyesatkan. Kita tidak memiliki data dari masa lampau yang diperlukan. Perhitungan ini tetap merupakan contoh, bukan rekonstruksi yang tepat.
Syarat ketiga berkaitan dengan keandalan tes itu sendiri. Hasil yang keliru digolongkan sebagai AB akan melemahkan seluruh penalaran. Tingkat kelengkapan dokumen juga penting: hasil Sudarium diketahui secara tidak langsung. Hasil Tunik tidak dapat ditambahkan seolah-olah semuanya telah melalui pemeriksaan yang sama.
Beberapa tulisan mengumumkan peluang yang jauh lebih kecil lagi. Namun, tulisan-tulisan itu menggabungkan kasus dengan nilai bukti yang berbeda, kadang tanpa golongan AB yang telah dipastikan. Angka-angka besar ini tidak digunakan di sini karena mencampurkan hasil dengan nilai bukti yang berbeda. Kesannya yang menakjubkan tidak menggantikan syarat-syarat yang belum terpenuhi.
Jadi, pernyataan yang kuat justru lebih sederhana. Beberapa laporan yang selaras tentang golongan darah yang jarang ditemukan sudah membentuk kesamaan yang patut diperhatikan. Laporan itu memberi alasan serius untuk mempertimbangkan sejarah yang sama, sambil tetap meminta konfirmasi tes. Namun, untuk mengenali satu orang yang sama, ciri-ciri yang jauh lebih khusus harus dibandingkan.
Mukjizat ekaristi: lima kasus, beberapa tingkat bukti
Mukjizat ekaristi yang dibahas di sini adalah perubahan fisik luar biasa yang berkaitan dengan hosti yang telah dikonsekrasi. Iman Katolik menyatakan kehadiran Kristus ini bahkan ketika tidak terjadi perubahan yang terlihat.
Dalam kasus-kasus yang diteliti, potongan yang menjadi merah atau tampak seperti daging telah diperiksa. Para pendukung relikui membandingkan hasil ini dengan darah yang dilaporkan pada kain-kain tersebut. Perbandingan ini memerlukan ketelitian dokumen yang sama. Lima kasus yang sering dikutip tidak memberikan lima konfirmasi golongan AB.
Kasus tertua adalah Lanciano, di Italia. Kisahnya menempatkan perubahan hosti menjadi daging dan anggur menjadi gumpalan darah sekitar tahun 750. Bahan-bahan yang disimpan diperiksa oleh Odoardo Linoli. Laporannya pada 1971 mengidentifikasi jaringan jantung manusia dan menyimpulkan golongan AB.[27]
Jaringan jantung adalah bahan yang menyusun jantung. Jadi, identifikasi ini berkaitan dengan jenis daging yang diperiksa. Penentuan golongan darah adalah hasil lain dalam laporan tersebut. Pemeriksaan baru oleh Linoli pada 1981 menghasilkan kesimpulan yang sama.[28]
Buenos Aires adalah kasus yang berbeda. Pada 1996, sebuah hosti yang ditempatkan dalam air menjadi merah. Analisis melaporkan jaringan jantung dan darah manusia. Namun, golongan AB, yang sering disebut dalam paparan populer, tidak dipastikan dalam sumber-sumber yang telah diperiksa dan digunakan oleh penelitian ilmiah terbaru.[29]
Di Tixtla, Meksiko, peristiwanya terjadi pada 2006. Keberadaan hemoglobin manusia dipastikan. Hemoglobin adalah unsur khas darah. Golongan AB dilaporkan, tetapi tanpa publikasi terperinci yang memungkinkan pemeriksaan yang semestinya.
Di Sokółka, Polandia, kasusnya menyangkut hosti yang berubah pada 2008. Pemeriksaan melaporkan jaringan jantung dengan tanda-tanda penderitaan. Di Legnica, juga di Polandia, peristiwanya terjadi pada 2013. Jaringan jantung dan DNA manusia dilaporkan ditemukan.
Untuk dua kasus terakhir ini, tidak ada golongan AB yang dipastikan dalam sumber yang telah diperiksa. Pengamatan tentang daging tetap memiliki nilai tersendiri. Hanya saja, pengamatan itu tidak dapat melengkapi rangkaian hasil golongan darah. Mengatakan “jaringan jantung” tidak sama dengan mengatakan “darah AB”.
Jadi, hasil akhirnya jelas. Lanciano memberikan hasil AB yang telah diterbitkan. Tixtla memberikan hasil AB yang dilaporkan. Buenos Aires, Sokółka, dan Legnica tidak dapat dihitung sebagai konfirmasi yang telah dipastikan untuk golongan ini.
Pembedaan ini menjaga kekuatan bukti yang sebenarnya. Jaringan jantung yang dilaporkan dalam beberapa kasus tetap mengesankan. Hubungannya dengan Sengsara juga patut mendapat perhatian. Namun, belum ada perbandingan yang cukup teliti yang menunjukkan bahwa berbagai bahan ini berasal dari satu orang.
Keberatan tentang bakteri dan jawaban yang diberikan
Kritik modern utama diajukan oleh Kelly P. Kearse, seorang ilmuwan Katolik. Artikelnya terbit pada 2024 dalam sebuah jurnal ilmiah. Ia tidak mempersoalkan nilai rohani relikui. Ia memeriksa apa yang benar-benar dapat dinyatakan berdasarkan tes.[30]
Beberapa bakteri memiliki struktur yang menyerupai penanda yang dicari untuk menentukan golongan darah. Zat dalam tes kemudian dapat bereaksi tanpa mengenali asal yang tepat. Tes memberi hasil positif, tetapi hasil itu menyesatkan.
Kesulitan ini terutama menyangkut benda-benda kuno yang telah lama dipamerkan dan dipegang banyak orang. Kata kontaminasi di sini berarti masuknya bahan asing ke permukaan benda. Bahan itu dapat berupa bakteri atau jejak yang ditinggalkan orang. Jadi, hasil pemeriksaan saat ini belum tentu berasal dari jejak kuno yang dicari.
“Antigen AB tidak unik pada sel darah merah manusia: antigen tersebut juga diekspresikan oleh bakteri, yang menyediakan hubungan praktis antara objek yang begitu beragam. Sebuah sampel dengan demikian dapat menghasilkan tes positif untuk AB tanpa satu pun sel darah merah hadir.”
Kelly P. Kearse.[31]
Ini bukan keberatan yang dibuat-buat untuk menyingkirkan relikui. Adler sendiri, yang ikut mengidentifikasi darah pada Kain Kafan, pernah menyebut risiko ini. Pada Sudarium, reaksi yang sesuai dengan B bahkan diamati di daerah tanpa noda. Pengamatan ini menuntut pemeriksaan tambahan.
Jawaban para pendukung mencakup beberapa hal. Pertama, tidak semua pemeriksaan terbatas pada reaksi A atau B. Pemeriksaan itu juga mencari darah manusia dengan cara lain. Lucotte bahkan melaporkan DNA yang diekstraksi dari sel manusia pada Tunik.
Bakteri tidak menghasilkan DNA manusia tersebut. Jika usianya yang kuno dapat dikonfirmasi, DNA itu akan menjadi unsur penting untuk menentang penjelasan yang sepenuhnya bertumpu pada bakteri. Namun, adanya DNA manusia tidak otomatis menyelesaikan pertanyaan tentang golongan darah. Asal setiap hasil masih harus diperiksa.
Selain itu, bahan dari manusia pada masa yang lebih baru dapat menempel pada benda kuno. Karena itu, DNA yang dilaporkan Lucotte memerlukan analisis baru yang independen. Bukunya sendiri mengakui adanya jejak dari masa yang lebih baru. Dengan demikian, keberatan tentang bakteri memiliki keterbatasan, tetapi belum terbantahkan untuk seluruh bukti yang terkumpul.
Para pendukung kemudian mengingatkan adanya kontrol yang digunakan dan pemeriksaan yang diulang. Mereka terutama menekankan serbuk sari, noda, dan luka. Bakteri tidak langsung menjelaskan posisi semua jejak tersebut. Jadi, penyelidikan harus berlanjut pada seluruh petunjuk, bukan hanya pada satu reaksi kimia.
Kesulitan lain berkaitan dengan publikasi asli. Jurnal dengan peninjauan sejawat meminta para ahli lain menelaah artikel sebelum diterbitkan. Beberapa jurnal juga terdaftar dalam pangkalan data ilmiah. Menurut Kearse, sebelum 2024, tidak ada hasil lama tentang golongan darah pada ketiga kain ini yang diterbitkan dalam jurnal semacam itu.
Hasil-hasil tersebut disebarkan melalui majalah khusus, kongres, atau buku. Franco Serafini membela nilai historisnya dalam jurnal yang sama dengan Kearse pada 2025. Ia mengingatkan bahwa teknik yang digunakan pernah dipakai dalam penyelidikan lain. Ia juga menekankan perbandingan antara serat bernoda dan tanpa noda.[32][33]
Kearse menjawab bahwa keberhasilan di tempat lain tidak cukup untuk menjamin hasil yang andal pada benda-benda ini. Relikui telah lama dipegang banyak orang dan terpapar tambahan bahan asing. Karena itu, kondisi penyimpanannya memerlukan pemeriksaan khusus.[34]
Perdebatan tetap terbuka, dengan argumen dari kedua pihak yang dapat diperiksa. Publikasinya akhirnya memungkinkan pembahasan ini berlangsung dalam jurnal dengan peninjauan sejawat. Hal itu tidak otomatis mengesahkan setiap analisis lama.
Mengapa penentuan usia memberikan hasil yang lebih muda?
Penentuan usia bertujuan mengetahui umur sebuah benda. Penentuan usia dengan karbon 14 adalah analisis yang digunakan untuk bahan-bahan kuno seperti kain. Metode ini telah diterapkan pada ketiga relikui. Hasilnya menunjukkan usia yang lebih muda daripada zaman Yesus.
Kesulitan ini harus disampaikan dengan terus terang. Jika diterima apa adanya, tanggal-tanggal tersebut tidak mengonfirmasi asal dari masa Sengsara. Para pendukung menjawab bahwa potongan yang dianalisis mungkin telah mengalami perubahan. Seperti dalam pemeriksaan darah, kita perlu melihat apa yang benar-benar diukur.
Untuk Kain Kafan, tiga laboratorium mengumumkan pada 1988 bahwa kain itu dibuat antara 1260 dan 1390. Hasil ini diterbitkan dalam jurnal Nature. Karena itu, hasil tersebut merupakan keberatan penting terhadap asalnya dari zaman kuno. Hasil itu belum dicabut secara resmi.[35]
Namun, sampel hanya berasal dari satu sudut kain. Raymond N. Rogers kemudian mengamati adanya kapas dan perbedaan kimia pada benang-benang dari daerah ini. Ia melihatnya sebagai jejak perbaikan. Karena itu, penelitiannya pada 2005 mendukung kemungkinan bahwa potongan tersebut kurang mewakili kain aslinya.[36]
Perbandingan dengan pakaian yang telah ditambal membantu kita memahaminya. Menentukan usia tambalan belum tentu memberi usia seluruh pakaian. Namun, harus dibuktikan lebih dahulu bahwa potongan yang dianalisis memang berasal dari perbaikan. Penjelasan ini masih diperdebatkan dan tidak dapat disampaikan seolah-olah telah diakui oleh laboratorium-laboratorium tersebut.
Pada 2022, Liberato De Caro dan timnya mengajukan penelitian lain dengan sinar-X. Metode mereka memeriksa penuaan bahan linen. Hasilnya sesuai dengan usia sekitar dua ribu tahun. Hasil itu menantang penentuan usia abad pertengahan, tetapi tidak membantahnya dengan sendirinya.[37]
Untuk Tunik, dua analisis memberikan rentang waktu yang berbeda. Analisis pada 2004 menunjukkan 530 sampai 650. Analisis pada 2005 menunjukkan 670 sampai 880. Rentang waktu ini adalah perkiraan dengan batas ketidakpastian, bukan batas yang sepenuhnya pasti. Kedua rentang yang diumumkan tidak saling bertumpang tindih, sehingga memerlukan penjelasan.[38]
Para pendukung antara lain menunjuk pada potongan-potongan yang dijahit kembali di atas satin setelah Revolusi. Serafini juga menekankan bahwa kedua pengukuran dilakukan pada potongan yang sama. Penyebab tepat perbedaannya masih sulit ditentukan. Ketidaksesuaian ini melemahkan penafsiran hasil yang terlalu sederhana, tetapi tidak memberikan tanggal dari zaman kuno.[39]
Untuk Sudarium, analisis pada 1990 sama-sama mengarah ke sekitar tahun 700. Para peneliti yang mendukung keasliannya menyebut adanya partikel dari kebakaran. Sebuah penelitian memeriksa jumlah karbon yang lebih baru yang diperlukan untuk menggeser tanggal sejauh itu. Jadi, penelitian itu mengajukan kemungkinan mekanisme yang dapat mengganggu hasil.[40]
Namun, menunjukkan bahwa suatu perubahan mungkin terjadi tidak membuktikan bahwa perubahan itu benar-benar terjadi dalam jumlah yang diperlukan. Pembedaan ini sama pentingnya dengan dalam penelitian darah. Hasil penentuan usia tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak boleh dijadikan keputusan akhir tanpa memeriksa sampelnya.
Kesimpulannya tetap terbuka. Hasil-hasil terdahulu menimbulkan kesulitan nyata, dan sanggahan terhadapnya masih memerlukan pemeriksaan. Tidak satu pun pembahasan ini, dengan sendirinya, memberikan penentuan usia yang pasti dari zaman Yesus. Pengambilan sampel baru yang dipilih dengan baik akan memungkinkan kemajuan.
Penelitian yang memungkinkan langkah maju
Hal terpenting yang masih kurang adalah perbandingan langsung antara relikui-relikui tersebut. Menemukan AB berarti mengenali kategori yang sama. Untuk mengenali orang yang sama, ciri-ciri DNA yang jauh lebih khusus harus dibandingkan. Penelitian semacam ini belum diterbitkan untuk ketiga kain.
Penelitian Lucotte hanya menyangkut Tunik. Bahkan jika penelitian itu membuktikan dengan sempurna adanya darah dari satu orang, satu pertanyaan tetap belum terjawab. Apakah orang itu juga orang yang meninggalkan jejak pada Kain Kafan dan Sudarium? Tanpa perbandingan antara benda-benda tersebut, hubungannya tetap belum lengkap.
Tes yang disebut STR membandingkan bagian-bagian pendek DNA yang berulang. Penanda yang disebut HLA adalah ciri-ciri manusia lain yang diusulkan para peneliti untuk dibandingkan. Penanda di sini berarti unsur yang dapat dikenali dan dipakai untuk membandingkan jejak.
Beberapa laboratorium dapat menerima sampel dengan kode. Mereka tidak akan mengetahui dari relikui mana setiap potongan berasal. Metode ini mengurangi risiko bahwa harapan akan suatu hasil memengaruhi pemeriksaan. Dalam penelitian tersamar ganda, asal sampel dirahasiakan dari orang-orang yang melakukan dan menilai tes.
Rangkaian penelitian baru juga harus membedakan penanda darah manusia dari struktur bakteri yang mirip. Penelitian itu harus memisahkan jejak kuno dari bahan yang ditambahkan pada masa lebih baru. Untuk penentuan usia, peneliti memerlukan potongan yang jauh dari bagian yang diperbaiki. Keadaan kimia serat juga harus diperiksa pada saat yang sama.
Terakhir, metode, kontrol, dan hasil terperinci harus diterbitkan. Tim lain kemudian dapat membahasnya dan mencoba menghasilkan ulang hasilnya. Kepercayaan tidak lagi hanya bertumpu pada reputasi seorang peneliti. Kepercayaan itu akan bertumpu pada penelitian yang dapat diperiksa.
Bahkan identitas biologis yang sama tidak cukup, dengan sendirinya, untuk menyebut nama Yesus. Hal itu pertama-tama akan menunjukkan bahwa beberapa jejak berasal dari orang yang sama. Identifikasi secara historis masih memerlukan pengaitan hasil tersebut dengan sejarah benda-benda itu dan luka-lukanya.
Penyelidikan ini menyangkut bahan yang diperiksa. Untuk mengakui suatu mukjizat, Gereja juga memeriksa apakah peristiwa itu dapat diterima sebagai tanda yang diberikan Allah. Kedua pendekatan dapat saling berdialog tanpa dicampuradukkan. Bagi para pendukung relikui, meminta tes yang lebih baik adalah cara menanggapi petunjuk dengan serius.
Tanda-tanda yang menuntun kepada Kristus
Gereja membedakan nilai penting relikui dari dasar iman. Dogma adalah kebenaran yang diminta Gereja untuk diimani oleh umat Katolik. Keaslian Kain Kafan, Sudarium, atau Tunik bukanlah dogma. Penghormatan terhadapnya termasuk dalam berbagai cara berdoa dan mengungkapkan iman.[41]
Pandangan kita tidak berhenti pada kain, peti, atau noda. Pandangan itu diarahkan kepada Kristus dan Sengsara-Nya. Santo Agustinus menjelaskan arti tanda sebagai berikut:
“Tanda memang adalah sesuatu yang, selain kesan yang dihasilkannya pada indra, dengan sendirinya membuat orang memikirkan sesuatu yang lain.”
Santo Agustinus, De Doctrina Christiana, buku II, bab 1.[42]
Dengan kata lain, kain itu menarik pandangan kita, lalu membuat kita memikirkan Kristus. Hal ini tidak mengurangi pentingnya kebenaran tentang benda itu sendiri. Menyelidiki apakah sebuah benda benar-benar pernah menyentuh Yesus tetap merupakan pertanyaan yang wajar. Namun, kehidupan Kristiani tidak bergantung pada hasil sebuah tes. Kehidupan itu bertumpu pada Kebangkitan Kristus, yang diwartakan oleh para Rasul.
“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia juga kepercayaan kamu.”
Santo Paulus, 1 Korintus, 15, 14, Bible de Jérusalem.[43]
Paulus kemudian menyatakan bahwa Kristus telah bangkit. Ia tidak mengajukan penentuan golongan darah sebagai dasar pewartaan ini. Karena itu, peninjauan kembali analisis pada masa mendatang tidak akan mengubah iman Katolik. Yang akan berubah adalah penilaian kita atas beberapa petunjuk fisik.
Kebebasan ini memungkinkan kita menerima hasil yang mendukung dengan rasa syukur, sambil melanjutkan pemeriksaan yang diperlukan. Sikap ini juga berlaku untuk penyelidikan tanda-tanda fisik lainnya, seperti Bunda Maria dari Guadalupe. Rasa kagum dan pemeriksaan yang cermat dapat berjalan bersama.
Santo Alfonsus de Liguori mengajak kita merenungkan luka-luka Kristus sebagai jalan menuju hati-Nya. Di sana, ia mengajak kita menemukan kasih yang tak terbatas.[44] Pada akhirnya, kain-kain Sengsara menuntun kita kepada kasih inilah. Jejak-jejaknya berbicara tentang penderitaan, tetapi makna Kristianinya adalah kasih yang diberikan sampai akhir.
Hal-hal yang perlu diingat
- Golongan AB jarang ditemukan. Menemukannya pada beberapa benda patut mendapat perhatian.
- Tidak semua hasil memiliki nilai bukti dokumen yang sama.
- Lanciano memiliki hasil AB yang diterbitkan; Tixtla memiliki hasil yang dilaporkan.
- Serbuk sari, noda, dan luka memberikan kesesuaian penting lainnya.
- Bakteri dapat menyebabkan hasil beberapa tes menjadi keliru. Kontrol tetap mutlak diperlukan.
- Belum ada pemeriksaan perbandingan yang diterbitkan yang mengidentifikasi orang yang sama pada ketiga kain.
- Hasil penentuan usia masih diperdebatkan. Iman Katolik tidak bergantung pada hasil akhirnya.
Bukti yang terkumpul lebih kaya daripada sekadar angka yang mengejutkan. Di dalamnya ada darah manusia, laporan golongan AB yang selaras, tumbuhan, dan bentuk-bentuk luka. Kesesuaiannya memberi dugaan kuat bahwa benda-benda itu memiliki sejarah Sengsara yang sama. Dengan kata lain, kesesuaian ini memberi alasan untuk berpikir bahwa benda-benda tersebut mungkin terkait dengan kisah yang sama. Namun, hal itu belum membuktikan asal biologis yang sama maupun bahwa orang tersebut adalah Yesus.
Jadi, kita dapat tertarik pada relikui sambil tetap menuntut ketelitian ilmiah. Kita juga dapat mengakui keterbatasan analisis tanpa menghapus kesesuaian yang telah diperlihatkannya. Orang beriman dapat menerima petunjuk-petunjuk ini sebagai tanda yang diberikan Allah untuk mengarahkan pandangannya kepada Kristus. Iman tidak bergantung pada konfirmasi petunjuk tersebut.
Bagi peziarah, kain-kain ini terutama mengarahkan perhatian kepada Yesus. Kain-kain itu mengingatkan bahwa Sengsara dialami dalam tubuh yang nyata, dengan luka-luka yang nyata. Ilmu pengetahuan dapat membantu menjelaskan jejak-jejak ini. Namun, yang diajak untuk kita renungkan tetaplah kasih Kristus, yang telah memberikan hidup-Nya bagi kita.
Catatan dan Referensi
Perkiraan umum yang lazim digunakan. Data donor darah: Palang Merah Amerika, AB sekitar 4 %; Établissement français du sang, AB sekitar 3 sampai 4 % di Prancis. Untuk populasi Yahudi modern: Mourant, Kopeć dan Domaniewska-Sobczak, The Distribution of the Human Blood Groups and Other Polymorphisms, Oxford University Press, 1976, sekitar 7 %. Rata-rata modern ini tidak memberikan frekuensi yang tepat pada zaman Yesus.
1 26Jean-Christian Petitfils, Le Saint Suaire de Turin : Témoin de la Passion de Jésus-Christ, Tallandier, Paris, 2022.
2John H. Heller dan Alan D. Adler, A Chemical Investigation of the Shroud of Turin, Canadian Society of Forensic Science Journal, vol. 14, no. 3, 1981, hlm. 81-103.
3 9Janice Bennett, Sacred Blood, Sacred Image: The Sudarium of Oviedo, New Evidence for the Authenticity of the Shroud of Turin, Libri di Sant'Anselmo Inc., 2001.
4José Delfín Villalaín Blanco, Estudio anatomo-forense del Sudario de Oviedo, prosiding Kongres Internasional Pertama tentang Sudarium Oviedo, 1994, diterbitkan pada 1996.
5André Marion dan Gérard Lucotte, Le Linceul de Turin et la Tunique d'Argenteuil : Le point sur l'enquête, Presses de la Renaissance, Paris, 2006. Buku untuk pembaca umum yang tidak ditelaah seperti artikel jurnal ilmiah dengan peninjauan sejawat.
6 8 22 38Wikipédia, “Tunique d'Argenteuil”, versi yang diakses pada 19 Mei 2026. Sumber sekunder yang antara lain menyebut keberatan tentang arah pilinan benang.
7Pierluigi Baima Bollone, M. Jorio dan A. L. Massaro, Identificazione del gruppo dei sangue delle tracce di tipo ematico della Sindone, Sindon, no. 31, 1982, hlm. 5-9.
10Pierluigi Baima Bollone, M. Jorio dan A. L. Massaro, La dimostrazione della presenza di tracce di sangue umano sulla Sindone, Sindon, no. 33, 1984, hlm. 9-13.
11Franco Serafini, Un cardiologue rencontre Jésus, Artège, 2025, hlm. 203. Uraian tentang perbandingan reaksi serat bernoda dan tanpa noda dalam analisis Baima Bollone.
12 33Mark Guscin, The Sudarium of Oviedo: Its History and Relationship to the Shroud of Turin, shroud.com, 1998. Sumber sekunder untuk penentuan golongan darah Sudarium dan hasil penumpangan gambar oleh Whanger.
13 17 21Pastor Jean de Massia, Enquête sur les reliques de la Passion (3/7) : La sainte tunique du Christ, Claves, 10 Maret 2023. Sumber kutipan Gérard Lucotte.
14Max Frei-Sulzer, Nuovi risultati nell'esame dei pollini sulla Sindone, La Sindone, Scienza e Fede, prosiding Kongres Internasional Kedua, Bologna, 1981.
15Avinoam Danin, Alan D. Whanger, Uri Baruch dan Mary Whanger, Flora of the Shroud of Turin, Missouri Botanical Garden Press, 1999.
16Carmen Gómez Ferreras, Análisis polínico del Sudario de Oviedo, prosiding Kongres Internasional Pertama tentang Sudarium Oviedo, 1994.
18Wilayah persebaran alami Pistacia palaestina: Mediterania timur, Turki, Siprus, dan Levant. Lihat rangkuman tentang genus Pistacia dalam Ecography, DOI: 10.1111/ecog.01496, dan Plants of the World Online, Royal Botanic Gardens, Kew.
19Wilayah persebaran alami Tamarix hampeana: Mediterania timur, dengan persebaran sampai ke Sisilia dan Albania. Lihat buku flora Aegea utara, lembar informasi Royal Horticultural Society, dan proyek BioEngine Plants, EUNIS F9.3133.
20Pierre Barbet, La Passion de N.-S. Jésus-Christ selon le chirurgien, Dillen, Issoudun, 1950, beberapa kali diterbitkan ulang.
23 24Pandangan yang dibela secara terbuka oleh Heinrich Pfeiffer, diumumkan di Roma pada 1999 dan disampaikan kembali dalam Il Volto Santo di Manoppello, Carsa Edizioni, Pescara, 2000. Perbandingan disampaikan dalam bentuk parafrasa.
25Odoardo Linoli, Histological, immunological and biochemical studies on the flesh and blood of the eucharistic miracle of Lanciano (8th century), Quaderni Sclavo di diagnostica clinica e di laboratorio, vol. 7, no. 3, 1971, hlm. 661-674.
27Odoardo Linoli, pemeriksaan baru yang dipaparkan kepada para Saudara Dina Konventual di Lanciano pada 1981, yang mengonfirmasi hasil 1971.
28Kelly P. Kearse, The relics of Jesus and Eucharistic miracles: scientific analysis of shared AB blood type, Forensic Science, Medicine and Pathology, Springer Nature, diterbitkan daring pada 9 November 2024, vol. 21, no. 3, 2025, hlm. 1507-1510. DOI: 10.1007/s12024-024-00915-3. PMID: 39520651.
29 30 31Franco Serafini, Praising a glorious page of forensic pathology: a reply to Kelly Kearse, Forensic Science, Medicine and Pathology, diterbitkan daring pada 22 Maret 2025. DOI: 10.1007/s12024-025-00996-8.
32Kelly P. Kearse, Scientific analysis of shared AB blood type among relics and eucharistic miracles: A reply to Franco Serafini's commentary, Forensic Science, Medicine and Pathology, April 2025. PMID: 40234367.
34P. E. Damon, D. J. Donahue, B. H. Gore dan lainnya, Radiocarbon dating of the Shroud of Turin, Nature, vol. 337, 16 Februari 1989, hlm. 611-615.
35Raymond N. Rogers, Studies on the radiocarbon sample from the shroud of turin, Thermochimica Acta, vol. 425, 20 Januari 2005, hlm. 189-194. DOI: 10.1016/j.tca.2004.09.029.
36Liberato De Caro dan rekan-rekan, X-ray Dating of a Turin Shroud's Linen Sample, Heritage, vol. 5, no. 2, 11 April 2022, hlm. 860-870. DOI: 10.3390/heritage5020047.
37Franco Serafini, Un cardiologue rencontre Jésus. Les miracles eucharistiques à l’épreuve de la science, Artège, 2025, hlm. 132-133.
39Centro Español de Sindonología, penelitian tentang penentuan usia Sudarium dan partikel dari kebakaran Cámara Santa, dipaparkan pada Kongres Internasional Kedua tentang Sudarium, Oviedo, 2007.
40Catéchisme de l'Église catholique, §1674, tentang bentuk-bentuk kesalehan populer, termasuk penghormatan relikui. Keaslian suatu relikui tertentu tidak disajikan di sana sebagai kebenaran iman yang wajib dipercaya.
41Santo Agustinus, De Doctrina Christiana, La Doctrine chrétienne, buku II, bab 1, De signis.
42Santo Paulus, 1 Corinthiens, 15, 14, Bible de Jérusalem.
43Santo Alfonsus Maria de Liguori, Méditations sur la Passion de Jésus-Christ, berbagai edisi. Tema luka-luka sebagai jalan menuju hati Kristus disampaikan dalam bentuk parafrasa. Tidak ada rumusan kata demi kata yang dikaitkan dengan bab atau halaman tertentu.
44